Image Slider

Puisi-Puisi Badruz Zaman

Peluh Kuning

Sarapan hari ini peluh kuning Ibu.
Hidangan yang ditanak dari keringat jiwa,
beserta lauk doa malam buta.

Tentu, kami bahagia sekali.
Kami tidak sabar ingin mengunyah lezatnya ketabahan.
Meminum segelas keras kehidupan.

Kami tak perlu khawatir pada gizi yang dikandung.
Kandungannya, tentu melebihi empat sehat lima sempurna.
Ibu senang melihat kami belepotan begitu lahap,
dan kami takjub mendengar hati Ibu yang berisik:
“Nikmat itu bersahabat dengan alam, dengan tanah kelahiran,
dan dengan kerja keras serta dengan kehidupan.” *

Kami mengangguk berujung hidangan itu bersih.
Ibu girang diseling doa yang mengiring.
Dalam diam, doa itu menusuk langit kelam.

Lughulu, 2019

Menjerang Ingatan

Anak bungsu itu suka minum kopi.
Pada kopi ia memperoleh keuntungan berlipat ganda:
menumpahkan segala luap hatinya, menulis puisi atau cerita.

Ia bukan keturunan kutu buku atau seniman.
Tetapi, bakatnya tampak setelah Tuhan menulis takdir,
suatu waktu ia kaya akan imaji.

Benar, ia memperoleh kebahagiaan dari yang sudah-sudah.
Wajahnya yang santai membuat nalarnya semakin mengakar.

Lama pada kopi ia jatuh cinta.
Bukan karena kopi ia jadi bahagia.
Hanya bernasib puas, hanya limpahan sepi
dan derita yang sanggup ia piara.

Lughulu, 2019

Malam Keempat Puluh Fatihah yang Teduh*

Dari dua bibir yang mengatup perkenankan madah kutiup. Diiring tawasul yang melimpah, kurapal namamu yang telah mengakhiri hayah. Aku seutuh doa yang lari dari tangan anak saleh yang mengekalkan harapan pada bulir air mata, mengetuk takdir pada kesunyian yang baka. Agar tangan tidak lagi terkepal dan terburai, kupilih malam untuk memanjatkan segala harapan. Hari seperti lamban untuk sekadar mengakhiri kenyataan. Karena tawamu lebih dulu menyusun kenangan-kenangan. Hingga doa-doa datang untuk dilantunkan. Bunga-bunga sampai untuk ditaburkan. Kau pun menjadi ingatan yang sukar untuk dilupakan. Setelah aku terhidang untuk kautelan.

Lughulu, 2019

 

*Bait pusi Madura karya Abdul Hadi WM
*) Puisi persembahan untuk Kiai Muhammad Zamiel El-Muttaqien Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah

Badruz Zaman lahir dan tinggal di kampung halamannya, Kemisan Lughulu. Ia mengarang puisi dan cerita pendek, terlibat di SäKSI dan Lesehan Sastra Annuqayah (LSA). Sehari-hari menghabiskan waktu di Bilik Buku. Bisa dihubungi lewat badruzz796@gmail.com.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga