Oleh : Ahmad Herzi
Pujian adalah hal yang menarik bagi setiap wanita. Terlebih lagi jika pujian itu datangnya dari kaum Adam. Tidak sedikit wanita yang rela melakukan banyak hal demi memanen pujian dari para lelaki. Wanita mana yang tidak mau dikatakan cantik atau menarik? Setiap wanita tentu menyukainya meski sebagian pandai menyembunyikan rasa sukanya.
Wajar, sekelas penyair nasional Willibrordus Surendra Broto Rendra atau WS Rendra mengatakan dalam syairnya, wajah indah dan rambutmu, menjadi pelagi cakrawala. Selain itu, muncul pula persepsi bahwa mata Indah dengan bulu lentik, menggoda hati terusik, alis teduh penuh pesona, menumbuhkan syahdu rona wanita. Begitulah syair yang terurai dalam beberapa antologi puisi.
Entah dari siapa pertama kali mencetuskan bahwa wanita cantik identik dengan glowing, putih dan mulus, dan semacamnya. Padahal Allah SWT menciptakan manusia beda kulit dan warnanya pun adalah keadilan yang nyata bagi umat manusia.
Seseorang bisa menarik hipotesa bahwa difinisi cantik itu memang dilihat dari glowing, karena memang dikutip dari bebarapa sumber bahwa orang Asia cenderung suka pada yang berkulit putih. Akan tetapi pandangan suatu bangsa bisa berbeda, seperti di Amerika Serikat misalnya yang secara historis Tren yang berlaku bagi warga di AS yang berkulit putih/pucat adalah menggelapkan kulit. Bagi mereka, inilah definisi cantik, saat kulit agak gelap atau sawo matang dari seharusnya. Yang putih ingin gelap, yang gelap ingin memutih, manusia memang susah puas.
Bisa jadi pandangan orang Afrika berbeda. Karena kebanyakan para wanita dengan pola pikirnya, seakan-akan mengamini definisi yang dibangun oleh sebagian besar pria dan industri kosmetik ini. Berbagai cara mereka lakukan demi tampil cantik. Di antaranya membeli produk kecantikan yang bisa menguras gaji suaminya selama tiga bulan atau melakukan operasi plastik yang menyakitkan dan membutuhkan banyak uang.
Namun di tengah derasnya pandangan yang mendifinisikan cantik, hanya sebatas tampilan luar, masih ada segelintir pria yang bisa memandang kecantikan wanita dengan perspektif yang lebih baik. Pria-pria langka ini dengan jujur mengatakan bahwa daya pikat seorang perempuan terletak pada otaknya.
Salah satunya adalah Soe Hok Gie. Menurut kacamatanya, kecerdasan lebih menarik dari pada tampilan luar. Perintis Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Indonesia (UI) itu berkata. “Wanita selamanya akan di bawah laki-laki, jika yang diurusi hanya kecantikan dan pakaian.”
Setali tiga uang dengan Gie, Sir Arthur Conan Doyle lewat Sherlock Holmes memandang wanita yang cerdas lagi cerdik pantas dikagumi. Bagi pecinta Novel besutan Conan Doyle imi, bukan hal yang aneh jika Sherlock Holmes memandang rendah kaum perempuan. Terlebih pada abad ke-18 dalam cerita detektif itu, isu gender sedang kuat berhembus. Wanita tidak lebih dari makhluk kelas dua dengan intelegensia yang boleh dikatakan menyedihkan. Demikianlah pandangan Holmes.
Sampai pada akhirnya ia mengubah pandangannya terhadapa perempuan setelah di episode Skandal di Bohemia. Sang detektif yang tak pernah kalah sekalipun untuk pertama kalinya di pecundangi oleh seorang wanita yg bernama Irene Adler. Sejak saat itu Sherlock Holmes mengubah pandangannya tentang wanita yang selalu menganggap wanita yang memiliki kecerdasan tinggi adalah wanita istimewa. Memang betul Novel Sherlock Holmes adalah fiksi, tetapi setidaknya pandangan wanita ini adalah buah pemikiran dari sang pencipta tokoh fiktif ini yaitu sir Arthur Conan Doyle.
Indonesia memiliki sosok Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat yang senantiasa berusaha, tangguh dan ikhlas mengabdikan hidupnya untuk kepentingan banyak orang melalui segala rasa cinta yang ada dalam hatinya dan segala bakti yang diamalkannya. Kartini yang cerdas dan berakhlak mulia adalah sosok pelajar dan pembelajar serta pejuang kebebasan hak perempuan, mencipta dunia baru menjadi lebih setara melalui goresan pena.
Pahlawan Nasional yang dikenal ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ membuktikan bahwa wanita tak kalah dengan laki-laki yang memiliki spirit atau daya juang dan pengabdian tinggi, serta yakin terhadap kemampuan yang dimiliki. Saat ini tidak lagi mempermasalahkan perbedaan gender karena perempuan maupun laki-laki memiliki kesempatan yang sama.
Di sisi lain, Islam sendiri banyak kisah bagaimana keistimewaan seorang wanita yang memiliki kecerdasan, dan tentunya juga akhlak mulia. Dalam kitab Durratun Nashihin diceritakan, banyak ulama panutan dan ternama — di zamannya — yang terpikat hatinya pada Rabi’ah al-Adawiyah. Satu di antaranya adalah Imam Hasan al-Bashri, sosok ulama panutan.
Tidak perlu panjang lebar kisah bagaimana sang imam melamar sang sufi wanita yang melegenda tersebut, tetapi saat melihat dari kisah ini bisa menarik benang merah bahwa keagungan seorang wanita sebenarnya terletak pada akhlak yang mulia dan juga kecerdasan yang luar biasa. Dengan memiliki intelegensi yang tinggi dan akhlak mulia, menjadi penentu generasi bangsa. Spirit dan keikhlasan itulah yang menjadikan perempuan memiliki prinsip hidup yang kuat dalam bermasyarakat.
*) Kabid IT TVNU Sumenep
Editor : Firdausi

