Gapura, NU Online Sumenep
Ketua Aswaja Center Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Ma’ruf Khazin mengenang situasi dan kondisi keberagamaan umat Islam masa lalu yang menjadi cikal-bakal lahirnya jamiyah Nahdlatul Ulama.
Hal itu disampaikan Kiai Ma’ruf Khazin saat menghadiri acara Ansor Bershalawat dalam rangka Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan 1 Abad NU di lapangan Gapura, Sumenep pada Jumat, (17/02/2023) kemarin.
Kiai Ma’ruf Khazin menjelaskan bahwa Negeri Hijaz adalah nama sebelum diubah menjadi Arab Saudi. Kala itu, ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah masih terjaga dengan baik. Terbukti pada saat itu ada salah seorang ulama besar Nusantara, tepatnya dari Banten, yakni Syiekh Nawawi Al-Bantani yang hingga kini masih menjadi rujukan umat Islam di dunia.
Namun demikian, setelah berubah menjadi Saudi Arabia terjadi perubahan madzhab. Dimana pada saat itu sudah mulai meninggalkan ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah dan berganti ke ajaran Wahabi.
“Wahabi mulai menghancurkan apa yang telah dirintis oleh ulama Aswaja. Makam-makan dihancurkan dan sebagainya,” kata Kiai Ma’ruf.
Kondisi tersebut semakin lama semakin memperihatinkan. Aliran Wahabi semakin membuat resah banyak kalangan, termasuk para ulama di Nusantara.
Tak ingin tinggal diam, ulama dari Nusantara kemudian membentuk Komite Hijaz yang merupakan embrio lahirnya jam’iyah Nahdlatul Ulama. Kehadirannya ke Hijaz tidak lain untuk mempertahankan ajaran-ajaran Islam yang dibawa Rasulullah SAW dan menolak ajaran Wahabi.
“Kemudian ulama Nusantara membentuk Komite Hijaz, yang kelak menjadi cikal bakal lahirnya NU, untuk menolak faham Wahabi,” tambahnya.
Kiai Ma’ruf lantas menyebut bahwa andaikan NU adalah organisasi yang tidak diridhai Allah, sudah tentu hancur pada saat didirikan. Sebab kala itu, di masa penjajahan, tidak boleh ada organisasi yang berdiri tanpa izin Belanda.
“Namun nyatanya NU bisa bertahan, eksis hingga saat ini,” terangnya.
Nu, kata Kiai Ma’ruf didirikan atas ijtihad para ulama dengan sanad yang jelas bersambing hingga Rasulullah SAW. Sehingga kehaidran NU menjadi wadah menjaga paham Ahlussunnah Wal Jamaah di Indonesia.
Editor: A Warits Rovi

