Lenteng, NU Online Sumenep
Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Lenteng membahas pesan kisah pasukan gajah dalam Surat Al-Fiil melalui program podcast rutinnya yang diisi oleh Iftitah Zainuna, Sabtu (07/03/2026) di kantor setempat.
Dalam podcast tersebut, ia mengulas tafsir Surah Al-Fiil berdasarkan kitab The Qur’anything karya KH. Isma’il Al-Ascholi yang menyoroti makna mendalam di balik peristiwa kehancuran pasukan bergajah.
Dalam pemaparannya, Iftitah menjelaskan bahwa kisah pasukan bergajah yang dipimpin Abrahah tidak hanya dipahami sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga mengandung pesan teologis yang berkaitan dengan kemuliaan Muhammad dan umatnya.
“Dalam kajian ushul, masa sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai zaman fatrah, yakni masa ketika tidak ada rasul yang diutus kepada manusia. Pada masa tersebut, secara prinsip Allah tidak menurunkan azab kepada suatu kaum sebelum datangnya utusan,” jelasnya.
Menurutnya, secara kaidah ushul, zaman fatrah itu bisa disebut sebagai zaman yang ‘anti-azab’, karena Allah tidak menghukum suatu kaum sebelum mengutus seorang rasul kepada mereka.
“Namun demikian, peristiwa pasukan bergajah menjadi pengecualian yang unik. Ia menegaskan bahwa azab besar justru terjadi sebelum Nabi Muhammad SAW lahir,” terangnya.
Peristiwa Al-Fiil ini menarik, karena azab besar justru terjadi pada masa sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ini menjadi semacam paradoks dalam konsep turunnya azab.
“Dalam tafsir yang diangkat dari kitab The Qur’anything, peristiwa tersebut dipahami sebagai bagian dari rencana Allah untuk menjaga kemuliaan Nabi Muhammad SAW serta mempersiapkan jalan bagi kelahiran beliau,” tandas Iftitah.
Ia menambahkan bahwa umat Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai ummatun marhumah, yakni umat yang dirahmati oleh Allah. Oleh karena itu, Allah tidak menghendaki turunnya azab pemusnahan total kepada umat Nabi Muhammad setelah masa kenabian dimulai.
“Umat Nabi Muhammad adalah umat yang dirahmati. Karena itu Allah tidak ingin menurunkan azab pemusnahan total kepada umat ini setelah Nabi diutus,” katanya.
Menurutnya, jika azab semacam itu turun setelah masa kenabian, maka keberlangsungan manusia bisa terancam. Ia menegaskan bahwa Nabi Muhammad diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.
“Kalau azab pemusnahan itu terjadi setelah Nabi Muhammad diutus, maka eksistensi manusia bisa saja berakhir. Padahal Nabi Muhammad diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam,” lanjutnya.
Dalam penjelasannya, Iftitah juga mengungkapkan bahwa azab yang seharusnya menjadi konsekuensi bagi kaum yang mendustakan kebenaran seolah dialihkan kepada pasukan Abrahah yang hendak menghancurkan Ka’bah.
Ia mengatakan bahwa dalam perspektif tafsir tersebut, kehancuran pasukan gajah dapat dipahami sebagai bentuk penjagaan Allah terhadap kehormatan Nabi Muhammad SAW sekaligus memastikan kelangsungan umat beliau.
“Seakan-akan ‘jatah’ azab itu dialihkan kepada kaum Abrahah yang ingin menghancurkan Ka’bah. Ini menjadi bagian dari penjagaan Allah terhadap kemuliaan Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.
Selain itu, pembahasan dalam podcast juga menyinggung keterkaitan antara Surah Al-Fiil dengan Surah Quraisy. Ia menjelaskan bahwa kehancuran pasukan bergajah merupakan bentuk perlindungan Allah terhadap kabilah Quraisy yang menjadi penjaga Ka’bah sekaligus tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Menurut Iftitah, urutan kedua surah tersebut dalam mushaf Al-Qur’an juga menyiratkan hubungan makna yang kuat.
“Allah menghancurkan musuh Ka’bah melalui peristiwa pasukan gajah, dan itu sekaligus menjadi bentuk perlindungan bagi Quraisy,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa peristiwa tersebut juga menjadi bagian dari persiapan bagi kelahiran Nabi Muhammad SAW dan perjuangan dakwah beliau di kemudian hari.
“Peristiwa Al-Fiil bukan sekadar kisah kehancuran pasukan Abrahah, tetapi juga menunjukkan betapa istimewanya Nabi Muhammad SAW dan umatnya di sisi Allah,” pungkasnya.

