Kota, NU Online Sumenep
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, KH. M. D. Widadi Rahim, mengajak masyarakat untuk mereinterpretasi makna peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW sebagai jawaban atas krisis keteladanan dan moral publik yang dihadapi umat saat ini.
Hal tersebut disampaikan saat menjadi narasumber dalam program Sumenep Menyapa di RRI Sumenep, Jumat (15/1/2025).
Dalam pemaparannya, KH. Widadi menegaskan bahwa Isra Mi’raj tidak cukup dipahami sebagai peristiwa spiritual dan historis semata, melainkan perlu dikontekstualisasikan sebagai inspirasi gerakan keumatan yang relevan dengan tantangan zaman.
Menurutnya, nilai-nilai luhur dalam Isra Mi’raj sejalan dengan visi PCNU Sumenep 2025–2030 untuk menegakkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah demi kemaslahatan masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa Isra Mi’raj mengandung pesan moderasi beragama yang kuat, seperti nilai tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), i’tidal (adil), dan tasamuh (toleran).
Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, penting untuk dihidupkan kembali dalam kehidupan sosial, terutama di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap memicu ekstremisme dan degradasi moral.
“Isra Mi’raj harus menjadi energi moral untuk menghadirkan Islam yang menyejukkan dan memberi solusi, termasuk melalui dakwah digital yang ramah dan mencerahkan,” ujarnya.
Selain itu, PCNU Sumenep juga mendorong penguatan ketahanan keluarga melalui gagasan Mikraj Keluarga berbasis pesantren. Upaya ini diarahkan untuk menanamkan nilai keadilan dan keteladanan dalam keluarga, sekaligus mencegah berbagai persoalan sosial seperti kekerasan dalam rumah tangga, pernikahan dini, perundungan, hingga problem etika di ruang digital.
Di bidang ekonomi, KH. Widadi menilai Isra Mi’raj dapat dimaknai sebagai dorongan menuju kemandirian umat. PCNU Sumenep, kata dia, terus mendorong penguatan UMKM, pesantren, serta pengembangan koperasi digital berbasis Aswaja sebagai ikhtiar meningkatkan kesejahteraan dan menjauhkan masyarakat dari praktik ekonomi yang merugikan.
Tak hanya itu, ia juga mengangkat gagasan Mikraj Hijau sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan terhadap lingkungan. Melalui edukasi hidup bersih, pengelolaan sampah, dan perlindungan alam, NU ingin menanamkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah amanah yang harus dijalankan bersama.
“Keteladanan hari ini tidak hanya soal ibadah personal, tetapi juga bagaimana kita menjaga keluarga, ekonomi umat, dan lingkungan sebagai warisan bagi generasi mendatang,” pungkasnya.

