Albert Einstein pernah mengatakan bahwa kita tidak bisa menyelesaikan masalah dengan cara berpikir yang sama dengan yang kita gunakan untuk menciptakan masalah. Lebih lanjut Albert berkata mengharapkan hasil yang berbeda tanpa mengubah pola pikir (mindset) itu gila.
Itulah yang dibutuhkan orang-orang hari ini untuk mengembangkan dan mendidik kualitas ke-diri-annya; transformasi mindset dan dilanjutkan dengan transformasi mental. Sebab hanya dengan mengubah mindset orang-orang hari ini otomatis akan mengubah mindset mereka ketika kerja di dinas atau institusi, artinya mereka bekerja untuk khidmah untuk NKRI, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan Undang-Undang Dasar.
Terkait dengan mindset ini, sekurang-kurangnya orang-orang hari ini (Guru, Dosen, DPR, ANS, aparat) tentu harus memperbaharurui cakrawala keilmuannya atau wawasannya dengan mengubah setidaknya ada tiga hal pertama mindset tentang khidmah di ruang kerjanya, kedua mindset tentang makna kerja dan mengabdi, ketiga mindset hubungan dengan masyarakat mulai dari tingkat kampung (RT) sampai pusat bahwa pelaksanaan proyek itu bagian dari pengabdian.
Wawasan tentang pengabdian dan pelaksanaan proyek atau program akan tepat sasaran, artinya memperluas dan membongkar sekat-sekat mindset tentang untung-rugi dalam khidmah itu dibuang, agar pengabdian tidak dikungkung oleh ketamakan yang lebih mengutakan untung dan lebih dari proyek negara.
Orang-orang hari ini di berbagai ruang atau institusi mengeksploitasi berbagai ragam program dan proyek serta kegiatan dan menyelenggarakan apa yang mereka anggap menguntungkan. Kegiatan-kegiatan itu diwujudkan dalam bentuk proyek, baik proyek yang bersifat ilmiah maupun proyek yang lain. Tapi kualitas dan menajeman kurang, kurang satu nalar kritis, kurang khidmah dengan dan tujuan yang lebih besar yang hendak dibangun dari proyek tersebut.
Hal ini terjadi karena mindset kebanyakan pengampu program atau orang-orang hari ini beranggapan bahwa semua itu adalah proyek. Asalkan ada proyek, orang-orang hari ini merasa program sudah berjalan dan terlaksana. Dampaknya akhirnya yang terjadi semua menjadi “ahli mengemis” dalam proposal, sebab kita berpikir bahwa program dari negara sama dengan proyek. Payah ini.
Gambaran ini merupakan sebuah realitas orang-orang hari ini yang menyerihkan. Itulah mengapa, untuk meminimalisir kenyerihan itu, kiprah mindset dan mentalitas diri yang lahir dari ruang-ruang dialektika keilmuan yang serius dan memiliki tujuan yang besar untuk kemanusiaan, oleh karenanya kiprah-kiprah tersebut harus lahir dari kesadaran diri, walaun pun seringkali orang-orang hari ini disibukkan dengan HP dan Game.
Para orang-orang hari ini harus benar-benar memperhatikan nalar kritis dan kepentingan demi kepentingan besar untuk mencapai, sebab tidak bisa orang-orang hari ini mengabaikan rumus-rumus dasar tentang keroposnya mental dan mindset yang saat ini menjadi menjalar di berbagai ruang-ruang aparatur pemerintah dari pusat sampai desa. Kita tentu penting mengingat para pahlawan bangsa ini dalam menjalankan cita-cita besar dalam kesatuan nalar antara mindset dan mentalitas bahwa dalam bentangan negara ini ada masyarakat yang menjadi ujung tombak pengabdian orang-orang hari ini. Sebab dibutuhkan pertimbangan nalar yang waras dan cerdas yang tersambung dengan nalar pengabdian kita melihat realitas masyarakat dan realitas lingkungan yang beragam ini.
Wawasan ini menjadi penting untuk syarat menjadi aparat dan pimpinan NRKI, akan tetapi transformasi ini tidak akan terlaksana tanpa saluran keilmuan yang bagus. Wawasan itu adalah substansi atau isi. Dan setiap substansi membutuhkan wadah dan aktualisasi. Wadah di sini tentu harus wadah yang bagus, yang tidak bocor atau amber. Tanpa wadah substansi itu akan kering, dan orang-orang hari ini akan kering, ia hanya ada di ruang pelatihan dan bimtek serta akan membuat mereka berpikir untung dengan nyerih jika tak ada untung dan akan di cap merah.
Isi itu berupa wawasan luas yang harus diwadahi dalam suatu bangunan yang indah ditopang mindset dan mental yang bagus, baik dalam struktur, fungsi, dan mekanisme yang pas, tepat dan sesuai. Dalam konstruksi inilah pertama-tama orang-orang hari ini harus mengingat sejarah berdirinya dan tujuan dari Negara ini yang jelas berkarakter kebangsaan. Kebangsaan itu isinya pun pengabdian.
Nalar dalam sebuah negara tentu semua perangkat pemerintah mulai dari pusat sampai RT adalah bagian dari instrument negara yang dapat digerakkan dalam kendali kepemimpinan. Disinilah peran penting mindset dan mental kepemimpinan bahwa kita harus memiliki pandangan penerima khidmah negara yang tidak dibangun dari untung-rugi.
Keseluruhan aparatur pemerintahan dituntut menjalankan dua fungsi pertama menghibahkan dirinya dan kerjaanya untuk kemaslatahan masyarakat, kedua memiliki tujuan kerja yang visioner negara yang di sana ada transformasi masyarakat secara keseluruhan. Sebagai orang yang diberi amanah tentu member pelayanan yang baik bagi kebutuhan masyarakat, yaitu membangun fasilitas untuk keperluan saja (bukan atas kepentingan), sehingga siapa pun bisa mengaksesnya dengan adil.
Akhirnya, sebagai orang-orang hari ini yang bekerja atas nama negara, orang-orang hari ini membangun karakter mindset dan mental itu khidmah oleh masyarakat. Akhirnya kita bisa menyebutkan negara ada untuk warga atau pemerintahan warga. Mental-mental khidmah inilah yang diperlukan oleh orang-orang hari ini, kalau tidak bisa, lebih baik, berhintilah.
* Matroni Musèrang, Pengurus MWC NU Gapura

