Image Slider

Peran Kiai dalam Benturan Peradaban

Oleh: Ach Subairi Karim

Ketua umum PBNU, KH Said Aqil Siroj di berbagai kesempatan mengatakan bahwa ada teori Samuel Huntington, seorang guru besar ilmu politik dunia, yang menyebutkan bahwa pasca bubarnya Uni Soviet tahun 1991, dunia akan diguncang perang peradaban: yaitu perang di mana perbedaan agama dan suku akan dijadikan alat untuk berpecah antar anak bangsa.

Teori tersebut di negara timur tengah sudah banyak terbukti. Benturan peradaban atas nama agama dan suku telah memicu gelombang protes antipemerintah, dan pemberontakan bersenjata sejak awal tahun 2010, dan telah meluluhlantakkan negara Tunisia. Dari Tunisia, perang peradaban itu kemudian menyebar ke lima negara lainnya; Libya , Mesir, Yaman, Suriah, dan Bahrain.

Sementara Afghanistan dan Somalia, telah lebih dahulu dilanda perang. Bermula dari negaranya ingin dibentuk negara Islam tetapi malah memunculkan pro dan kontra. Akhirnya yang terjadi, syariat Islamnya tidak jalan, negaranya malah hancur lebur berkeping.

Banyak orang tercengang, benturan peradaban itu saat dimainkan di Indonesia yang plural dan heterogen justru tidak berhasil memecah belah bangsa. Tak ada perang sipil. Keberagaman agama, suku, ras, dan antar golongan justru menjadi faktor penguat keutuhan bangsa dan negara. Bukan kesamaan yang membuat kita kuat, tapi kebhinnekaan yang disadari penuh yang membuat bangsa utuh.

Benturan peradaban yang dipicu masuknya berbagai aliran trans nasional seperti wahabi, salafi, jihadi, dan terakhir takfiri yang merasuk sejak tahun 1980 ke negeri ini, kalau mau dilihat sekadar buku kecilnya sepertinya telah membuat hiruk pikuk kehidupan kebangsaan yang dahsyat, menimbulkan gesekan sosial, dan membangun ujaran kebencian di tengah masyatakat. Tapi jika dilihat dari buku besarnya, justru warna aliran itu menjadi hazanah kekayaan aliran di Indonesia. Benturan sosial tidak sampai menimbulkan perang horizontal seperti di Arab.

Bagi warga nahdliyyin, kehadiran banyak aliran agama tersebut sesungguhnya telah menajamkan pisau hujjah keilmuan dan mendewasakan sikap kebangsaan.

Bayangkan, seandainya tidak ada tantangan banjirnya aliran, maka hujjah NU yang termaktub dalam ribuan kitab klasik tetap akan jadi buku tebal yang rapat, tertutup dan mati.

Dulu, di awal-awal, saat kelompok radikal menguasai media tahun 2004, hati pernah ciut. Namun cerita ibu Shuniyya yang didapatkan dari Ibu Andree Fiellard, penulis senior asal Perancis, tahun 2005 Gusdur pernah menebak bahwa anak muda NU akan bangkit 10 tahun lagi. Kita akan panen. Mereka akan kalah dengan anak muda Nu. Benar saja, 10 tahun berikutnya, tahun 2015, gelombang bah perlawanan anak muda NU pada kalangan ekstremis telah memukul mundur semua wacana radikalisme yang membanjiri media dan melahirkan benturan peradaban di mana-mana.

Kenapa di tengah gelombang benturan itu Indonesia tetap kuat?, banyak pengamat menilai karena warna Islam yang masuk ke Indonesia sejak awal kental dengan warna sufi. Bukan hanya warna fiqih saja tapi sarat sosiologis dan sufistik.

Kekuatan lainnya, karena di Indonesia banyak pesantren dan kiai yang mampu menjahit teks- teks agama dengan konteks kehidupan kebangsaan, sehingga ekspresi keislaman tetap ramah, santun, dan damai, serta elastis dan tak mudah pecah.

Kementerian Agama menyebutkan ada 28.194 pesantren dengan 5 juta santri mondok tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Jumlah yang sangat menggetarkan.

Karakter Pondok pesantren di Indonesia juga inklusif, terbuka terhadap modernitas dan ramah terhadap tradisi lokal. Pesantren sejak awal telah menjadi lembaga sosial yang menakjubkan, pandai berbaur dengan masyarakat sekitar, dan selalu membuka komunikasi dengan pemerintah atau umara’.

Bukan hanya kekuatan sosial, belakangan bahkan banyak pesantren bergerak di bidang ekonomi kemasyarakatan, sehingga pesantren makin kuat dan mandiri secara ekonomi.

Ribuan pesantren itu diasuh oleh ribuan kiai yang pandai memaknai terminologi Fiqih dalam kemasan tasawuf dan akhlaq keseharian warganya.

Para kiai juga pandai memaknai Jihad yang selalu dipahami kelompok radikal sebagai perang fisik dengan kafir. Kiai tahu bahwa menurut kitab Fathul Muin hukumnya Jihad Fardu Kifayah, dan minimal jihad itu dilakukan setahun sekali.

Praktiknya, yang mengaji kitab Fathul Muin kiai pesantren tak ada yang mengajak perang fisik, malah kelompok yang tidak mengaji kitab klasik selalu mengobarkan semangat jihad dalam makna perang fisik, untuk memantik perang peradaban. Mereka yang terprovokasi berangkat ke Suriah untuk berperang, meski sampai di sana banyak yang sadar indahnya hidup di Indonesia.

Kenapa kiai Nusantara terlihat santai?, karena kiai nusantara tahu tekstual kitab sekaligus memahami penerapannya. Apa yang tertuang dalam kitab klasik tidak langsung disalin mentah-mentah menjadi konflik sipil. Ajaran fiqih oleh para kiai ditimbang dengan teliti dan matang disesuaikan dengan konteks ahwal kehidupan kebangsaan.

Bagi kiai setiap ada hal selalu ada muqtadal hal, setiap ada maqal selalu ada muqtadhal maqal. Setiap ajaran tak bisa diterapkan apa adanya, tapi harus dipikirkan konteksnya dengan bijaksana.

Bagi kiai pesantren, jihad fi sabilillah bukanlah tindakan balas dendam dan menzalimi kaum yang lemah, tetapi malah sebaliknya, melindunginya. Jihad tidak semata-mata dimaknai membunuh orang kafir dan melakukan teror terhadap mereka, karena Islam menghormati hak hidup setiap manusia.

Jihad ditangan kiai, dibagi menjadi dua. Pertama, dakwah billisan dengan cara ta’lim, tabligh, amar makruf, nahi mungkar dengan cara ma’ruf dan juga aktifitas politik. Kedua, jihad bil mal, dengan menginfakkan harta benda di jalan Allah. Ketiga Jihad bil anfus/bil-qital, memerangi kafir yang memerangi umat Islam, dan hidup berdampingan dengan non muslim yang mematuhi aturan negara.

Era kekinian, arti jihad oleh kiai NU semakin dimaknai kontekstual yaitu memerangi musuh yang berbentuk pemikiran-pemikiran liberal, radikalisme, fundamentalisme, westernisasi, aliran sesat, dan lain-lain. Termasuk juga membaca dengan cermat musuh-musuh media.

Menghadapi jihad kekinian tersebut, warga NU tidak usah terlalu risau. Dengan kematangan kita pada konten agama yang moderat, berbagai provokasi kekerasan atas nama agama di medsos itu nantinya akan menjelma menjadi buih yang akan terhempas dengan sendirinya dilemparkan gelombang ke tepi pantai.

Sementara kita yang membawa manfaat besar bagi kehidupan, percayalah akan bertahan lama. Hukum alam, setiap ada aksi pasti ada reaksi. Setiap ada narasi provokasi yang bisa memantik benturan peradaban, maka akan disambut dengan reaksi perlawanan yang besar pula. Kalau tak ada reaksi, maka orang akan seenaknya menghancurkan tempat- tempat beribadah kaum beragama.

Kiai pesantren memang tidak menolak berbagai aliran yang masuk; terbuka pada semua aliran, tapi jika aliran tersebut tak bisa beradaptasi dengan kultur budaya bangsa, maka akan ditelanjangi balik, dibubarkan dan dipulangkan ke negerinya.

Kekuatan kiai juga dapat dibaca dengan banyaknya santri sebagai penerusnya. Berbeda dengan kiai Arab yang banyak kitabnya tapi tak punya santri. Santri bagi kiai di nusantara adalah kitab generasi. Karena santrilah yang akan membangun komunitas dan sikap hidup moderasinya untuk menguatkan keberadaan NKRI. Kiai dan santrilah yang menguatkan pluralisme di Indonesia tahan dari segala benturan dan badai.

Demokrasi bisa tegak di Indonesia, karena peradaban yang dibangun oleh komunitas kiai dan santri. Kiai di Indonesia tidak mempolitisir agama. Kiai tahu takaran ajaran agama yang pas sebagai menu sajian hidangan politik dan agama.

Islam bagi kiai menjadi nafas, menjadi denyut nadi. Kiai yang benar menghadapi gelombang benturan peradaban tetap terlihat santai, tapi tak kehilangan pegangan pada aqidah dan syariah. Kiai pandai memosisikan dirinya.

Kiai nusantara mengajarkan hikmah, sehingga menghasilkan banyak kebaikan. Kiai nusantara hidup ikhlas, tak mudah terhanyut untuk viral. Yang mudah viral akan mudah tenggelam. Viral sesaat ukurannya hanya hari, bulan atau tahun. Tapi peradaban yang dibangun kiai nusantara, menjangkau berabad-abad lamanya.

Di tangan kiai nusantara, Islam Indonesia punya mikanisme kultural tersendiri untuk merawat keragaman.

*) Wakil Ketua PCNU Sumenep

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga