Kota, NU Online Sumenep
Film Basiyat yang merupakan karya salah seorang santri alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, mampu menepis anggapan bahwa pendidikan di pesantren hanya bergelut dengan keagamaan.
Sutradara Film Basiyat, Ahmad Faiz mengatakan pengalaman dan ilmu pengetahuan tentang seni ia dapatkan selama nyantri Pesantren Annuqayah, tepatnya di daerah Kusuma Bangsa. Keaktifannya di sanggar selama di pesantren, menjadi cikal-bakal Faiz fokus mendalami seni perfilman selama kuliah.
“Beberapa kalangan beranggapan bahwa alumni pesantren hanya bergelut dengan aspek keagamaan. Dengan ini kan mematahkan stereotip tersebut,” ujarnya kepada NU Online Sumenep, Selasa (17/5/2022).
“Dulu ketika aku mondok di Annuqayah daerah Kusuma Bangsa, ikut Sanggar Basmalah di Lubangsa Selatan dan di sana aku belajar tentang seni pertunjukan yang kemudian membawaku merambat ke kesenian film dan aku tekuni melalui jalur akademisi,” imbuhnya.
Pria asal Kecamatan Ganding itu menambahkan, bahwa sejatinya pesantren mewadahi segala potensi dan bakat yang ada pada diri setiap santri. Baik dalam hal ilmu keagamaan maupun ilmu pengetahuan umum.
“Stereotip tentang santri yang dibilang mlempem di ranah keagamaan saja, ngga juga. Santri akan mendapatkan apa yang didamba karena syafaat pengasuh dan masyaikh. Menjadi kyai ataupun seniman seniman asalkan di jalan yang Tuhan restui dan ridhoi insyaallah masih diberkahi,” tegasnya.
Film Basiyat yang diproduksi Sinemadura ini merupakan gubahan dari karya seorang cerpenis senior M Shoim Anwar berjudul ‘Mandikan Mayatku dengan Tuak’. Kemudian dilakukan kerjasama dengan penulis. Guna melengkapi beberapa data di lapangan sebagai bahan pembuatan naskah, pihaknya melakukan riset.
“Kami melakukan riset hampir satu tahun. Dikarenakan film ini alih wahana dari cerita pendek M. Shoim Anwar. Dari development dan sejenisnya kami melakukan banyak kerja sama yang dikonsultasikan kepada orang-orang kompeten,” kata Faiz.
Setelah rampung, Faiz bersama tim di Sinemadura melakukan pengambilan gambar di di Desa Ganding Kecamatan Ganding Kabupaten Sumenep. Beberapa aktor dan aktris lokal diperankan, hal tersebut dilakukan agar penjiwaan dari karakter yang diperankan betul-betul tampak.
Setelah dilakukan riset, penulisan naskah dan pengambilan gambar, selama kurang lebih satu tahun lamanya, film yang mengisahkan tentang multikultural ini akhirnya rampung. Dan hari ini juga akan tayang di Bioskop New Star Cineplex (NSC) Sumenep.
“Film ini mengisahkan tentang problem yang sering terjadi di lingkaran Masyarakat Madura antara Kiai dan Bajing dalam menghadapi suatu permasalahan,” paparnya.
Antara Kiai dan Bajing, menurut Faiz entitas keduanya mempunyai padanan sosial yang kuat dengan kultur-kultur yang pas pada bagian-bagian tertentu. Sehingga rentan memunculkan polemik. Dari fakta itulah, kemudian pihaknya berupaya mendekatkan seni film terhadap masyarakat Sumenep.
“Dan juga kami berupaya bagaimana menjadikan film sebagai media edukasi yang menarik,” terangnya.
Film Basiyat diproduksi karena terinspirasi dari kondisi Madura yang hingga saat ini masih murni tempaan alam dalam suatu konflik ataupun peristiwa yang terjadi. Karenanya semua unsur perankan dalam film tersebut, mulai dari jagoanisme, feminisme dan politik daerah.
“Sehingga Sumenep menjadi sasaran pertama yang sangat elegan jika difilmkan dan dipasarkan di Asia,” pungkasnya.
Sebelumnya, Film Basiyat telah ditayangkan di Singhasari Resort Kota Batu Jawa Timur dan Teater Besar ISI Surakarta. Karya tersebut juga telah mendapatkan penghargaan film terbaik East Java Film Call 2021 dan shooting Tugas Akhir pertama yang menggunakan kamera sinema di ISI Surakarta.
Editor: A. Habiburrahman

