Image Slider

Konsep Mabadi Khaira Ummah

Oleh: Firdausi

Nahdlatul Ulama merupakan Ormas terbesar di Indonesia. Keberadaannya sejak dulu hingga sekarang tetap 1 misi, yaitu mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sikap moderat yang menjadi karakteristiknya, digiring menjadi opini negatif oleh sebagian oknum. Padahal sikap tersebut mampu mewujudkan tatanan kehidupan yang lebih harmonis antar sesama warga, walaupun berbeda agama, etnis, suku, tradisi, kebudayaan, kulit, bahasa, dan lainnya.

Ada pula sebagian oknum mengatakan bahwa NU adalah organisasi politik. Persepsi tersebut salah! Karena NU adalah organisasi diniyah atau keagamaan dan ijtimaiyah atau sosial kemasyarakatan yang hampir semua perabotan rumahnya dihiasi dan diwarnai dengan semangat visi-misi dan moralitas keulamaan, sehingga NU menjadi pusat keseimbangan strategis dalam beragama dan bernegara.

Almaghfurlah KH. Achmad Siddiq pernah menegaskan bahwa NU ibarat kereta api yang jelas trayek dan relnya, dan jelas persyaratannya untuk menjadi mesin multiguna bagi masyarakat. Trayek, rel, dan norma ke-NU-an sudah digariskan dalam nalar dan moral keulamaan dalam konteks kehidupan kemanusiaan secara holistik. Semuanya, atas harapan muassis atau ulama Nusantara yang notabene memiliki sikap moderat, sehingga gerakan dakwah ala Walisongo dapat diterima oleh masyarakat. Inilah yang disebut mabadi khaira ummah. Konsep tersebut merupakan strategi untuk memproduksi umat berkarakter, seperti halnya Walisongo mengislamkan orang Jawa.

Konsep mabadi khaira ummah memberi dampak positif bagi kehidupan kehidupan beragama dan bernegara. Butiran konsep tersebut sejatinya tidak lepas dari 5 nilai. Pertama, al-Shidqu atau kejujuran. Semestinya nahdliyin harus menegakkan kejujuran dalam berkata atau berucap, tindakan, dan tata cara pergaulan sosial di tengah-tengah masyarakat. Kedua, al-Amanah wal Wafa bi al-Ahdi atau setia, berkomitmen, dan menepati janji. Maksudnya, perilaku warga NU harus tegas, tidak plin-plan, apalagi memolitisir sikap secara struktur dan kultur. Amanah yang dipikul bersama harus dibuktikan ketika mendapat masukan dari akar rumput.

Ketiga, al-Ta’awun atau sikap saling tolong menolong, bekerjasama, dan bermitra dalam konteks sosial keumatan. Allah SWT telah mengajar kepada umat manusia untuk berlomba-lomba dalam kebenaran. Bahkan Allah SWT memberikan ujrah, pahala bagi yang ta’awun di lingkungan keumatan. Seperti halnya dilakukan oleh NU-Care Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) dan Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) yang mengawinkan konsep ini demi menolong para yatim dan dluafa, serta membangkitkan semangat perekonomian warga NU dengan membuka warung kecil, home industri, dan lainnya. Usaha tersebut menjadi alternatif bagi warga agar bisa mandiri tanpa harus terlilit hutang pada bank.

Keempat, al-‘Adalah atau keadilan. Apa pun bentuknya, baik statusnya, struktur atau kultur, harus mendasarkan pada nilai-nilai keadilan yang dimulai dari internal hingga eksternal. Jika demikian, maka tidak mungkin ada gesekan konflik yang membumbui jalannya roda organisasi. Kelima, al-Istiqamah atau konsistensi dan keteguhan yang dijadikan harakah sosial NU. Konsistensi moralitas kenabian harus dipegang teguh oleh nahdliyin dalam kondisi apapun.

Jika semua butir-butir tersebut terealisasi, maka akan menciptakan masyarakat yang civil society atau masyarakat madani. Karena tugas berat NU adalah memperbaiki perekonomian nahdliyin dalam rangka membangun kemandirian dalam ekonomi, seperti halnya Nahdlatut Tujjar yang digaungkan oleh Almaghfurlah KH. Abd Wahab Chasbullah. Selain itu, NU akan membangun intelektualitas dan membangun masyarakat yang berbudaya, seperti halnya berdirinya Tashwirul Afkar. Yang terakhir adalah membangun pluralisme yang beragama, membangun partisipasi dengan pemerintah, dan menciptakan keimanan serta ketakwaan pada Allah SWT yang dilandasi dengan moralitas keagamaan dan kultural, seperti halnya nilai-nilai yang dituangkan dalam Nahdlatul Wathan. Begitulah nilai ideal yang diajarkan oleh para muassis NU demi mencetak pelopor dalam menata kebangkitan umat di Indonesia.

 

*) Direktur NU Online Sumenep

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga