Guluk-Guluk, NU Online Sumenep
Pesantren dapat dikategorikan sebagai lumbung seni musik Islami. Karena dimensi musikal religi tercermin dalam representasi dari nadham gubahan para kiai, yang dibaca oleh santri.
Atas dasar hal itu, Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk, Sumenep menggelar Seminar Paduan Suara. Kegiatan yang sekaligus memperingati Harlah PSM INSTIKA ke XVI ini dipusatkan di aula Asy-Syarqawi, Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, Kamis (04/02/2021).
Acara yang bertajuk ‘Ekspresi Musik: Pemersatu Bangsa’ ini menghadirkan KH Baihaqi Syafiuddin dan Ustadz Firdausi sebagai pemateri. KH Baihaqi Syafiuddin menjelaskan perbedaan antara Mars dengan Hymne. Disebutkan bahwa ciri khas Mars tersebut memuat semangat perjuangan, dengan lirik yang cenderung provokatif. Sedangkan Hymne bersifat puji-pujian.
“Mars itu lagu-lagu yang isinya untuk memberikan semangat perjuangan. Sedang Hymne lebih menonjolkan pada hal yang bersifat pujian. Biasanya pujian ditujukan kepada Tuhan atau sesuatu yang dimuliakan,” ujarnya.
Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep ini pun memberikan contoh terkait Mars dan Hymne tersebut. Mars contohnya seperti lagu Indonesia Raya, Maju Tak Gentar, Halo-Halo Bandung, dan yang lainnya. Sedangkan Hymne contohnya meliputi Syukur, Gugur Bunga, Mengheningkan Cipta, dan yang lainnya.
Selain itu, Ia juga memberikan tips untuk memperoleh karya seni yang estetik. Disebutkan bahwa agar tercipta seni yang indah, seorang penggubah lagu dituntut untuk mencari inspirasi yang bagus, dengan ditunjang pengalaman yang mempuni. Jika hal ini telah dilalui, maka akan terciptalah musik pemersatu bangsa seperti lagu Indonesia Raya.
“Perhatikan melodi atau naik turunnya nada atau suara. Di sana ada frekuensi yang tetap. Jangan lupa, ikuti notasinya,” pintanya.
Dipercaya Mencipta Mars dan Hymne INSTIKA Sumenep
Pencipta Mars dan Hymne INSTIKA ini menceritakan, bahwa melodi dan syair Mars INSTIKA dibuat sesuai dengan kondisi masa itu, yaitu di masa Orde Baru. Kemudian diresmikan saat pembukaan STIKA (kini INSTIKA) pada tahun 1984 dan direvisi pada tahun 2012. Ia menegaskan, bahwa lagu tabarruk tersebut diprakarsai atas instruksi Almaghfurlah KH M Amir Ilyas dan KH M Ashim Ilyas, dewan pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Sumenep kala itu.
“Saat kami menjabat sebagai Sekretaris Yayasan Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Kiai Amir meminta kepada saya untuk membuat lagu tersebut. Beliau meminta agar tidak menjiplak karya orang lain, karena setiap karya ada hak ciptanya,” kenangnya.
Inspirasi dalam mencipta Mars dan Hymne INSTIKA tersebut menurutnya diilhami dari pengalamannya yang sedikit banyak mengusai genre lagu Melayu, Gambus, Dangdut, dan lainnya.
“Sebab pengalaman itulah, Kiai Amir dan Kiai Ashim memerintahkan kepada saya untuk menciptakan Mars dan Hymne INSTIKA tersebut,” tuturnya.
Mantan Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Pragaan Sumenep tersebut menceritakan pengalamannya, bahwa saat ia dinyatakan lulus dari Pesantren Sidogiri, ia dipercayai mengkoordinatori drum band PAC GP Ansor Pragaan, karena saat itu para pemuda sedang demam.
“Ini tantangan buat saya, karena lulusan pesantren dituntut serbaguna atau multifungsi untuk mengembangkan ilmu pengetahuannya, termasuk di bidang seni musik. Sejak itulah kami mengenal musik,” curahnya.
Di akhir acara, KH Baihaqi Syafiuddin memperlihatkan teknik bernyanyi, dengan diiringi musik piano.
Editor: Ibnu Abbas

