Oleh: Aldi Hidayat
11 tahun berlalu KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur meninggalkan kita. Meski begitu, ingatan rakyat tentangnya masih segar, khususnya ketika Virdika Rizki Utama meluncurkan buku provokatifnya yang amat berani bertajuk “Menjerat Gus Dur”. Buku ini mengungkap aneka fakta yang bertungkus lumus di balik tragedi pelengseran Gus Dur dari kursi kepresidenan. Tak ayal, dalam waktu singkat, buku tersebut ludes di pasaran.
Tulisan basa-basi ini hendak memotret sisi lain tragedi tadi. Penulis menyebutnya basa-basi, lantaran tulisan ini biasa saja, tetapi semoga saja berarti. Nun jauh pada periode awal Islam, ‘Ali ibn Abi Thalib karramallahu wajhahu berpesan:
الحق بلا نظام يغلبه الباطل بنظام
“Kebenaran yang tak teratur akan dikalahkan oleh kebatilan yang teratur”.
Pernyataan ini amat selaras dengan tragedi dimaksud. Lengsernya Gus Dur dari kursi kepresidenan adalah potret betapa kebatilan yang diorganisir sedemikian apik nan massif berpotensi besar menghancurkan singgasana kebenaran. Bermula dari keberanian Gus Dur memecat Jusuf Kalla, segenap pihak pemerintahan bersekongkol dengan menerapkan berbagai cara guna menggulingkan Gus Dur. Dari paparan singkat ini, ada dua poin yang akan penulis selami lebih lanjut.
Pertama, kerja sama adalah kunci kesuksesan, meski tujuannya biadab. Dalam hal ini, kita bisa ambil contoh lain. Adolf Hitler, sang legenda kekejaman dunia yang telah membinasakan 6-7 juta umat Yahudi. Tokoh ini gencar mengampanyekan anti-Yahudi, kendati landasan dan alasannya tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Terbukti, Ali Mukti dalam tulisannya, “Antara Budaya, Komunikasi dan Hoax”, memaparkan betapa anti-Yahudi ala Hitler sejatinya berakar dari alasan yang hoax. Dari fenomena ini, muncul ungkapan, “kebohongan yang terus-menerus akan menjadi kebenaran”. Melalui kerja sama yang apik antara Hitler dan segenap koleganya disertai kampanye secara massif, kebohongan tersebut akhirnya mengemuka sebagai bencana kemanusiaan paling mengerikan sepanjang masa.
Kedua, kuasa. Mengapa Gus Dur bisa dilengserkan segenap pemerintah yang secara jumlah bagai sebutir debu di tengah-tengah jutaan rakyat Indonesia? Jawabannya sederhana, yaitu bahwa mereka memiliki kuasa. Kuasa membuat mereka leluasa memonopoli kebenaran, sehingga yang bersarang di otak rakyat akhirnya kesalahan dan kebohongan. Di sini kita akan berjumpa dengan teori kuasa Mitchel Foucault. Foucault menyatakan bahwa pengetahuan memiliki relasi intim dengan kekuasaan. Gampangnya, jika Anda hidup di lingkungan radikal, maka besar kemungkinan untuk tidak menyebut pasti tertanam pengetahuan bahwa Pancasila adalah asas negara yang sesat. Mengapa? Karena Anda berada dalam lingkungan yang dikuasai radikalisme. Akibatnya, pengetahuan Anda rawan menjustifikasi apa yang disuarakan radikalisme.
Dua poin di atas adalah modal dalam mengubah wajah bangsa. Bilamana kita hendak membangun bangsa dari segenap sisi, maka kerja sama dan kuasa mutlak dibutuhkan. Kerja sama mewujud dalam gerakan kultural. Penguatan kesatuan masyarakat melalui budaya, tradisi dan lain sebagainya. Tidak cukup di situ, ranah kekuasaan juga mesti dimasuki. Karenanya, beberapa kiai terjun dalam politik. Pasalnya, kekuatan sosial-kultural tanpa kekuatan politik ibarat rumah tanpa atap. Ia berdiri kokoh, tapi tidak punya pelindung dari panasnya kekuasaan kaum elit. Sebaliknya, kekuatan politik tanpa kekuatan sosial-kultural ibarat atap tanpa rumah yang tentu saja takkan berdiri tegak. Artinya, kekuatan politik yang tidak disetujui seluruh rakyat bakal melahirkan pemberontakan.
Terakhir, ada pepatah Arab yang penting dihayati:
من صحب السلطان بالصدق والأمانة أكثر عدوا ممن صحبه بالكذب والخيانة
“Barangsiapa aktif dalam kekuasaan secara jujur dan amanat rentan mendapat musuh yang lebih banyak ketimbang dia yang aktif secara bohong (curang) dan khianat”.
Para pencinta kebenaran takkan menghiraukan ancaman ini. Prinsip mereka adalah “jangan benarkan kebiasaan, tapi biasakan kebenaran!”. Meski politik biasa dengan licik dan picik, mereka tidak terbawa arus ini. Mereka tetap berjuang menegakkan kebenaran, meski musuh-musuh mengintai di sekitarnya. Wallahu A’lam.
*) Staff Pengajar di MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk

