Image Slider

Menilik Cita-Cita Besar Nahdlatul Ulama

Oleh: Lukmanul Hakim

Tak ada yang meragukan lagi bagi warga Indonesia, bahwa organisasi Keagamaan terbesar di Indonesia adalah Nahdlatul Ulama (NU). Mereka semua masuk dalam struktural ataupun kultural NU. Tetapi pada prinsipnya bahwa hadirnya NU adalah pada ranah keagamaan, sosial kemasyarakatan, kehidupan berbangsa dan bernegara.

Cita-cita yang digarisbesarkan adalah meningkatan silaturahim antar ulama, peningkatan aktivitas keilmuan, pendidikan, meningkatan kehidupan keragaman, pembangunan sarana peribadatan, pelayanan masyarakat, dan peningkatan taraf serta kualitas hidup masyarakat.

Untuk mencapai sebuah cita-cita klasik, maka organisasi NU melakukan usaha, yakni mengadakan rangkaian kegiatan di antara ulama-ulama yang bermadzhab mengkaji kitab sebagai bahan pengajaran agama, menyiarkan agama Islam pada empat madzhab, membangun pendirian madrasah dan pesantren, memperhatikan fasilitas umat seperti masjid, pondok pesantren, dhuafa dan anak yatim, pencapaian badan untuk urusan pertanian, perniagaan, dan perusahaan yang tidak bertentangan dengan syara’, dan lainnya.

Jika melihat pada cara pencapaian cita-cita tersebut, maka sebagai warga NU, juga harus merasakan apakah gerakan selama ini telah sesuai dengan upaya yang dilakukan, seperti menemui sosial di kalangan umat, memberdayakan umat, membimbing umat untuk melakukan nyata pada bidang ibadah sosial, dan mengamalkan atta’awun, gotong royong, ukhuwah, persaudaran, dan solidaritas baik duniawi maupun ukhrawi.

Pada masalah kemiskinan misalnya, penduduk yang berada digaris kemiskinan, NU hadir dengan mendidik para kadernya untuk belajar modul sekolah anggaran Daurah. Mereka menggunakan 5 prinsip universal Al-Kulliyat Al-Khams yaitu Hifzh Ad-Din, Hifzh An-Nafs, Hifzh Al-Aql, Hifzh Mal, dan Hifzh Al-Irdh wa An-Nasl. Karena, kelima prinsip ini akan dibutuhkan di semua umat Islam dan harus dilindungi.

Pada persoalan pendidikan misalnya, ketika ada anak tidak sekolah atau dewasa tidak sekolah, NU hadir dengan gerakannya yang peduli pada upaya meningkatkan kualitas hidup generasi yang akan datang menjadi bagian dari jihad memberantas kebodohan. Namun tidak meningggalkan generasi lemah, berjuang untuk kepentingan terbaik bagi anak. Kelak anak inilah akan menggantikan estafet keilmuan para nabi dan ulama. Jika sebaliknya, maka akan lahir generasi yang lemah.

Kepedulian NU pada persoalan pendidikan melalui pendirian madrasah, majelis taklim, termasuk kontribusi adanya sekolah NU yakni Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU, dan hadirnya Rabithah Ma’ahid Al-Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU), dan sejenisnya.

Pada persoalan kesehatan, ketika ada warga yang sakit, dan mereka dari kalangan garis kemiskinan. Di sinilah NU berjuang melalui Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU). Munculnya rumah sakit NU, klinik Pratama NU, ataupun para dokter NU dan tenaga medis dari kalangan NU, memberikan kontribusi yang nyata untuk berkhidmah kepada organisasi ini. Ketika mereka bergerak dan bergotong royong saling kesetiakawanan sosial, maka sejatinya mereka ini telah berkhidmah kepada NU yang dilahirkan dari kebangkitan para ulama terdahulu.

Saat generasi mudanya berpikir kreatif dan inovatif, maka ada lembaga Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) sebuah departementasi NU yang berfungsi sebagai lembaga kajian isu-isu strategis dan pemberdayaan manusia untuk transformasi sosial yang berkeadilan dan bermartabat. Di sini para generasi muda dilatih untuk memahami isu-isu strategis terkait sosial, kemiskinan, kebijakan publik dalam lingkup lokal, nasional, dan internasional berbasis data dan kajian strategi. Wajar jika kemudian dalam urusan penggerakan dan mobilisasi sosial para generasi mudanya selalu dilatih dan diajak untuk menumbuhkan gerakan membangun khaira ummah atau masyarakat terbaik yang ideal.

Saat ini di berbagai daerah banyak pengajian di desa-desa. Yakni, pengajian seninan, selasanan, rabuan, kamisan, jum’atan, sabtunan, dan mingguan. Maka sejatinya warga NU sudah berkhidmah kepada NU dan sudah ngurip-nguripe peninggalan ulama terdahulu.

Sampai kapan pun NU tetap ada dan menyapa akar rumput. Mereka yang mengikutinya selalu berkhidmah pada ulama negeri ini yang mengajarkan ilmunya para nabi, baik lewat pesantren, ataupun kegiatan keagamaan dengan mengajarkan dakwah yang sejuk dan santun.

*) Mahasiswa Prodi PAI Program Pascasarjana Instika Guluk-Guluk, Kepala Perpustakaan Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Guluk-Guluk, Dewan Redaksi Jurnal Pentas Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Guluk-Guluk, Pengurus Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Lembung Barat, dan Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk Tahun 2014-2021.

Editor : Firdausi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga