Image Slider

Tawa yang Melukai: Ketika Candaan Menjadi Kekerasan yang Dianggap Biasa

ADVERTISIMENT

Oleh: Moh. Riski Kohar*)

Dalam dunia pendidikan, kita sering melihat orang saling meledek. Ada yang menyebutnya roasting, ada juga istilah lokal seperti “kacoan”. Sekilas, semua itu terlihat biasa saja sekadar candaan untuk mencairkan suasana. Bahkan sering dianggap sebagai tanda keakraban. Tapi, kalau diperhatikan lebih dalam, tidak semua candaan benar-benar lucu bagi semua orang.

Sering kali, ada pihak yang jadi bahan tertawaan terus-menerus. Mungkin fisiknya, latar belakangnya, atau sifat pribadinya dijadikan bahan lelucon. Yang lain tertawa, tapi orang yang jadi sasaran hanya bisa diam. Di sinilah masalah mulai muncul. Candaan yang seharusnya menyenangkan justru berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan.

Masalahnya, hal seperti ini sering dianggap wajar. Kalau ada yang tersinggung, justru dia yang dibilang “baper” atau tidak bisa bercanda. Akibatnya, orang yang sebenarnya terluka jadi memilih diam agar tidak dijauhi. Lama-lama, kebiasaan ini dianggap normal, padahal dampaknya bisa serius mulai dari menurunnya rasa percaya diri sampai merasa tidak dihargai.

Orang yang sering meledek juga belum tentu berniat jahat. Kadang mereka hanya ingin dianggap lucu, ingin diperhatikan, atau ingin diakui oleh teman-temannya. Sayangnya, cara yang dipilih justru dengan menjadikan orang lain sebagai bahan candaan. Tanpa sadar, itu membuat hubungan jadi tidak sehat.

Kalau dibiarkan, budaya seperti ini bisa terus berulang. Apalagi sekarang ada media sosial, di mana candaan yang kasar atau menyindir justru sering mendapat banyak perhatian. Orang jadi berlomba-lomba tampil “paling lucu”, meski harus mengorbankan perasaan orang lain.

Masalah ini tidak cukup diselesaikan dengan larangan atau hukuman saja. Memang, aturan tetap penting. Tapi yang lebih penting adalah mengubah cara kita memandang orang lain. Kita perlu mulai sadar bahwa setiap orang punya perasaan yang harus dihargai.

Candaan bukan berarti bebas tanpa batas. Ada tanggung jawab di dalamnya. Kita tetap bisa bercanda, tapi tanpa menjatuhkan atau mempermalukan orang lain. Justru candaan yang baik adalah yang membuat semua orang bisa tertawa bersama, bukan hanya sebagian.

Lingkungan pendidikan, seharusnya menjadi tempat yang aman untuk semua orang. Bukan hanya tempat belajar pelajaran, tapi juga belajar bagaimana saling menghargai. Guru, dosen, dan semua yang ada di dalamnya punya peran untuk menciptakan suasana itu.

Kita perlu bertanya pada diri sendiri, apakah candaan kita membuat orang lain senang, atau justru terluka? Karena tidak semua tawa berarti bahagia. Ada juga tawa yang menutupi luka. Dan di situlah kita perlu mulai berubah.

*) Mahasiswa Pascasarjana Universitas Annuqayah Sumenep.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga