Image Slider

Dramatis, Sidang AHWA NU Pasongsongan Berurai Air Mata

Pasongsongan, NU Online Sumenep

Dramatis dan penuh air mata, itulah kesan yang dapat digambarkan dari pelaksanaan sidang pembentukan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pasongsongan. Kegiatan yang bertempat di Ranting NU Campaka, Kecamatan Pasongsongan, Ahad (27/12/2020).

Sidang yang dipimpin oleh K. M. Saifuddin ini didampingi oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, Ahmad Zubairi Karim. Sejak awal dirasakan ada sesuatu yang berbeda. Khidmat, tenang, sunyi, keramat seperti disaksikan langsung oleh Hadratussyekh KH. M. Hasyim Asy’ari.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba semua kiai yang tergabung dalam tim AHWA tak kuasa menitikkan air mata, tak terkecuali juga pengurus cabang yang mendampingi.

“Saya yang hanya mendampingi, tak punya hak suara, seperti hanyut dalam suasana wingit yang dalam. Air mata pun tumpah tanpa terasa,” kata Zubairi memberi kesaksian.

Titik-titik air mata bergelayut hampir di semua anggota tim AHWA saat itu. Suara-suara tim bergetar, seperti tak mampu mengucapkan apa yang akan disampaikan. Pesona kiai sepuh kharismatik KH. Muhammad Musthafa Mukammal menjadi magnet yang tak mampu diurai dengan kata dan bahasa.

“Kami semua warga NU ingin tetap memilih ajunan (anda) kiai, sebagai Rais Syuriyah. Sebagai tempat bersimpuh segala persoalan warga NU, Kiai. Kami tak ingin berpisah dari ajunan. Warga NU butuh bimbingan kesejukan ajunan kiai,” suara K. M. Saifuddin terdengar terbata-bata, bibirnya tampak bergetar hebat.

Lama suasana wingit terjadi. Entah mengapa seolah sepi. Hanya detak jantung yang seolah bersahutan, tak ada kata-kata. Semua larut dalam suasana yang mengharu biru. Apa yang terjadi, entah dari mana datangnya. Tak mampu logika mengurainya.

“Saya sudah tua, saya sudah tak mampu membawa diriku sendiri, apalagi mau membimbing umat,” jawab KH. Muhammad Musthafa Mukammal dengan suara terbata-bata seolah perasaanya juga ambruk ditengah situasi pengharapan warga yang berdebam. Titik-titik air matapun tampak bergelayut terlihat dari balik kaca matanya yang mencoba diperbaiki dengan tangan renta.

“Jangan tolak tumpahan pengharapan kami, Kiai. Kamilah warga NU yang membutuhkan bimbingan ajunan untuk mengurus urusan umat,” suara K. M. Saifuddin tergopoh menimpali seolah tak ingin kehilangan kiai sepuh yang amat sangat dicintai warganya ini.

“Sungguh-sungguh kami tetap mengharapkan ajunan sebagai Rais. Jangan tinggalkan kami, Kiai,” timpal K. Fajar salah satu anggota tim AHWA yang lain, juga dengan nada suara bergetar. Embun air matapun pecah bergelayut.

Mendengar jawaban K. Mukammal, dengan suara tersedak, pimpinan sidang mencoba merayu dengan sisa isak tangis yang tertahan. K. M. Saifuddin menceritakan KH. Ahmad Basyir Masyaikh Pondok Pesantren Annuqayah sampai akhir hayatnya menjadi Rais PCNU Sumenep. Begitupun juga KH. Moh. Ishamuddin Abdullah Sajjad menjadi Rais Syuriyah sampai tutup usia menjemputnya.

“Ya, bila sudah menjadi kemufakatan, saya tak mampu menolaknya. Dengan segala kerentaan dan keterbatasan saya,” ujarnya tetap tak kuasa membendung serak suara sebab suasana yang amat keramat dan air mata yang ditahan.

Pimpinan sidang pun dengan jawaban tersebut, bersyukur dan membacakan Fatihah atas kesediaan beliau tetap mau melanjutkan jabatannya sebagai Rais Syuriyah MWCNU Pasongsongan Masa Khidmat 2020-2025.

Pewarta : Zubairi Karim
Editor : Ibnu Abbas

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga