Gapura, NU Online Sumenep
Belajar tidak mengenal berhenti. Dari setiap perjalanan kehidupan, tidak ada yang tidak mungkin selama usaha dan doa selalu mengiringi. Maka, kader NU harus memperkaya wawasan untuk memecahkan problematika zaman.
Motto itulah yang terpatri pada sosok Pengurus Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Sumenep, Kiai Fathol Haliq. Hingga akhirnya ia dapat menyelesaikan pendidikan tingkat Doktor (S3).
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dapat menyelesaikan disertasi di progam doktoral (S3) dalam bidang Psikologi di Universitas Negeri Malang (UM),” ungkap Kiai Fathol Haliq kepada NU Online Sumenep, Sabtu (02/04/2022) di kediamannya, Desa Gapura Barat, Gapura.
Sebelumnya, Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum (PPMU) Gapura Barat ini menempuh pendidikan S1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta dan S2 di Pascasarjana Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta konsentrasi Psikologi.
Aktivitas sehari-hari yang padat tidak membuatnya berhenti menuntut ilmu. Semangatnya sangat luar biasa, terutama saat penyusunan disertasinya yang berjudul ‘Model Agresi Santri: Prasangka, Konflik, Religiusitas, Agresi Santri Madura’.
“Disertasi ini ingin mendalami apakah religiusitas menjadi mediator dari prasangka, konflik dan agresi remaja santri Madura,” terangnya.
Dosen Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk ini menjelaskan, agresi yaitu kecenderungan atau perilaku yang tidak menyenangkan antarindividu baik fisik maupun verbal dan permusuhan.
“Sedangkan prasangka adalah kecenderungan negatif karena adanya bias/distorsi data dari seseorang terhadap orang lain maupun kelompok lain,” jelasnya.
Kemudian, ia menambahkan, konflik adalah perilaku antara satu orang dengan orang lain yang berpengaruh sebelum atau setelah konflik.
“Sementara religiuistas adalah sikap seseorang berkaitan dengan hubungam mikrokosmos dan makrokosmos yang mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang,” tuturnya.
Temuan Disertai
Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura ini mengungkapkan, novelty (temuan baru) bahwa prasangka, konflik, agresi fisik, dan verbal remaja santri dimediasi oleh religiusitas santri.
“Religiusitas sehari-hari remaja santri mampu menjadi intervening adanya prasangka, konflik dan agresi. Meskipun di tengah masyarakat Madura, agresi dijustifikasi, dilegalisasi, dikuatkan, serta direproduksi dengan jalan negatif (negative reproductivity way) sehingga seringkali paradoks dengan dimensi ideologis, praktis, pengetahuan, perasaan, dan efek religiusitas,” ungkapnya.
Di samping itu, menurutnya, ada perbedaan perilaku agresi santri perempuan dan laki-laki di Madura. Perbedaan ini terlihat dari bentuk agresi santri perempuan Madura.
Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk ini juga menegaskan, agresi santri dalam perilakunya seringkali ‘disembunyikan’ karena ada nilai religiusitas, kesederhanaan, kemandirian, dan menghargai perbedaan setiap santri.
“Sehingga perilaku yang disembunyikan bisa tiba-tiba muncul jika ada pemicu antarsantri, ketidaksukaan, kecemburuan, dan lainnya,” pungkasnya.
Editor : Firdausi

