IBU TANAH
Dari tanah, oleh tanah, kembali ke tanah
Sudahkah kita bersyukur
hari ini?
Ibu tanah, telah melahirkan kita ke dunia
Meneteki kita sampai tua
Beliau memang ibu yang
Kelewat sabar
Kita cangkul tubuhnya, ah terlalu sedikit kita pakai buldozer
Ibu tanah diam
Kita cungkil matanya, ah kurang puas kita pakai bor
Ibu tanah tetap diam
Kita obrak-abrik sampai tak berbentuk
Ibu tanah tak pernah marah
Ia yang selalu menjaga kita dan memberi kita makan sampai kenyang
Tapi, kita tamak dan serakah
Kita anak yang durhaka
Ibu mendulang, anak menendang
Ibu kita jual untuk uang
Bila kita mati
Masihkah ibu akan memeluk kita nanti
2021
Belum lengkap segenap suka
Seseorang menangkupkan amin ke dadanya
Taburan bunga
Banjir air mata dimana-mana
Tanah bergerak, gunung-gunung berpindah
Air naik setinggi dada
Datang tiba-tiba, surprise
Ditahun yang baru saja singgah
Orang-orang belum selesai
Dengan aminnya
Semuanya berhenti berdetak
Belum,
Masih belum waktunya!
2021
REFLEKSI
Pandemi mengajari
Untuk bergulat dengan diri
Melawan ego dan nafsu
Melawan ketakutan dan kepongahan
Bahwa kita harus
Bekerja bersama
Untuk menyelamatkan diri
Dari kepunahan
Kita harus beradaptasi
Bukan saling sikut sana-sini
Yang muda kasihan
Pada yang tua; lemah rentan terkena Corona
Yang tua bijak; membimbing pada yang abai, apatis
Pandemi memberi kita lahan
Menyemai bijak dan kebajikan
Kita harus kuat
Agar bisa sampai pada titik selamat
2021
INTERLUDE
Aku diam sejenak untuk mengatur langkah
Maju atau bertahan
Mundur perlahan
Mungkin adalah kepengecutan
Harus ada jeda
Ruang kosong untuk
Mengevaluasi diri
Agar tidak tergesa
Menang bukanlah utama
Harus ada yang tumbuh setelahnya
Itulah mengapa Tuhan menciptakan insomnia sebagai masalah
Dan tidur adalah karunia
Harus ada jeda
Untuk menikmati ruang kosong
Diantara pejam mata
Dan sirkulasi darah
Hidup bukan menunda kekalahan
Tapi jihad melawan trauma
2021
*Zain Munfashil, nama pena dari Zainul Hasan. Kontributor Pcnusumenep.or.id. Saat ini mengabdikan diri di Madrasah Nasyatul Mutaallimin (Nasa) Gapura.

