Giligenting, NU Online Sumenep
KH Ghazi Mubarak Idris, Mudir Tarbiyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (TMI) Al-Amien Prenduan mengatakan, istilah halal bihalal disampaikan pertama kali oleh muassis Nahdlatul Ulama (NU), yakni KH Abdul Wahab Chasbullah dalam pertemuannya dengan Presiden Republik Indonesia (RI) ke-1, Soekarno saat lebaran Idul Fitri. Kemudian istilah tersebut berlanjut hingga hari ini.
Pernyataan tersebut disampaikan saat Halal Bihalal dan pengukuhan pengurus Ikatan Keluarga Besar Al-Amien Prenduan (Ikbal) Koordinator Kecamatan (Korcam) Giligenting, Ahad (08/05/2022) di kediaman Haripli, Gedungan, Giligenting.
Ia mengimbau, setelah melaksanakan ibadah puasa, seluruh alumni dituntut untuk memperbaharui semangat beribadah dan menjalankan amal kebaikan. Salah satunya adalah halal bihalal sebagai media silaturrahim.
“Ikbal sebuah ikatan yang tidak hanya terdiri dari alumni ataupun santri. Wali santri, keluarga santri dan masyarakat yang sejalan dengan kaidah Islam,” ujarnya saat menyampaikan tausiyah.
Kiai Halimi Ilyas, Penasehat Ikbal Giligenting mengajak untuk menjadikan Giligenting sebagai kepulauan yang masyhur dengan julukan pulau santri. Mengingat acara-acara keagamaan sangat massif digalakkan oleh santri yang menuntut ilmu di berbagai pondok pesantren.
“Giligenting tak hanya terkenal dengan wisata pantai sembilannya. Tetapi dikenal dengan pulau santri,” tegasnya.
Acara dihadiri oleh Rais Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Giligenting, KH Zuhdi Salim, pengurus Korda Ikbal Sumenep, tokoh agama, dan masyarakat serta jajaran masyaikh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.
Editor : Firdausi

