Image Slider

Pokoknya Harus Bisa

Di daerah Bulu ada dua orang mantan kepala desa yang sudah sepuh (mbah). Yang satunya mantan kepala desa Lambangan Wetan, yang satunya mantan kepala desa Lambangan Kulon. Mantan kepala desa Lambangan Kulon kebetulan seorang kiai yang biasa mengisi acara pengajian dimana-mana. Sedangkan mantan kepala desa Lambangan Wetan, meskipun bukan kiai dan tidak biasa mengisi pengajian tetapi namanya terkenal sebagai tokoh masyarakat yang dihormati karena waktu menjadi kepala desa sangat dicintai oleh rakyatnya.

Suatu ketika mbah mantan Lambangan Wetan kedatangan tamu dari luar daerah, dari daerah Cepu. Si tamu membawa bungkusan yang olehnya sendiri dibawa dan diletakkan di belakang penyekat ruang tamu dengan ruang dalam. Setelah itu baru duduk saling menanyakan kabar baru kemudian si tamu menyampaikan maksud kedatangannya.

“Pertama,” kata si tamu. “Kami datang untuk silaturrahim. Kedua, kami disuruh jamaah Randu Blatung, Cepu menghendaki kehadirannya untuk mengisi pengajian Isra’ Mi’raj di Randu Blatung. Kapan Bapak kiai bisanya, jamaah menyerahkan asal pada bulan Rajab”.

Tentu saja, mbah mantan Lambangan Wetan, langsung mengerti bahwa tamunya salah alamat. Tentu yang dimaksud ini adalah mantan Lambangan Kulon. Tapi, karena mbah mantan Lambangan Wetan tidak mau membikin malu tamunya, apalagi sudah meletakkan bungkusannya di belakang dan kebetulan kiai yang mantan kepala desa Lambangan Kulon masih keponakannya, maka mbah mantan Lambangan Wetan memutuskan untuk tidak membuka dirinya. Bahkan beliau menirukan gaya para mubaligh. Diambilnya penanggalan (kalender) dilihat bulan Rajab. “Saya bisa hari ini” sambil menujuk tanggal. “Sampeyan catat saja tanggal sekian”.

Setelah selesai mencatat segala macam si tamu pun pamit pulang dengan mengucapkan segala terima kasih. Begitu tamunya pergi, mbah mantan kepala desa Lambangan Wetan tertawa ngakak.

Besoknya mbah mantan kepala desa Lambangan Wetan datang ke tempat keponakannya, mantan kepala desa Lambangan Kulon yang mubaligh itu. Begitu datang beliau (mbah mantan kepala desa Lambangan Wetan) menyodorkan tanggal dan hari.

“Kamu hari ini, tanggal ini, kamu harus datang untuk mengisi pengajian Isra’ Mi’raj. Bisa ‘kan?”

Mantan kepala desa Lambangan Kulon pun melihat catatannya. “Bisa”.

“Sudah nanti datang saja di masjid di Randu Blatung. Kamu harus bisa, soalnya gula dan tehnya sudah dikasihkan saya”.


Judul asli: Mbah Mantan Oleh Akhmad Fikri AF. dalam buku TawaShow di Pesantren halaman 35-37. Penerbit Pustaka Pesantren (2005)

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga