Image Slider

Menakar Inovasi dan Modal Sosial NU di Abad Kedua

Oleh: Abdul Warits*)

Setiap organisasi yang sudah berusia ratusan tahun pasti mengalami dinamika di dalam gerak perjalanannya. Dinamika itu muncul disebabkan konflik kepentingan, perebutan kekuasaan, dominasi, konflik internal, dan lain-lain. Atau bahkan karena hal hal sepele seperti kejumudan rutinitas dan aktivitas organisasi yang membuat pengikutnya jenuh dan program-program yang berkutat pada “tradisi lama”.

Sebagaimana kita saksikan bersama, kasus konflik kepentingan, perebutan kekuasan, dominasi, konflik internal dan rezim yang “tidak sehat“ seringkali terjadi di organisasi NU.  Walaupun, dalam gerak perjalanannya, dinamika dan perkembangan NU di dalam merespons isu-isu sosial kemasyarakatan, tahun demi tahun, periode demi periode, terus di-update. Akan tetapi, disadari atau tidak, NU yang jumawa sebagai organisasi terbesar di dunia, jamaahnya membludak, konflik kepentingannya banyak, terkadang dengan modal sosial  yang dimilikinya tidak bisa melakukan pemberdayaan yang layak dan berdampak di tengah-tengah masyarakat.

16 sub judul di dalam buku ini menghadirkan solusi solusi penting bagaimana inovasi NU di abad kedua perlu menjadi perhatian di dalam mengurus NU. Solusi yang ditawarkan di dalma buku ini dihadirkan dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM) NU, Kesehatan, Perekonomian, Pendidikan, Teknologi, Sains, Dakwah, Transformasi digital. Setidaknya buku ini menjadi alarm bagi NU agar terus mengevaluasi setiap capaian yang telah berhasil diraihnya dan tidak jumawa hanya karena NU tidak kekurangan modal sosial. Akan tetapi, bagaimana modal sosial tersebut diolah menjadi kekuatan yang lebih terorganisasi, produktif, dan relevan dengan persoalan masyarakat kontemporer. (Hal.5)

Setiap sub judul di dalam buku ini memberikan otokritik kepada NU agar terus berbenah. Salah satu otokritik itu seperti tradisi perekrutan pengurus NU berdasarkan rezim, kedekatan, berdasarkan nasab, bukan berdasar kompetensi keilmuan dan bidang di dalamnya. Meskipun setiap organisasi pasti akan terus melakukan pengkaderan kepemimpinan dari masa ke masa, tetapi pengalaman bersentuhan dengan masyarakat akar rumput harus menjadi prioritas. Karena, pemimpin yang memiliki pengalaman riil merangkak dari bawah (base-oriented) mutlak diperlukan agar pimpinan NU benar-benar memahami permasalahan akar rumput, bukan sekadar teoritis. Sehingga, NU dirasakan kehadirannya dan berdampak di tengah-tengah masyarakat. (Hal. 16).

Maka di tengah kejumudan rutininas yang shalih harus dibarengi dengan bagaimana menciptakan program dan gerakan yang muslih (memperbaiki) atau dalam istilah Ahlussunnah wal jamaah mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik (inovasi) tanpa kehilangan identitas, karakter, khittah, yang telah diwariskan oleh para pendiri NU. NU di abad kedua membutuhkan keberanian untuk berinovasi, beradaptasi, dan kembali fokus pada pemberdayaan umat demi mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan beradab. Tradisi harus dipertahankan, namun visi misi harus diperbarui. (hal. 12)

Modal sosial yang dimiliki NU harus sejalan dengan inovasi yang harus dilakukan, disesuaikan dengan perkembangan zaman yang semakin melaju cepat. Di dalam buku ini juga disoroti bagaimana tata kelola NU yang harus profesional, SDM unggul dengan mengembangkan prodi kedokteran di PTNU, orkestrasi kemandirian ekonomi warga NU, ekosistem data digital, bahkan permasalahan mental di dalam berdakwah di dunia digital hingga melahirkan “ulama digital”. Karena, jika abad pertama adalah tentang mempertahankan  tradisi dan eksistensi, maka abad kedua haruslah tentang profesionalisme, saintifikasi, dan transformasi mental. (hal.35)

Salah satu kelebihan di dalam buku ini membahas gagasan gagasan jangka panjang bagaimana NU memasuki abad kedua. Akan tetapi, dari beberapa sub judul belum tergambarkan sisi bagaimana NU memberikan kritik, mental baru, terhadap program-program pemerintahan yang ada. Sebab jika hanya berkutat pada gagasan besar maka NU akan menjadi kepanjangan proyek dari program-program yang dicanangkan oleh pemerintah.

Oleh sebab itu, memasuki abad kedua, NU harus menjadi organisasi profesional yang bertumpu pada validitas data. Sebagaimana diketahui, era teknologi digital adalah era  data yang presisi. Hampir semua institusi berlomba untuk  mengumpulkan data atau yang biasa disebut dengan istilah big data. Tanpa data riil dan presisi, NU sulit bertransformasi. Dari big data inilah, NU harus mengolah, menganalis, sehingga bisa bersuara dan memberikan kritik terhadap program pemerintah yang merugikan warga nahdliyyin.

Maka menjadi urgen organisasi yang besar di abad kedua bukan lagi organisasi yang paling keras suaranya dalam mengklaim massa, melainkan organisasi yang paling rapi dalam administrasinya dan paling akurat dalam datanya. Pentingnya data bagi Nahdlatul Ulama (NU) ke depan, terutama memasuki abad kedua organisasi, sangat krusial untuk transformasi digital, modernisasi manajemen, dan pemberdayaan jamaah dan dampaknya terukur dan tepat sasaran.

Identitas Buku

Judul                : NU Abad Kedua: Merawat Akar, Menjemput Masa Depan (Sebuah Otokritik)
Penulis             : KH. Imam Jazuli, Lc., MA
Editor                : Muhammad Husain Sanusi
Penerbit            : PT. Damai Banawa Semesta
Cetakan            : Pertama, September 2026
Tebal                : 148 halaman
Ukuran              : 14 × 20,5 cm
ISBN                : 978-634-96639-7-7

*) Sekretaris LTN PCNU Sumenep Masa Khidmah 2026-2031.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga