Image Slider

Korona dan Kambing Rokat

Cerpen : Khairul Umam*

Mat Ja’i menatap dua kambing yang baru saja dibeli di pasar. Keduanya ditambatkan pada pohon yang bersisian. Setiap tambatan diberi setali daun pisang untuk pakan. Mereka makan dengan lahap meski sesekali tetap saja mengembek parau.

Senyumnya terlukis tipis di antara bibir lebam dan kumis melintang tipis. Sepertinya, dia tak sabar ingin melangsungkan ritual yang konon pernah dilaksanakan oleh nenek moyangnya,entah kapan. Cerita dari mulut ke mulut semakin meyakinkan tekadnya membuktikan sekaligus mengulang apa yang pernah terjadi di masanya.

Wabah ini memang sangat meresahkan. Sepanjang dia tahu tidak pernah ada wabah yang secepat dan semenakutkan kali ini. Orang-orang menyebutnya corona atau Covid-19 menurut tenaga medis. Menghidupkan kembali ritual yang pernah dilakukan entah pada zaman kapan dan sudah terbukti kemanjurannya dalam mengusir wabah ta’un kala itu adalah sebuah keniscayaan dan sangat mendesak. Begitulah dia dan beberapa orang sependapat.

Kambing-kambing itu semakin lahap memakan setiap helai daun yang digantung tak jauh dari tempatnya. Mereka terus makan dan mengembek. Sesekali kambing-kambing itu menoleh kanan-kiri. Mengembek lagi dan makan selahap mungkin. Mata Mat Ja’i semakin berbinar dan menampakkan kepuasan. Tidak hanya sekadar ritual namun ada dendam tertahan yang hendak diatunaikan. Di helai-helai daun yang dikunyah dan ditelan dua kambing hasil sumbangan itu Mat ja’i melihat wabah yang menggemparkan kali ini ikut tertelan dan musnah.

“Kita buktikan saja,” dia membatin dan tersenyum penuh makna.

*****
Aku tak begitu yakin dengan gagasan Mat ja’i yang terdengar konyol. Alasan leluhur kembali dia hidupkan. Sebagai tim yang setiap hari bergelut dengan realitas dan konsep-konsep yang masuk akal sampai detik ini aku masih belum begitu sepaham dengannya. Namun, sebagai adik kandung yang juga harus memperhatikan hubungan kekeluargaan aku harus mengalah. Diam adalah emas. Itulah kalimat yang sampai saat ini akuingat.

Sudah kucoba sampaikan dengan hati-hati. Aku ceritakan bagaimana beberapa malam lalu warga dihebohkan oleh kabar burung tentang telur rebus yang bias menghilangkan wabah ini hingga semuanya tergopoh-gopoh bangun tengah malam, merebus telur, dan memakannya dengan mata terpicing-picing dan pikiran melayang-layang. Saat itu tak ada yang hendak bertanya dari mana kabar itu berasal. Kepanikan memang terkadang membuat manusia asal percaya dan lupa bahwa di depan ada jurang menganga yang sudah menunggu dan siap menelan.

“Terbukti kita semua tertipukan?” Aku coba yakin kandengan nada ditekan dan tubuh dicondongkan kedepan. Sangat dekat dengannya.

“Kali ini tidak akan. Aku sangat yakin. Doa-doanya sudah aku pegang.”

Dia menatapku tajam seperti hari mau hendak menerkam mangsanya. Sebenarnya aku bias melakukan hal yang samatoh kami lahir dari ibu dan ayah yang sama. Nenekmo yang kami juga satu. Masalahnya, aku tak mau rebut dengan saudara sendiri. Apalagi saat ini bukan waktu yang tepat untuk ribut. Masih banyak pekerjaan lain yang harus segera diselesaikan. Tim satgas yang kami bentuk baru selesai melakukan penyemprotan disinfektan untuk semua masjid yang ada di lingkungan kecamatan. Langkah tim satgas masih baru mulai. Ada banyak yang perlu dipikirkan dan direalisasikan segera. Ini darurat dan genting.

Wabah ini tak hanya berdampak keterjangkitan dan kematian. Ini masalah hidup dan keberlangsungannya. Akan ada banyak dampak yang mengarambol. Dampak sosial dan dampak ekonomi sudah pasti akan terjadi dan akan sangat memukul kita semua. Bayangkan saja, jika semua zona merah akan ada banyak pembatasan dan roda kehidupan sudah pasti tersendat-sendat. Ekonomi akan lumpuh dan jika ini tak segera diantisipasi akan ada banyak korban karena kelaparan. Sudah tentu ini akan berdampak pada ketidakamanan sosial, kekacauan dan entahlah.

“Apakah tidak sebaiknya kambing-kambing itu dipelihara saja. Nanti mereka akan melahirkan anak kambing dan kambing-kambing itu akan terus berbiak. Bukankah itu lebih baik untuk ketahanan ekonomi dan pangan masyarakat kedepan?”

