Kota, NU Online Sumenep
Pentingnya melakukan jejaring di antara kalangan NU merupakan kekuatan besar dalam mengokohkan sanad keilmuan dan perjuangan dari para Muaassis NU dari lokal, nasional hingga mendunia.
Begitulah yang diungkapkan oleh Gus Ghafur pada Halaqah Sanad Ke-Nu-an Kiai Maimoen Zubair yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumenep di pesantren Al-Ahsan, Loteng, Karangduwak, Kota, Sumenep Jum’at (25/02/2022).
“Jejaring Nahdhatul Ulama, kalau saya bayangkan, Masya Allah luar biasa,” katanya seraya bercerita beberapa sanad keilmuan para ulama dan kiai-kiai NU pada zaman dahulu.
“Ketika ditanya sanad yang benar adalah ketika Kiai Kholil Bangkalan menyerahkan tasbih kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Itu benar benar simbol sanad,” tambahnya.
Selain menceritakan beberapa jejaring kiai kiai terdahulu, KH. Abdul Ghafur Maimoen menceritakan bahwa cara ber-NU- yang diteladankan oleh Kiai Maimoen Zubair adalah dengan tetap mengikuti keputusan pemerintah, terutama dalam penetuan awal Ramadhan dan awal Syawal.
“Walaupun saat itu NU berbeda dengan pemerintah. Itu salah satu madzhabnya NU gaya Kiai Maimun,” ungkapnya.
Selain itu, ber-NU ala Kiai Maimun, lanjut, Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU), kiai Maimun Zubair menginginkan NU untuk menjunjung tinggi nasionalisme.
“Termasuk Kiai Maimun Zubair itu senang kalau pimpinan NU itu bukan Jawa dan bukan Madura,” imbuhnya.
Terakhir beliau mengungkapkan pesan yang dipahami dari ber-NU menurut Kiai Maimun Zubair adalah dengan berharap agar Jajaran Syuriah bisa sering sering mempengaruhi Tahfidziyah bukan malah sebaliknya.
“NU tidak dimana dimana, tapi berada di mana mana. Tajallinya Syuriah harus lebih tajam dari Tahfidziyah,” pungkasnya mengutip pesan yang sering disampaikan oleh Kiai Maimun Zubair.
Editor : Ibnu Abbas

