Oleh: Lukmanul Hakim
Gosip terkadang dipanjangkan menjadi “digosok makin sip.” Gosip seakan-akan sudah menjadi barang keseharian yang sering kita lihat di layar kaca. Gosip juga telah berubah menjadi barang dagangan unggulan untuk diekspos. Gosip mulai dari perceraian, perselingkuhan, hingga terjadi pembunuhan. Padahal di dalam agama Islam, gosip sudah dikategorikan menjadi ghibah yang berakibat terhadap rusaknya pahala ibadah.
Gosip pada intinya menceritakan serta mengumbarkan aib orang lain yang belum tentu apa yang telah diperbincangkan itu benar. Jika gosip tetap dibiarkan, maka tidak sedikit yang ujung-ujungnya menjurus kepada lingkaran fitnah, sehingga membuat orang lain merasa resah. Tidak heran kiranya jika ada salah satu organisasi massa yang mengeluarkan pernyataan bahwa infortainmen di televesi yang selalu berisi gosip setiap hari sebagai sesuatu yang segera mungkin dihindarkan.
Di luar itu, terkadang gosip dan semacamnya timbul dalam kegiatan keseharian. Misalnya, dalam lingkungan sekolah, pondok pesantren, hingga masyarakat yang mungkin kita sering mendengar teman yang asyik menggosipkan teman lainnya. Macam-macam tema gosip yang biasa beredar dikalangan siswa sekolah, mulai gosip teman yang mempunyai masalah hingga terjadi pada guru yang dianggap galak disekolahnya. Kita selaku manusia yang diberikan akal sehat oleh Allah SWT, jangan sampai terjebak pada pembicaraan yang tidak ada untungnya.
Begitulah, pangkal gosip yang paling parah adalah bermuara kepada lidah. Lidah laksana pedang, ia bisa menyakiti siapa pun. Perasaan hati yang sakit oleh lidah jauh lebih sakit dari pada tergores ujung pedang. Lidah terkadang menjadi sumber kedamaian atau pun malapetaka bagi kehidupan.
Al-Qur’an telah menginformasikan bagaimana lidah bisa menggambarkan tabiat seseorang yang memilki sifat munafik. Orang munafik bisa bersilat lidah bergantung pada situasi dan kondisi yang diinginkannya nanti. Sebuah cara yang tidak beradab dan penuh dengan kepalsuan bisa dilakukan dengan perantara lidah ini.
Dalam karya Sa’id Hawwa yang berjudul al-Mustakhlash Fi Tazkiyatil Anfus, dikisahkan ada seseorang yang datang kepada ulama untuk meminta 700 ketenangan dalam tujuh kalimat yang dapat ia amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Lalu orang itu berkata, “Wahai orang bijak, saya datang untuk mendapatkan ilmu yang telah Allah SWT berikan kepadamu. Beritahukan kepada saya tentang langit dan apa yang lebih berat dari-Nya. Tentang bumi dan apa yang lebih luas dari-Nya. Tentang batu dan apa yang lebih keras dari-Nya. Tentang api dan apa yang lebih panas dari-Nya. Tentang salju dan apa yang lebih dingin dari-Nya. Tentang lautan dan apa yang lebih kaya dari-Nya. Tentang orang miskin papa dan apa yang lebih hina dari-Nya?” Kemudian ulama tersebut menjawab, “Ketahuilah, sesungguhnya berdusta atas orang yang tidak bersalah lebih berat dari pada segenap langit. Kebenaran lebih luas dari pada bumi. Hati yang ikhlas lebih kaya dari pada lautan. Ketamakan dan kedengkian lebih panas dari pada api. Kebutuhan akan kerabat apabila tidak berhasil lebih dingin dari pada salju. Hati orang kafir lebih keras dari pada batu. Penghasut apabila terbongkar perkaranya lebih hina dari pada orang miskin papa.”
Yang perlu digaris bawahi di sini adalah masalah menghasut. Salah satu efek pekerjaan lidah adalah menghasut. Misalnya, ada seseorang yang iri kepada orang lain, lalu orang yang iri tersebut menghasut teman-temannya agar membenci orang yang ia benci tersebut. Perbuatan menghasut sangat dibenci oleh Allah SWT. Upaya menghasut, mengadu domba, atau memprovokasi dalam bahasa agama Islam disebut namimah. Ancamannya pun sangat berat, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya orang-orang yang suka menghasut tidak akan masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hakikat namimah adalah menyebarkan rahasia dan merusakkan tabir. Tidak seharusnya setiap keadaan yang tidak disukai disampaikan kepada orang lain, kecuali jika ditujukan untuk kemaslahatan kaum muslim atau menolak kemaksiatan seperti kesaksian di pengadilan. Selain ancaman tidak masuk surga, penghasut dikecam sebagai manusia yang paling buruk perilakunya.
Menghasut sangat berbahaya jika biarkan dalam kehidupan sosial beragama. Hal yang terjadi adalah munculnya benih saling mencurigai di antara sesama, jatuhnya nama baik dan martabat seseorang, dan hal yang terpenting adalah terciptanya kekacauan, ketidak stabilan, dan ketidak harmonisan dalam menjalani kehidupan. Nabi Muhammad SAW mengecam orang-orang munafik di Madinah karena perilaku kotornya suka menghasut saat beliau berhijrah. Kebiasaan menghasut sepertinya sudah menjalar dan meluas di berbagai negeri. Lihat saja, beberapa kerusuhan antar etnis begitu menjamur di beberapa negeri. Karena hasutan yang tidak karuan. Selain itu, sebagai remaja seharusnya kita tidak terjebak dalam keadaan seperti itu. Wallahu A’lam.
*) Mahasiswa Semester VIII Prodi PAI Instika Guluk-Guluk, Kepala Perpustakaan MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021, dan Sekretaris Lajnah Falakiyah Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021.

