Image Slider

Prediksi Awal Ramadan 1446 Hijriyah Menurut Kesepakatan Baru MABIMS

Dalam waktu dekat, umat Islam di seluruh dunia akan menyambut datangnya Bulan Suci Ramadan. Bulan penuh berkah yang memiliki banyak keistimewaan, termasuk pahala yang dilipatgandakan. Maka tak ayal jika kemudian umat Islam berlomba-lomba dalam hal kebaikan untuk meraih keberkahan di Bulan Suci Ramadan,

Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim memiliki perbedaan dalam hal penentuan awal Ramadan. Ada yang menggunakan metode hisab dan adapula yang menggunakan metode rukyat. Kedua metode itu memiliki dasar hukum masing-masing.

Namun demikian, Kementerian Agama (Kemenag) dalam hal ini memiliki kewenangan untuk menentukan awal bulan Ramadan berdasarkan rukyatul hilal atau melihat hilal. Begitu pula Nahdlatul Ulama, sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar, menggunakan metode rukyatul hilal untuk menentukan masuknya Bulan Suci Ramadan.

Kaitan Metode Hisab dan Rukyat

Terkait penentuan awal Ramadan, Ketua Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Sumenep, Kiai Fathor Rois menukil salah satu Sabda Rasulullah SAW yang memerintahkan umatnya untuk memulai puasa Ramadan setelah melihat hilal.

“Untuk memulai puasa ramadhan kita terikat dengan teks sabda Rasulullah SAW: ‘Berpuasalah setelah melihat hilal…’,” ungkapnya kepada NU Online Sumenep melalui pesan WhatsApp, Senin, (17/03/2025).

Untuk melihat hilal, kata Kiai Fathor, sapaan lekatnya, sangat sulit mengingat hilal yang begitu tipis dan durasinya yang hanya beberapa menit. Maka diperlukan metode hisab untuk memperkirakan posisi hilal di ufuk barat.

”Dari sini sudah jelas posisi rukyat dan hisab dalam penentuan awal Ramadhan dan bulan-bulan yang lain. Yaitu, rukyat sebagai hakim, dan hisab sebagai pembantu. Artinya, hisab saja tidak bisa menjadi penentu masuk dan tidaknya bulan ramadhan dan bulan yang lain. Itu untuk hisab qath’i, apalagi hanya hisab urfi,” tambahnya.

Oleh sebab itu, menurut Kiai Fathor, para perukyat akan melakukan penghitungan terlebih dahulu untuk memperkirakan dimana posisi hilal agar pandangannya fokus ke titik tersebut. Jika hilal benar-benar terlihat, maka hal itu menjadi sebab kewajiban puasa bagi perukyat itu sendiri dan orang-orang yang mempercayainya.

”Dan rukyat itu juga bisa dijadikan dasar oleh hakim (pemerintah) untuk menetapkan (isbat) awal ramadhan secara resmi untuk seluruh umat Islam,” ujarnya.

Namun bilamana rukyat tidak berhasil, maka bulan lama harus disempurnakan menjadi 30 hari. Hal itu sebagaimana Sabda Rasulullah SAW: ’Jika kalian terhalang, maka sempurnakanlah Sya’ban menjadi 30 hari’.

”Berarti menurut hadis ini, bulan Sya’ban bisa 29 hari dan bisa juga 30 hari. Tidak mesti 29 hari sebagaimana yang diasumsikan oleh sebagian orang,” tegasnya.

Bagaimana dengan Awal Ramadan 1446 Hijriyah Kali Ini?

Kiai Fathor menjelaskan bahwa untuk tahun 1446 H ini, ijtima’ akhir Bulan Sya’ban terjadi pada Jumat Legi, 28 Februari 2025 pukul 07:47 WIB. Posisi hilal dari Sumenep ketika Maghrib pada hari itu ada di ketinggian 3,5 derajat dengan elongasi 5,75 derajat. Kondisi tersebut tidak memenuhi kriteria imkanur rukyat dan tidak memungkinkan hilal dapat dirukyat.

“Kalaupun ada yang berhasil melihat hilal, akan ditolak persaksiannya oleh hakim karena dianggap memiliki ketajaman melihat di atas normal. Tetapi perukyat itu sendiri wajib mengamalkan konsekuensi rukyatnya bersama orang-orang yang mempercayainya,” jelasnya.

Di desa paling barat di wilayah Indonesia, tepatnya di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, menurut Kiai Fathor, posisi hilal di sana sudah memenuhi kriteria imkanur rukyat berdasarkan kesepakatan baru Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS). Yaitu 4 derajat dengan elongasi 6,4 derajat.

”Kalau rukyat di sana berhasil, maka 1 Ramadan 1446 jatuh pada Sabtu Paing, 1 Maret 2025. Jika semuanya gagal, maka bulan Sya’ban harus disempurnakan menjadi 30 hari, sehingga 1 Ramadan 1446 jatuh pada Ahad pon, 2 Maret 2025,” tegas Kiai Fathor.

Ihwal Muhammadiyah yang sudah mengeluarkan maklumat tentang awal Ramadan 1446 H jatuh pada Sabtu Paing, 1 Maret 2025 berdasarkan wujudul hilal, itu karena ketika matahari terbenam pada Jumat sore, 28 Februari 2025 hilal sudah ada di atas ufuk berdasarkan hisab qath’i.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga