Bluto, NU Online Sumenep
Resepsi Hari Lahir Nahdlatul Ulama (NU) yang ke-98 dalam hitungan Hijriyah digelar oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep. Dalam helatan yang sekaligus dilakukan pelantikan PCNU Sumenep dan lembaga ini dipusatkan di Pondok Pesantren Nurul Islam Karang Cempaka, Bluto, Sumenep, Senin (01/03/2021).
Acara yang mengusung tema “Menyongsong Satu Abad, Meneladani Muassis Menuju Kemandirian NU” ini dihadiri oleh KH Miftachul Akhyar Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahsanul Haq Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, dan undangan lainnya.
Dalam amanatnya, KH Miftachul Akhyar menyebutkan beberapa rumusan yang menjadi agenda utama dalam menyambut An-Nahdlah Ats-Tsaniyah.
“Ada empat hal yang menjadi agenda utama dalam menyambut NU di abad kedua, yaitu grand media, grand desain, grand strategi, dan grand kontrol,” ungkapnya.
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini pun menjelaskan secara singkat terkait empat hal dimaksud di atas. Disebutkan bahwa grand media merupakan suatu upaya untuk mencermati kembali terkait dengan visi dan misi organisasi yang diwariskan oleh muassis NU.
“Visi-misi harus dihidupkan, sehingga Nahdliyin tahu sosok NU yang sebenarnya,” bebernya kepada para hadirin.
Selanjutnya terkait dengan grand desain dimaksudkan untuk merancang ulang kekuatan dan kelebihan yang dimiliki oleh NU dan jamaahnya.
“Kita harus tahu siapa NU ini, dan untuk apa NU dibentuk. Kita harus menata ulang aturan-aturan yang keropos dan rapuh. Kita harus bisa mengembalikan kejayaan pada masa-masa tempo dulu, seperti di masa muassis,” ungkapnya.
Mengenai grand strategi, Pengasuh Pondok Pesantren Miftachussunnah Surabaya ini menjelaskan, bahwa segala bentuk strategi harus diatur dan ditata dengan baik, utamanya dalam penguatan kaderisasi.
“Diupayakan program-program kaderisasi seperti Pendidikan Kader Penggerak (PKP), Madrasah Kader (MK), dan lainnya dapat bermanfaat untuk masyarakat secara luas,” tegasnya.
Sehubungan dengan grand kontrol ia menyebutkan, bahwa segala hal yang telah diperbuat dan berlalu hendaknya dapat dikontrol dengan baik. Bahkan, perlu adanya pembaharuan kontrol.
“Di NU itu tidak ada yang namanya kepentingan pribadi, semua kepentingan hanya untuk ummat. Jangan jadikan NU sebagai komoditi bagi kepentingan pribadi dan golongan tertentu,” jelasnya.
Terakhir, ia pun meminta konsep atau sumbangan pemikiran dari warga NU Sumenep, untuk kemajuan NU ke depan.
“Mohon sumbangan pemikiran dari kalian (Nahdliyin Sumenep) untuk NU ke depan,” pungkasnya,” pungkasnya.

