Image Slider

Catatan Seorang Kader Menjelang Pemilihan Ketua PKC PMII Jatim

Oleh: Moh. Faiq

Sembari menunggu pemilihan ketua baru, mari sejenak kita melihat kembali keutuhan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai organisasi kemahasiswaan satu-satunya yang dapat menyatukan nilai-nilai keislaman dan konsepsi kebangsaan. Tentunya hal ini menjadi kebanggaan karena mungkin tidak dapat ditemukan di luar organisasi Pergerakan, yakni spirit keislaman dan cita luhur kebangsaan dapat disatukan sebagai pijakan melakukan gerakan.

Namun resah kemudian apabila kesempurnaan nilai tidak dapat menjadikan kader-kader PMII sebagai bagian dari elemen masyarakat sipil dalam mewujudkan cita-cita keadilan. Telah banyak ditemukan bagaimana keterlibatan kader-kader PMII mulai masuk dalam tatanan struktur kenegaraan menjadi kaki tangan elite penguasa dan budak-budak partai. Hal inilah yang menyebabkan PMII tengah masuk dalam mode baru yakni, ‘Elitisme PMII’. Sebuah fenomena di mana kader-kader PMII tengah di manja oleh elite penguasa dan mulai diakrabkan dengan wacana pembangunan yang bersifat development kapitalism.

Sebuah konsep pembangunan yang berorientasi pada pemenuhan infrastruktur dan ekstraksi alam besar-besaran dalam memberikan kemewahan pada pemilik modal. Rakyat dikorbankan hak-haknya terpinggirkan, intimidasi dan kekerasan dalam pelepasan lahan dirasakan, bahkan alam pun dihancurkan demi pembangunan. Ketika dihadapkan dengan kondisi seperti ini, apabila kader-kader PMII telah menjadi bagian dari kaki tangan elite penguasa dan budak partai. Maka disitulah absennya PMII dalam perjuangan rakyat, sebab pikiran dan gerakannya telah sengaja ditumpulkan.

Kondisi ini (Elitisme PMII) terjadi semenjak semakin banyaknya alumni PMII duduk di kursi jabatan pemerintahan, sehingga narasi pembangunan development kapitalism terus disadurkan melalui sistem kaderisasi dan pola komunikasi yang menjanjikan. Inilah yang menumpulkan ketajaman berpikir dan menurunkan tensi amarah perjuangan rakyat dalam mencapai cita-cita demokrasi, keadilan dan kesejahteraan. Sebab, mulai dibentuk pola pikir dengan pemahaman, bahwa menjadi kesalahan apabila melakukan kritikan dan aksi turun jalan pada senior yang telah memiliki kedudukan di pemerintahan. “Tetaplah satu komando dan satu barisan”, biasanya begitu dalam memberikan pemahaman.

Tentunya para calon sudah pernah dan mungkin akan mendapatkan bentuk arahan yang demikian. Maka sebagai kader PMII menginginkan dan menitip harapan, kemerdekaan berpikir dan gerakan PMII jangan sampai terpasung oleh kepentingan segelintir orang, kepentingan elite penguasa dan permintaan partai. Sebab pemikiran dan gerakannya akan terus hidup dan tumbuh pada garis perjuangan rakyat sipil yang telah ditumbalkan oleh serakahnya pembangunan.
Sehingga penting kiranya memperhatikan dan merumuskan kembali sebuah konsep kaderisasi yang benar-benar melebur di tengah kepentingan rakyat. Terlebih dalam penguatan pemahaman Ideologi PMII sebagai dasar dalam melakukan gerakan.

Selanjutnya, berharap pada pelaksanaan pemilihan ketua ini jangan sampai kemudian mengorbankan tali persahabatan dan ikatan keluarga dalam pergerakan. Setidaknya dapat menurunkan tensi dan ambisi untuk sekadar duduk dikursi jabatan, sebab bagi kami kader-kader PMII yang lebih penting dari pemilihan adalah penyempurnaan sistem kaderisasi dalam arus perlawanan terhadap oligarki dan penguatan ideologi. Karena percuma jika ada pergantian ketua namun ke depan tidak ada perubahan ke arah perbaikan. Pesan Gus Dur, yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan. Tetaplah rukun dan damai sahabat pergerakan. Salam !

*) Kader PMII Komisariat Guluk-Guluk

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga