Gapura, NU Online Sumenep
KH. Maimun Busyrowi, A’wan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep mengulas tiga substansi ajaran dalam Agama Islam yang tidak boleh dipisahkan. Adapun tiga substansi ajaran tersebut adalah Iman, Islam dan Akhlak atau Adab.
Hal itu disampaikan Kiai Maimun, sapaan akrab Masyaikh Pesantren Lambicabbhi, saat mengisi ajian Kitab Irsyadul Sari karya Hadratussyeikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari di pertemuan rutin Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) dan Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Gapura Tengah di Masjid Al-Minhaj desa setempat, pada Rabu (12/10/2022).
“Ilmu Tauhid dapat menumbuhkan keimanan, sedang keimanan menjadi cikal-bakal kebaikan dalam menjalankan syariat agama. Atau Ilmu Fiqh yang mengajarkan hukum halal dan haram. Bila keduanya baik, keimanan kita bagus dan syariat kita baik, maka ini akan mengarah kepada adab yang baik pula,” ungkapnya.
Bahkan, menurut Kiai Maimun, golongan adab tertinggi yang diajarkan Imam Syafi’i adalah berbuat baik kepada setiap orang yang justru membenci. Hal itu bagian dari salah satu ikhtiar memerangi hawa nafsu agar tidak semakin menebar kebencian kepada sesama.
“Paling bagusnya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia, bahkan terhadap orang yang dibenci dengan pendekatan akhlak yang baik. Untuk mencegah kejahatan yang semakin melebar terhadap diri sendiri dan orang lain,” tambahnya.
Setiap perilaku atau akhlak yang baik, lanjut Kiai Maimun, merupakan pertanda diterimanya setiap amal perbuatan oleh Allah SWT. “Kalau semakin lama perilaku seseorang semakin beradab, semakin baik, itu pertanda bahwa amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT,” jelasnya.
Di kesempatan itu, Kiai Maimun juga mengatakan bahwa ilmu dan perbuatan baik harus menjadi satu. Yakni mengamalkan ilmu yang dimiliki dengan perilaku atau tindakan yang beradab.
“Sebagaimana perumpamaan, jadikanlah ilmu sebagai garam, dan jadikan akhlakmu sebagai tepung. Keduanya saling melengkapi dalam hidangan makanan yang nikmat,” pungkasnya.
Editor: A. Habiburrahman

