Oleh: Lukmanul Hakim
Memasuki usia dewasa, satu per satu kawan mulai memberikan undangan pernikahan kepada kita. Bukannya tidak turut bahagia, tapi terkadang kita punya perasaan gundah dan iri yang tanpa sadar menyapa.
Ada sekelumit tanya dari seseorang kepada kita yang hinggap di pikiran, “Kapankah giliran kita yang naik ke pelaminan?” Padahal, pasangan saja belum bertemu.
Terkadang, menghadiri pesta pernikahan jadi hal yang paling ingin kita hindari. Melihat teman tersenyum bahagia di atas pelaminan membuat hati ini menginginkan rasa bahagia yang sama. Apakah saat ini kita tengah merasakan hal tersebut? Kesulitan mencari solusi untuk menghalaunya? Tenang, kita bisa menghadapinya dengan beberapa tips ampuh di bawah ini.
Akui Perasaan Iri yang Hadir, Jangan Ditolak
Saat mengalami gejolak emosi negatif, terkadang kita lupa kalau emosi tersebut merupakan bagian dari dalam diri. Emosi negatif sering kali diabaikan atau ditolak karena dianggap buruk oleh sebagian besar masyarakat. Padahal, untuk bisa menerima sebuah kenyataan, kita perlu menerima, mengakui, dan memahami kalau emosi tersebut ada dalam diri kita.
Sama halnya dengan rasa iri, jika kita merasa iri dengan pernikahan teman, maka akui saja kalau ada perasaan tersebut. Mengakui sebuah emosi negatif tidak selalu buruk. Justru, kalau kita berani mengakui akan muncul perasaan lega dan kita jadi tahu langkah apa yang harus dilakukan untuk mengendalikan rasa iri tersebut.
Fokus terhadap Kewajiban yang Belum Selesai
Usai mengakui rasa iri yang hadir dalam diri kita, saatnya kita kembali fokus dengan hal yang belum terselesaikan seperti pendidikan yang masih ingin kita raih, karir yang ingin dicapai, orang tua yang ingin kita bahagiakan terlebih dahulu, atau tanggungan adik yang masih perlu dibiayai.
Kewajiban yang mungkin membuat kita tersadar bahwa masih banyak hal yang harus kita lakukan sebelum melangsungkan pernikahan. Memang semua itu, terasa tidak ada habisnya. Akan tetapi, alangkah baiknya kita merasa ‘penuh’ terlebih dahulu daripada mengurusi perasaan iri terhadap teman yang lebih dulu menikah.
Jangan beranggapan, kalau menikah semua urusan terasa mudah dan hidup akan terlihat sempurna. Tapi, kita mengabaikan kewajiban yang harus dipenuhi. Percayalah, akan ada masanya kita berbahagia dengan apa yang kita inginkan. Jika bukan sekarang, mungkin nanti.
Luangkan Waktu untuk Memantaskan Diri
Dalam benak, kita pasti pernah mempertanyakan “Mengapa teman kita mudah sekali mendapat pasangan?”, sementara kita masih belum menemukan sosok pasangan yang tepat hingga saat ini.
Jika kita memiliki pemikiran demikian, maka saatnya meluangkan waktu untuk memantaskan diri. Ada sebuah pepatah mengatakan jodoh adalah perihal cerminan diri kita. Makanya, tidak heran beberapa pasangan yang menikah memiliki sedikit kemiripan baik karakter, kepribadian, hobi, atau paras sekalipun.
Selagi kita memiliki banyak waktu, lakukanlah proses pengenalan diri. Apa yang perlu diperbaiki dalam diri kita? Apakah yang perlu ditingkatkan dalam diri kita, entah kepribadian atau skill memasak, merawat diri, bangun lebih awal, atau membantu kedua orang tua. Coba pikirkan tentang hal-hal yang bisa membuat aura inner beauty terpancar.
Namun, ingat memantaskan diri bukan semata-mata untuk mengejar biar cepat menikah. Tapi, upaya ini dilakukan demi kebaikan diri kita sendiri dan menghindari pikiran iri soal status single yang masih melekat di diri kita, sekaligus tentunya menambah rasa percaya dirimu.
Perluas Hubungan Pertemanan dari Berbagai Kalangan
Ada kalanya kita ingin cepat menikah tapi masih suka mengurung diri di kamar, enggan membangun hubungan pertemanan dengan siapapun. Kalau masih suka seperti itu? Kini, kita perlu mengubahnya secara perlahan-lahan.
