Gapura, NU Online Sumenep
Acara pelantikan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Gapura yang diawali dengan berbagai lomba, tentu akan membuat semarak kegiatan. Akan tetapi, seremonial semacam itu akan sia-sia jika tidak ditutup dengan tausiyah ke-NU-an. Sebab sudah menjadi tradisi Nahdlatul Ulama untuk selalu meminta nasehat dan petunjuk dari para Kiai dan ulama.
Sebab alasan itulah, MWCNU Gapura mengundang K Muhammad Shalahuddin A Warist, Sabtu (27/03/2021) di Aula Kantor MWCNU Gapura. Ra Mamak, sapaan akrabnya, mengawali ceramahnya dengan menyebut bahwa hal-hal yang ia sampaikan hanyalah sebuah catatan pinggir.
Lebih lanjut, Ra Mamak mengatakan, NU itu didirikan untuk mengantisipasi dan mengatasi krisis global. Disebutkan pula, bahwa NU lahir di tengah krisis pasca perang dunia kesatu. Fase ini dikatakan sebagai kebangkitan pertama, yang ditandai dengan tiga krisis, yaitu krisis metodologi, epistemologi, dan cara pandang.
“Hal ini ada karena dipengaruhi oleh kolonialisme. Dan NU lahir untuk menyiapkan hal itu, setelah kerajaan-kerajaan dunia runtuh, seperti halnya Turki Ustmani,” ujarnya.
Dari tiga krisis itulah para kiai berinisiatif untuk mendirikan sebuah organisasi. Semisalnya 10 tahun sebelum NU berdiri, sudah berdiri Taswirul Afkar. Kemudian pada tahun 1914 ada Nahdlatut Tujjar, hingga kemudian juga muncul Syubbanul Wathan.
“Artinya, hadirnya para kiai sebenarnya untuk menjawab krisis global tersebut. Kemudian para kiai berkumpul di Bangkalan di kediaman KH Muntaha untuk meminta nasehat kepada KH Muhammad Kholil Bangkalan,” jelasnya.
Tujuan awal NU berdiri ialah untuk melawan Wahabi di Mekkah, yang mau membongkar bukti-bukti sejarah Nabi. Namun, pada akhirnya NU berdiri bukan hanya untuk urusan itu, akan tetapi NU lahir untuk mendirikan Indonesia.
Namun demikian, menjelang An-Nahdlah As-Tsaniyah, NU mengalami krisis sistem. Hal tersebut karena banyak yang sibuk dengan kesibukan orang lain. Semisal sibuk menjual produknya orang lain, pupuk kimianya orang lain, rokoknya pun punya orang lain.
“Jika seperti ini, bagaimana NU ini bisa mandiri secara ekonomi. Padahal sumber daya itu adalah masyarakat NU, petani tembakau orang NU, petani jagung Madura pun orang NU. Bahkan, saat ini jagung pun dijajah dengan jagung luar negari, benih padi pun dari luar. Dan kita pun merasa tidak percaya diri dengan jagung dan padi kita sendiri. Bahkan pula, pupuk pun petani NU bergantung pada kimia,” tegasnya.
Kiai Mamak menyebutkan bahwa titik lemah nahdliyin ialah di bidang keahlian. Oleh karena itu, dalam kepengurusan seharusnya ada kaderisasi yang jelas dan tepat, baik harian maupun lembaga. Sehingga dalam menyambut kebangkitan NU yang kedua tidak lagi krisis sebagaimana disebut di awal,” imbuhnya.
Maka, untuk menyambut kebangkitan NU kedua ini perlu adanya daya kritis yang kuat dari warga NU, khususnya Gapura. Warga NU harus kritis melihat gerakan-gerakan anti-nasionalis, seperti adagium persatuan umat Islam.
Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah ini pun mengajak seluruh nahdliyin agar tidak terlena dan menghentikan bantuan-bantuan yang sifafnya internasional, seperti bantuan Palestina dan yang lain. Sebab, semangat Islam bukanlah seperti perusahaan, akan tetapi semangat islam itu adalah wathaniyah atau tanah air.
“Oleh karenanya, kita harus bangkit dari tekanan kapitalisme atau industrialisme yang tidak ramah. Petani ditekan dengan pupuk kimia, seoalah-olah jika tidak ada pupuk kimia petani kita tidak hidup. Padahal pupuk kimia itu pada dasarnya dapat merusak pada tanah,” dawuhnya.
Ia pun berharap, agar pengurus MWCNU Gapura yang baru saja dilantik agar lebih kritis dan tidak hanya semangat berkegiatan di masa-masa awal.
“Sikap kritis ini perlu dilakukan dalam rangka untuk pengembangan keorganisasian NU dapat menjadi lebih inovatif dan solutif di tengah-tengah masyarakat,” pungkasnya.
Editor: A. Habiburrahman

