Cerpen: Helmy Khan
Gerimis baru saja rilis dari langit. Zakib meninggalkan rumah gubuknya. Meniti jalan setapak di antara makam-makam yang membujur kaku di samping mata kakinya. Sesak dadanya, menyentuh batu nisan mendiang istrinya. Pelan, lelaki tua itu berujar, “Inilah sebabnya, mengapa aku tak pernah mau menjual tanah ini. Tanah adalah rumah kita.”
Air matanya tumpah di sela-sela batuk yang mengguncang dada ringkihnya. Dalam bola mata itu, ia seperti kembali pada peristiwa lima tahun silam, ketika ribuan makam di kampungnya remuk diterjang Buldoser. Debu terhempas ke udara. Tak lama, pemakaman itu rata dengan tanah.
Sebelum peristiwa itu terjadi, Ruhma, istinya, selalu meminta tanah sepetak miliknya dijual. Ia ingin menikmati makanan seperti yang diceritakan tetangganya. Lebih nikmat dari olahan tukang masak pesta pernikahan di kampunya. Terhidang sangat rapi di atas piring keramik bersanding dengan sepasang garpu dan sendok yang mengkilat. Perempuan yang dinikahinya lima belas tahun lalu mengaku bosan hidup dalam keterbatasan.
Saban hari, habis salat Subuh atau setelah memberi pakan ternak, istrinya meracau sampai berapi-api. Ia tak hanya mendengar kata-kata istrinya yang mengumpat sampai meradang. Tetangga sebelah pun selalu mencibir, bahwa ia adalah lelaki kolot yang mempertahankan sepetak tanah. Bertani tak bisa membuat kaya, begitu kata warga setiap berpapasan dengan Zakib yang hendak ke sawah. Banyak tanah jatuh ke tangan calo, mereka menjual tanahnya setelah setiap hari disuguhi uang dan iming-iming membuka usaha di kota.
“Aku sudah capek hidup susah.” Ucap istrinya.
“Syukuri apa yang ada. Selama ini kita kan tak pernah kekurangan,” begitu kata Zakib setiap kali istrinya mengeluh.
Awalnya, warga desa Bannaju enggan melepas tanahnya. Mereka juga mempertahankan petuah sesepuh bahwa, ajaga tana ajaga na’ poto, seperti yang Zakib utarakan setiap calo datang padanya. Rupanya, hati mereka tak sekuat karang di lautan, setelah melihat kesuksesan salah satu warga dari hasil mejual tanah, satu per satu mereka pun dengan longgar melepas tanah warisan leluhurnya. Sebagian mereka memilih merantau ke Jakarta. Membuka warung sembako. Sebagian lagi bekerja ke luar negeri menjadi kuli bangunan atau asisten rumah tangga.
Di sisi rumah Zakib banyak rumah mewah berlantai keramik. Bangunan-bangunan itu dibuat dari hasil menjual tanah dan merantau selama bertahun-tahun. Meski hasil menjual tanah sangat nyata, sampai detik ini, Zakib masih menutup rapat-rapat hatinya untuk mejual tanah sebidang warisan ayahnya. Tanah adalah harga diri kita, terlintas kata-kata kakeknya dua puluh tahun lalu. Sebab itulah, ia tak pernah menyetujui istrinya untuk menjual tanah di pinggir sungai itu.
“Kalau seperti ini terus kapan kita bisa membuat rumah.” Celetuk istrinya di depan tungku.
“Kalau semua tanah dijual, siapa nanti yang akan bertani?” datar suara Zakib, berharap istrinya mengerti.
Ia sangat mencintai pekerjaannya sebagai seorang petani. Hasil panen setiap musim sudah lebih dari cukup. Teringat Zakib pada pesan kakeknya sebelum Izrail menjemput di malam yang sunyi, semua pekerjaan sama saja, sama-sama untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ia tak habis pikir, mengapa warga kampung lebih tertarik merantau daripada memanfaatkan ladang di desa. Apa untungnya menjadi perantau di desa orang, jika di kampung sendiri masih ada sawah yang bisa digarap.
Sepoi angin menyibak helai-helai batang padi yang menguning. Terhenti langkah Zakib, melihat sawah-sawah tetangganya disulap menjadi sebuah restoran yang lebih gagah dari masjid kampung sebelah. Sepetak demi sepetak sawah itu jatuh ke tangan calo, hanya sawah miliknya yang masih utuh dengan tangkai padi-padinya.
“Zakib, kapan padimu dipanen,” tanya Maskur di tepi sawah.
“Lima hari lagi. Datanglah ke sini nanti kita arit bersama dan jeraminya bisa kau bawa pulang untuk pakan sapi,” ucap Zakib. Berdiri dari jongkoknya.
Desir angin menggulung asap-asap kecil dari mulut Maskur. Sebatang rokok yang diapit kedua jarinya terasa nikmat, senikmat ketika ia berhasil menaklutkan sepetak tanah dari pemiliknya. Tinggal milik Zakib yang belum ia tundukkan, pastilah jika ia berhasil akan memperoleh upah yang sangat besar.
“Kib, bagaimana dengan tawaranku minggu lalu. Apa kau sudah rembukkan dengan istrimu?”
“Aku tak akan menjual tanah ini.”
“Lihatlah tetanggamu, rumah mereka sangat megah. Apa kamu tak ingin istrimu bahagia?”
“Mengapa harus bangga punya rumah megah, jika peghuninya jauh di tanah rantau sana.”
Tergagap Maskur mendengar kata-kata Zakib. Telinganya seperti disiram air panas, tak pernah ia mendapat sindirian semacam itu selama meminang tanah-tanah warga. Apa yang akan ia katakana kepada lelaki cukong nanti. Tak mungkin ia membatalkan kerja sama itu. Mau tak mau rencana pembangunan kafe harus berdiri di kampung ini.
Pendar sinar rembulan di balik arak-arakan awan tipis. Tergesa-gesa Maskur menapaki jalan setapak yang berair. Tadi sore hujan mengguyur perbatasan kampung, katak-katak bersuka ria memainkan lagu di malam yang sunyi. Pelan langkahnya memasuki pekarangan rumah lelaki cukong.
“Bagaimana hasilnya?”
“Gagal.” Bergetar bibir Maskur berucap.
“Apa tak ada tanah lain. Apapun itu, yang penting kafeku bisa berdiri di atas kampung ini.”
“Tidak ada, semua sawah sudah dipinang para pembeli lain. kecuali…” Maskur tak meneruskan, gugup menyekap dirinya dalam kekhawatiran.
“Kecuali apa?” tanya lelaki cukong penasaran.
Geletar angin menyibak gorden ruangan tengah. Laron-laron bertabrakan merebut cahaya lampu, serupa para kaum pemodal yang memburu tanah warga.
“Pemakaman.”
Satu bulan berlalu, makam-makam di pekuburan kampung mulai rata dengan tanah. Entah apa yang mereka lalukan hingga berhasil menundukkan hati Pak Lurah. Mula-mula warga banyak protes, Pak Lurah menenangkan hati mereka dengan alasan demi kemajuan desa dan kesejahteraan bersama. Usaha Pak Lurah tak sampai di situ, ia juga mendatangi warga bahwa sisa tulang belulang akan dipindah ke tempat lain.
Menjelang fajar, Zakib menyaksikan penyakit istrinya kambuh lagi. Wajahnya pucat, napasya pendek-pendek. Tak akan lama lagi, tinggal menunggu malaikat maut mencabut nyawa perempuan itu. Terkulai Zakib di samping istrinya. Dengan bibir bergetar ia menuntun Ruhma menyebut nama Tuhan. Hanya matanya yang berkedip-kedip seolah ia menahan sakit yang teramat perih. Gerimis mengetuk-ngetuk di atas genting, Zakib menitikkan air mata.
Hingga pukul 9 pagi, penggali kubur masih belum menemukan tanah yang dijanjikan Pak Lurah. Tatapan mata Zakib jatuh di kain kafan istrinya. Mau tak mau tanah sepetak itu harus ia relakan untuk tempat peristirahan terakhir Ruhma.
***
“Tenanglah kau di alam sana.” terpekur Zakib memandang makam istrinya. Nanar matanya menyiratkan kekhawatiran, kelak ia akan dimakamkan di mana, makam-makam warga telah menyesaki tanah sebidang miliknya.
*) Penulis bermukim di Toteker, Banujau Barat. Tercatat sebagai mahasiswa INKADHA Sumenep. Sedang belajar menulis cerpen dan puisi.

