Image Slider

Lesbumi NU Gayam Hidupkan Tradisi Macopat Nurun Nubuwah

Gayam, NU Online Sumenep

Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) Nahdlatul Ulama Kecamatan Gayam kembali menyalakan warisan budaya leluhur dengan rutin melaksanakan pembacaan Macopat Nurun Nubuwah, Senin, 29 Juni 2026 (malam) di kediaman Bapak Tolak, Dusun Bansanik, Desa Gayam.

Lesbumi NU Kecamatan Gayam berupaya menghidupkan kembali salah satu khazanah sastra dan seni Islam yang sempat mati suri selama puluhan tahun. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara rutin setiap dua pekan dengan sistem anjang sana, yakni bergiliran dari rumah ke rumah sebagai media silaturahmi, pembelajaran, sekaligus pelestarian budaya.

Ketua Lesbumi NU Gayam, Feri Jatmiko, menjelaskan bahwa kebangkitan kembali Macopat tidak sekadar menghidupkan sebuah kesenian, melainkan mengembalikan ingatan kolektif masyarakat terhadap warisan budaya yang dahulu menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Gayam.

Menurutnya, tradisi pembacaan Macopat telah lama tidak dilaksanakan sehingga perlahan mulai dilupakan, terutama oleh generasi muda. Kondisi tersebut juga berdampak pada semakin berkurangnya para pelaku seni yang mampu melantunkan tembang-tembang Macopat.

“Kami ingin menyatukan kembali para seniman dan masyarakat melalui semangat menjaga warisan budaya leluhur. Macopat bukan hanya seni suara, tetapi juga media dakwah yang digunakan para pendahulu untuk menyampaikan ajaran Islam dengan bahasa budaya yang santun dan mudah diterima masyarakat,” ujarnya.

Sebagai langkah awal, Lesbumi NU Kecamatan Gayam memilih membangkitkan pembacaan Macopat Nurun Nubuwah yang mengisahkan sejarah dan keteladanan Nabi Muhammad saw. Pemilihan naskah tersebut dinilai sesuai dengan karakter masyarakat yang religius sekaligus memperlihatkan eratnya hubungan antara seni tradisi dan dakwah Islam.

Namun demikian, pihak Lesbumi menegaskan bahwa upaya pelestarian budaya tidak berhenti pada satu jenis kesenian. Kebangkitan budaya dilakukan secara bertahap dengan harapan kelak berbagai kesenian tradisional lain juga dapat kembali hidup di tengah masyarakat.

Tidak hanya menggelar pembacaan Macopat, setiap satu bulan Lesbumi juga menyelenggarakan forum diskusi budaya yang membahas sejarah, filosofi, nilai-nilai, serta pesan moral yang terkandung dalam karya-karya Macopat. Langkah tersebut dilakukan agar generasi muda tidak sekadar mampu melantunkan tembang, tetapi juga memahami makna yang diwariskan para leluhur melalui setiap bait yang dibaca.

Ke depan, selain kisah Nurun Nubuwah, pembacaan Macopat juga direncanakan akan menghadirkan naskah-naskah lain, seperti kisah Isra Mikraj maupun cerita Pandawa, sebagai bagian dari kekayaan sastra Nusantara yang sarat nilai kehidupan.

Koordinator Bidang Seni Macopat LESBUMI NU Kecamatan Gayam, Bapak Sahlan, bersama para pegiat budaya terus melakukan pendampingan agar tradisi ini dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Respon masyarakat terhadap kegiatan ini terbilang sangat positif. Antusiasme warga terus meningkat, bahkan mulai muncul generasi muda yang tertarik mempelajari dan mengembangkan tembang-tembang Macopat. Hal ini menjadi harapan baru bagi keberlangsungan seni tradisi di Kecamatan Gayam.

Di sisi lain, LESBUMI berharap seluruh elemen Nahdlatul Ulama di Kecamatan Gayam dapat semakin memperkuat sinergi dalam membersamai kegiatan-kegiatan kebudayaan. Sebab, forum seperti ini tidak hanya menjadi ruang pelestarian seni, tetapi juga wadah mempererat silaturahmi, memperkuat ukhuwah, serta mendiskusikan budaya dalam perspektif keislaman.

“Sebagai bagian dari visi jangka panjang, Lesbumi NU Kecamatan Gayam berencana membentuk sanggar sastra, seni, dan budaya sebagai pusat pembinaan generasi muda agar tradisi-tradisi lokal tetap hidup dan berkembang sesuai dengan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah,” pungkasnya.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga