Image Slider

Kiai Pandji: Pengurus Harus Belajar pada Sesepuh NU Ambunten

Ambunten, NU Online Sumenep

Dalam kegiatan Silaturrahim Penguatan MWCNU dan Ranting NU se-Kecamatan Ambunten, Ahad (30/01/2022) di Pondok Pesantren Buhurul Fawaid Ambunten, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep KH A. Panji Taufiq meminta pengurus NU belajar banyak pada sesepuh NU Ambunten zaman dahulu yang mampu menggerakkan kekuatan jamaah dalam bimbingan kiai.

“Para kiai pendahulu di Ambunten mampu menata jamaah menjadi Jam’iyah. Ambunten dalam pusaran sejarah ke-NU-an gerakan jamaah dan jam’iyahnya luar biasa,” ujarnya.

Beliau bercerita bahwa dulu berton-ton beras, jagung, gula merah dikumpulkan oleh KH Ali Wafa dari warga masyarakat untuk dikirim kepada pasukan Sabilillah di Pamekasan sebagai bekal melawan Belanda. Salah satu kiai yang disebut beliau pengumpul bekal dari warga itu adalah Kiai Mannan Jazuli, lalu diberikan pada tokoh kunci KH Ali Wafa.

“Dulu warga tunduk patuh pada kiai berharap mendapatkan barokah. Dulu warga banyak yang buta huruf, tapi ketundukannya pada kiai luar biasa,” tuturnya.

Dinamika ke-NU-an di Ambunten sudah sejak dulu tumbuh dan berkembang. Warga mengikuti dengan kepatuhan tinggi apa kata kiai kampung.

“Sekarang banyak warga sudah tidak buta huruf lagi, banyak yang sudah sarjana. Teorinya semakin baik pendidikan semakin baik kesadaran, semakin mampu diorganisir ke dalam bentuk jam’iyah,” tambahnya.

Berbagai penataan kemasyarakatan yang dilakukan oleh NU diharapkan juga tidak menoton agar tidak menimbulkan kejenuhan dalam gerakan ke-NU-an.

“Mungkin perlu variasi penguatan Pagar Nusa melalui pencak silat. Dakwah harus disesuaikan dengan kesukaan masyarakat mengingat segmen warga yang banyak,” ucapnya.

Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk itu mengajak pengurus yang hadir untuk melihat kenyataan bahwa warga yang jumlahnya ribuan orang dalam satu ranting misalnya masih sedikit sekali jumlahnya yang bergabung di struktur NU sekalipun secara kultur amaliahnya sudah NU.

Selain itu, ia juga meminta agar membangun stuktur Pengurus Anak Ranting Nahdlatul Ulama (PAR NU) berbasis masjid dan mushalla.

“Pentingnya membentuk PAR NU melihat kenyataan bahwa gerakan Wahabi saat ini sudah ada di depan mata, bukan lagi di tanah Saudi Arabia seperti dulu. Jika dulu kiai pesantren mengirim Komite Hijas untuk dibolehkannya kebebasan bermazhab, dan berhasil sebagai peran pertama NU di kancah internasional. Sekarang Wahabi sudah terang-terangan di depan mata, mendirikan pesantren dan pondok Tahfidz guna menyebarkan ajarannya,” ujarnya.

Karena pertarungan ideologi itu tadi, maka banyak amalan masjid terutama di pinggiran kota sudah tidak sesuai amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah seperti dahulu kala.

“Itu yang mengharuskan kita untuk mengencangkan ikat pinggang menguatkan ranting dan MWCNU,” tandasnya.

Editor: Firdausi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga