Lenteng, NU Online Sumenep
Mengurus jenazah, sepintas terkesan sebagai pekerjaan yang gampang. Tapi, nyatanya tidak banyak masyarakat yang bisa dan mau mengurusi jenazah saat ada tetangganya meninggal dunia. Biasanya yang bertugas untuk mengurusi jenazah adalah orang-orang tertentu, dan itu-itu juga yang melakukan pekerjaan sosial tersebut.
“Padahal regenerasi mesti terjadi, karena yang tua pada saatnya harus diganti,” ujar Nyai Hj Dzurriyah saat Pelatihan Tajhizul Jenazah yang diselenggarakan oleh Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Lenteng di Madrasah Diniyah Miftahul Khair Banaresep Timur, Lenteng pada Rabu (09/02/2022).
Menurutnya, masyarakat khususnya generasi muda bukan hanya tidak berminat belajar mengurusi jenazah, tapi mereka juga enggan untuk menjadi perawat jenazah. Alasannya karena merawat jenazah merupakan tugas kiai kampung atau sesepuh di sekitarnya. Padahal merawat jenazah mulai dari memandikan, mengkafani, menshalati, hingga menguburkan jenazah adalah fardu kifayah.
“Artinya, kalau dalam satu lingkungan ada yang meninggal dunia, tapi di sisi lain tidak ada yang bisa dan mau merawat hingga jenazah tersebut terlantar, maka dosa semua warga di lingkungan itu,” ungkapnya.
Dirinya mengaku bersyukur bahwa hingga saat ini perawatan jenazah di kalangan NU masih bersifat sosial. Selain berpahala, merawat jenazah juga merupakan bentuk kepedulian dan tolong-menolong dalam menghadapi orang (keluarga) yang dirundung duka.
“Perawat jenazah melakukan tugasnya sebagai bentuk kepedulian sosial, niat membantu keluarga yang ditinggalkan. Malah kalau di desa-desa, yang menguburkan rebutan,” jelasnya.
Setelah penyampaian materi tentang tata cara memandikan, mengkafani, menshalati, hingga menguburkan jenazah, lalu ada praktik yang dilakukan oleh salah satu peserta guna pengetahuan yang telah didapatkan menjadi lebih berkembang.
Di tempat yang sama, Ketua LDNU Lenteng, Kiai Hamidi menegaskan, mengurusi jenazah tidak hanya untuk memenuhi kewajiban syar’i juga membangun simpati atau turut berduka bagi keluarga yang ditinggalkan.
“Bayangkan misalnya kalau tidak ada yang mengurusi jenazah, ini sekali lagi misalnya, betapa kian berdukanya keluarga yang ditinggalkan,” lanjutnya.
Ia berencana secara berkala akan menyelenggarakan Pelatihan Tajhizul Jenazah dengan lokasi berbeda agar semakin banyak orang yang bisa mengurusi jenazah. Juga yang paling diharapkan terlibat dalam pelatihan itu adalah para pemuda, agar mereka tidak hanya sibuk dengan gawai tapi juga tahu cara mengurusi jenazah dengan benar.
“Semoga terlaksana, akan kami programkan secara berkala,” pungkasnya.
Sementara itu, Sekretaris Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama(MWCNU) Lenteng, Kiai Ach Halili Shadiq menyampaikan apresiasi akan terselenggaranya kegiatan ini.
“Kami mengapresiasi atas terlaksananya kegiatan ini. Melalui kegiatan ini mudah-mudahan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, khususnya para pemuda,”
Pelatihan Tajhizul Jenazah yang diikuti 62 peserta tersebut digelar hasil kerja sama antara LDNU Lenteng dan Musimat Miftahul Khair Banaresep Timur.
Editor : Ach. Khalilurrahman

