Pragaan, NU Online Sumenep
Akhir-akhir ini, banyak sekali content creator maupun influencer yang membuat konten berbasis siaran atau sering disebut dengan istilah podcast. Banyak penonton yang tertarik dengan konten tersebut karena terdapat proses diskusi yang menarik dan terkesan lebih santai di dalamnya. Konten ini banyak mendapat perhatian publik, karena terkesan lebih intens dan fleksibel jika dibandingkan dengan siaran radio pada umumnya.
Melihat keantusian publik dalam menyaksikan podcast, maka Lajnah Falakiyah Annuqayah (LFA) Guluk-Guluk mengadakan kegiatan yang bertajuk Podcast Falakiyah dengan tema ‘Sejarah Lajnah Falakiyah Pondok Pesantren Annuqayah dan Pemaparan Rukyatul Hilal 1 Ramadlan 1442 H’ yang bekerjasama dengan TVNU Sumenep sebagai sayap Lembaga Ta’lif wan-Nasry Nahdlatul Ulama (LTN NU) Sumenep, Selasa (13/04/2021) di Stodio 2 TVNU Sumenep, Cecce’ Laok, Prenduan, Pragaan. Bergerak menjadi narasumber yaitu Lukmanul Hakim selaku Sekretaris LFA dan Moh Ilham Wahyudi selaku Koordinator Bidang Hisab Rukyat (BHR) LFA.
Jenis podcast dalam kegiatan ini menggunakan interview podcast, dimana host atau pemandu acara akan melakukan sesi wawancara kepada tamu atau narasumber yang berbeda setiap episodenya.
Mengawali podcast ini, host menanyakan seluk beluk sejarah di balik berdirinya LFA Guluk-Guluk kepada narasumber pertama, yaitu Lukmanul Hakim.
“Motif di balik berdirinya LFA adalah barangkat dari isu kesimpang siuran penentuan Molod Agung yang merupakan perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang terjadi pada tahun 2009. Saat itu, kalender Annuqayah lebih awal dari pada kalender lain. Oleh sebab itu, pihak Yayasan langsung mengadakan pelatihan Falak perdana di Annuqayah sebagai langkah awal berdirinya LFA yang diisi oleh pemateri dari Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Jawa Timur, yaitu H Abd Salam Nawawi. Sasaran pelatihan Falak perdana saat itu adalah dari kalangan santri, dari kalangan putra Annuqayah, dan simpatisan. Di samping itu juga terjadi banyak perbedaan tentang awal masuknya waktu shalat yang terjadi di masyarakat. Nah dari itulah, LFA didirikan pada tanggal 26 Februari 2010,” jelasnya santri Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa itu.
Pembahasan seputar kalender Annuqayah menjadi agenda pertanyaan kedua oleh pembawa acara.
“Dari dahulunya, data astronomi kalender Annuqayah berpatokan dengan kalender yang diterbitkan di Mojokerto. Data Astronomi penentuan awal bulan Hijriyah berpatokan dengan data astronomi yg dihisab oleh KH Nur Ahmad SS, Jepara. Nah, setelah didirikannya LFA pada tahun 2010, maka pada tahun 2011 kalender Annuqayah terbit perdana yang merupakan hasil dari hisab santri Annuqayah. Saat itu di masa periodenya ustadz Ahmad Faidhal,” imbuhnya pria kelahiran Lenteng itu.
Sementara itu, pada narasumber kedua, ditanyakan terkait perbedaan hisab dan rukyat. Sontak saja, Moh Ilham Wahyudi memberikan penjelasan bahwa hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender Hijriyah. Sedangkan rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang tampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi).
“Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Rukyat dilakukan setelah Matahari terbenam. Hilal hanya tampak setelah Matahari terbenam (maghrib), karena intensitas cahaya hilal sangat redup dibanding dengan cahaya Matahari, serta ukurannya sangat tipis. Apabila hilal terlihat, maka pada petang (maghrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru Hijriyah. Apabila hilal tidak terlihat maka awal bulan ditetapkan mulai maghrib hari berikutnya,” terangnya santri kelahiran Saronggi itu.
Sebagai pertanyaan terakhir, narasumber kedua diberikan pertanyaan tentang hasil rukyatul hilal 1 Ramadan 1442 H.
“Berdasarkan hasil hisab, ketinggian hilal di markas saat itu, yakni pantai Parangtritis Yogyakarta, 3,9 derajat. Sedangkan berdasarkan hasil rukyat di tempat kami tidak melihat hilal dikarenakan mendung. Tapi untuk di daerah Jawa Timur sudah ada yang melihat hilal yakni di Bukit Condrodipo Gresik dan Tanjung Kodok Lamongan. Kalau sudah seperti ini berarti berlakulah istilah Wilayatul Hukmi yang berarti jika suatu daerah dapat melihat hilal dan daerah yang lain tidak dapat melihat hilal, maka dapat dipastikan hilal sudah terlihat diseluruh wilayah Indonesia,” tegasnya saat memaparkan hasil rukyatul hilal.
Acara ditutup dengan penyampaian harapan kepada pemangku jabatan baik di LFNU dan Kementerian Agama Negeri (Kemenag) RI oleh narasumber pertama.

