Lenteng, NU Online Sumenep
Dalam rangka memperingati peristiwa agung Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Masjid Al-Musyarrafah Lembung Barat, Lenteng, Sumenep menggelar pengajian umum yang sarat dengan pesan spiritual tentang pentingnya shalat sebagai nikmat dan tiang kehidupan umat, pada Rabu (14/01/2026) di halaman setempat.
Acara yang berlangsung khidmat tersebut dihadiri oleh para tokoh agama, santri, dan jamaah dari berbagai kalangan, dengan harapan mampu meneguhkan kembali kesadaran umat akan kedudukan shalat dalam kehidupan sehari-hari.
Hadir sebagai penceramah K. Izzul Muttaqin, Bendahara Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sumenep.
Ia menegaskan bahwa shalat tidak boleh dipahami sebatas kewajiban formal yang harus dikerjakan untuk menggugurkan perintah.
Lebih dari itu, shalat adalah nikmat besar yang Allah SWT anugerahkan secara khusus kepada umat Nabi Muhammad SAW.
“Shalat bukan hanya sekadar perintah, tapi sebetulnya merupakan wujud kenikmatan yang Allah SWT berikan kepada kita. Sebab, hakikat shalat adalah penghambaan, dan penghambaan itulah keluhuran martabat seorang hamba di hadapan Allah SWT,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa ketika seorang hamba menundukkan diri dalam shalat, sejatinya ia sedang menempatkan dirinya pada posisi paling mulia, karena mengakui sepenuhnya keagungan dan kekuasaan Allah SWT.
“Dalam sujud, seorang hamba berada pada kondisi terdekat dengan Tuhannya. Oleh karena itu, shalat bukanlah beban, melainkan kehormatan dan kemuliaan yang seharusnya disyukuri dengan penuh kesadaran,” jelasnya.
Lebih lanjut, Kiai Izzul Muttaqin mengutip sebuah hikmah yang sangat masyhur di kalangan ulama, bahwa siapa pun yang memprioritaskan shalat dalam hidupnya, maka Allah SWT akan memprioritaskan seluruh urusannya.
“Orang yang mementingkan shalatnya, Allah SWT akan mementingkan segala urusannya. Urusan dunia, urusan keluarga, rezeki, dan masa depannya akan dimudahkan oleh Allah SWT,” tegas Dosen Prodi IQT Universitas Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep ini.
Menurutnya, banyak persoalan hidup yang terasa berat dan rumit sering kali berakar dari sikap meremehkan shalat.
Ketika shalat dijadikan prioritas utama, maka hidup akan berjalan lebih terarah dan penuh keberkahan.
Sebaliknya, jika shalat dianggap sebagai kewajiban sampingan, maka ketenangan batin dan keberkahan hidup pun perlahan akan memudar.
Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Latee Guluk-Guluk ini juga menegaskan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj sendiri merupakan bukti nyata betapa Allah SWT sangat mementingkan shalat.
Tidak seperti ibadah lain yang disyariatkan melalui perantaraan wahyu di bumi, perintah shalat justru diterima langsung oleh Rasulullah SAW saat beliau diangkat menghadap Allah SWT.
Hal ini menunjukkan keistimewaan shalat sebagai ibadah yang memiliki kedudukan tertinggi.
“Isra’ Mi’raj adalah bukti bahwa Allah SWT mementingkan shalat. Dan sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa shalat adalah tiang agama juga menunjukkan bahwa Rasulullah SAW sangat memprioritaskan shalat,” jelasnya.
Ia menambahkan, jika Allah SWT dan Rasul-Nya saja sangat mementingkan shalat, maka sungguh tidak pantas jika sebagai umatnya justru bersikap lalai dan menyepelekan shalat.
Shalat, lanjutnya, ibarat tiang dalam sebuah bangunan. Jika tiangnya kokoh, maka bangunan akan berdiri dengan kuat.
Namun, jika tiangnya rapuh atau bahkan roboh, maka bangunan itu pasti akan runtuh. Demikian pula agama seseorang sangat bergantung pada kualitas shalatnya.
“Baik atau buruknya kehidupan spiritual seseorang sangat ditentukan oleh bagaimana ia menjaga shalatnya,” tandas Kiai Izzul.
Melalui peringatan Isra’ Mi’raj ini, jamaah diajak untuk menjadikan shalat sebagai pusat kehidupan, bukan sekadar rutinitas harian.
Shalat harus dihadirkan dengan kesadaran penuh, kekhusyukan, dan rasa syukur, karena di sanalah letak kehormatan seorang hamba.
Dengan shalat, seseorang sedang memperbarui janji penghambaan kepada Allah SWT dan menguatkan ikatan spiritual dengan Sang Pencipta.
“Semoga peringatan Isra’ Mi’raj ini tidak hanya menjadi seremonial tahunan, tetapi benar-benar menjadi momentum perubahan menuju kehidupan yang lebih taat, lebih tertib dalam ibadah, dan lebih dekat kepada Allah SWT,” pungkas Kiai Izzul.
Acara ditutup dengan doa bersama agar seluruh jamaah diberikan kekuatan untuk istiqamah dalam menjaga shalat, baik secara waktu, syarat, rukun, maupun kekhusyukannya.
Editor: Ach. Khalilurrahman