Dengan memperluas hubungan pertemanan, kita bisa mengenal dan memahami lebih banyak karakter orang lain sehingga mempermudah kita menjalin kedekatan dengan lawan jenis. Jadilah pribadi yang easy going dan mampu beradaptasi dengan siapapun sehingga lawan jenis menjadi nyaman berada di sisi kita.
Berawal dari teman cerita, teman dekat, lalu teman sehidup semati. Kita tidak akan pernah tahu, pasangan kita kelak berasal dari mana. Mungkin saja dari kenalan teman kita atau kenalan yang kita dapat dari aktivitas relawan? Biasanya, tidak jauh dari orang-orang terdekat.
Berusaha untuk Tidak Terburu-Buru
Menikah bukanlah ajang perlombaan yang harus dimenangkan lalu didapatkan trofi penghargaan dengan predikat ‘menikah paling cepat’. Hanya karena teman kita menikah lebih dulu, kita jadi terburu-buru ingin melakukan hal yang sama.
Padahal, kita belum benar-benar siap untuk menjalani biduk rumah tangga. Usahakan untuk tidak terbawa emosi dalam mengambil keputusan yang diperlukan kesiapan matang. Orang sekitar boleh berkata, “Kok, lama banget tidak nikah padahal udah lama tunangan?”, “Mana nih, calonnya kok tidak keliatan?”, “Kapan menyebar undangan?”, namun yang menjalani semua itu adalah diri kita.
Jika kita mengikuti perkataan orang lain terhadap diri kita, akan ada perkataan lain yang mengusik diri kita setelah menikah. Daripada sekadar membuktikan dan menuruti perkataan mereka, lebih baik kita menenangkan pikiran sehingga tidak salah langkah, karena menikah adalah sebuah proses hidup yang sangat sakral dan kalau bisa, sekali dalam seumur hidup.
Bebaskan Diri dari Perasaan Minder dan Galau Berlebihan
Memang, melihat teman menikah terkadang membuat diri merasa sedih dan galau karena teman kita sudah ada pendamping yang dapat menemaninya keman-mana. Sedangkan, diri kita masih sendirian atau pasangan kita terlalu sibuk dengan ‘dunianya’.
Tidak selamanya yang indah di depan mata kita sama indahnya dengan kenyataan. Sendirian bukan berarti kita kesepian. Kita bisa melakukan berbagai kegiatan yang kita suka seperti travelling, merajut, piknik di taman terbuka, staycation di pondokan yang tenang, atau membeli barang yang kita inginkan, serta hal-hal sederhana yang membuat kita kembali bahagia dengan dirimu.
Daripada membuang waktu dengan perasaan sedih dan galau berlebihan, bebaskan diri kita dari perasaan tersebut. Nikmati waktu bersama diri kita sendiri. Ayo, bahagia dengan diri kita sendiri sambil mencari pasangan yang dapat melengkapi diri kita.
Memahami Bahwa Jalan Hidup Setiap Orang Berbeda termasuk Soal Menikah
Perlu diketahui, bahwa kita tidak dapat memaksakan diri untuk menjalani hidup kita sama dengan orang lain, termasuk menikah. Kita tidak bisa membandingkan pencapaian orang lain dengan pencapaian diri kita.
Jika teman kita menikah umur 25 tahun, namun kita masih belum menikah di umur yang sama, itu merupakan hal yang wajar. Setiap orang punya jalannya masing-masing. Memang, sebagai seorang perempuan akan ada rasa khawatir terkait umur produktif kehamilan. Namun, bukan berarti kita mesti ‘berjalan’ di pace orang lain.
Segala sesuatu yang terjadi di hidup kita berjalan sesuai dengan waktu kita. Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup mereka sesuai dengan waktu mereka. Semua sudah ada timeline-nya masing-masing begitupula dengan diri kita, bersabarlah.
Belum menikah di usia yang diinginkan, namun masih bahagia itulah yang terbaik. Jangan biarkan orang lain membuat kita tergesa-gesa, mengikuti timeline mereka. Tidak semua hal dapat kita hitung secara angka.
Ubahlah sudut pandang kita bahwa pernikahan seorang teman menjadi standar diri kita dapat bahagia. Dengan memahami jalan hidup setiap orang berbeda, kita akan terhindar dari rasa iri yang berlebihan.
*) Mahasiswa Prodi PAI Program Pascasarjana Instika Guluk-Guluk, Kepala Perpustakaan Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Guluk-Guluk, Dewan Redaksi Jurnal Pentas Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Guluk-Guluk, Pengurus Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Lembung Barat, dan Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk Tahun 2014-2021.