Dia menatapku semakin garang. Napasnya mendengus dan wajahnya semakin menghitam. Memang sejak kecil dia tak suka dibantah. Begitulah ibu selalu bercerita ketika mendapati aku dan kakakku bertengkar di saat kecil dulu. Maka, kuurungkan menatapnya agar tak menambah amarah yang mulai bertumbuhan di benaknya. Apalagi sudah tak ada ibu yang bias mendamaikan kami nantinya. Aku diam menunggu apa yang hendak dia katakan. Seandianya tak karena tugas, sungguh aku tak mau berdebat dengan kakakku. Namun divisiku sebagai penyuluhan dan pendidikan terpaksa harus melakukannya. Setidaknya sudah ada upaya penyadaran yang realistis dan logis. Ini wabah yang menyebar cepat dan butuh kesadaran semua.

“Kamu anak kemarin sore tak akan tahu apa-apa tentang rokat dan kotekaan. Ini juga upaya. Sudahlah. Urus saja urusanmu dan jangan pernah ganggu keputusanku. Titik.

*****
Sudah kukatakan padamu bahwa kamu tidak usah terlalu merecoki urusan orang lain meski pun itu urusan kakakmu sendiri. Sudah berapa kali kamu bertengkar dengan kakakmu hanya karena urusan tidakpenting. Sedangkan kali ini dia telah terlanjur menganggapnya penting dan memang itu salah satu usaha juga selain dari yang kamu lakukan selama ini. Bukankah sudah kukatakan bahwa usaha dalam pencegahan wabah ini tidak cukup hanya mengandalkan akal namun juga butuh iman.

“Sekarang masalahnya sudah terlanjur. Kamudan kakakmu telah pecah kongsi. Arah kalian berbeda dan kalian saling berpunggungan. Entahlah. Apa yang harus kulakukan.”

“Aku juga percaya masalah itu. Sebagai manusia beriman aku juga tak pernah melupakan doa-doa yang diajarkan dan diberikan ulama-ulama di berbagai daerah. Hanya saja ada caranya. Ibarat mau makan meski pun ada nasi, lauk, dan ikannya tetap tak akan menghasilkan apa-apa kalau semuanya ditaruh di lantai kotor. Kalau dipaksa dikonsumsi malah hanya akan menimbulkan penyakit, bukannya mengenyangkan.”

“Maksudmu?”

“Bagi-bagi daging kambingt akmasalah. Tapi di saat berkumpu lmerupakan perbuatan yang sangat dihindari karena sangat efektif menularkan wabah mengapa ini harus dilakukan? Bukankah agenda besarnya akan mengumpulkan sekian masyarakat penyumbang untuk berdoa bersama dan kemudian diberi daging secukupnya?”

Aku mengangguk pelan. Kamu memang benar. Namun kakakmu adalah tipe orang keras kepala yang tidak gampang diceramahi apalagi orang sepertimu. Adik yang seharusnya dia bimbing. Dia tidak akan bias menerima keterbalikan ini. Kamudian aggap telah cangkolang dan itu perbuatan terhina di masyarakat kita.

Kakakmu pernah bilang padaku bahwa itu semua adalah kehendakTuhan maka mendekat pada Tuhan adalah jalan terbaik. Akan lebih baik lagi jika pendekatan yang dilakukan adalah berjamaah atau beramai-ramai. Kakakmu memang tidak pernah paham bahwa tidak semua cara bersama itu efektif. Terkadang kita butuh sendiri dan menyendiri. Tapi mau bagaimana lagi, kamu telah salah langkah dan hubunganmu dengan satu-satunya saudaramu telah mulai meruncing dan di ujung tanduk.

Sudah kukatakan sejak awal bahwa untuk mendekati kakakmu harus mencari kunci yang pas. Siapa orang yang pantas dan bias lebih diperhatikan kata-katanya. Tapi, atas dasar keterdesakan waktu dan sebenarnya kecerobohanmu, semuanya berjalan begitu cepat dan kamu bisa lihat sendiri hasilnya.

Di sini, hari ini, kamu duduk lemas menekurkan wajah.Mengaku telah salah langkah dan apa yang ingin kamu hindari tidak pernah benar-benar bisa. Kamu benar telah mengalah dan tidak banyak merecoki apa yang kakakmu lakukan kemudian, tapi kegagalan mengumpulkan orang dalam satu tempat yang begitu tiba-tiba tetap akan dihubungkan pada usahamu meski kamu sebenarnya tidak pernah benar-benar tahu siapa yang membuat masyarakat penyumbang mundur dan memilih menunggu daging-daging itu di rumah masing-masing.

Lalu apa yang harus kamu lakukan saat ini? Aku pun bingung. Kakakmu sudah terlanjur benci padamu karena dianggap biangkerok kegagalan. Aku pun akan sulit menjelaska nmengingat sebelumnya kamu sudah berdebat langsung dengannya dan sudah sangat jelas kamu menentang meski memilih jalan diam setelah itu.Tapi tahukah kamu bahwa diam itu menghanyutkan?

*****
Orang-orang berkerumun mengepung halaman rumahmu. Lebih banyak dari yang diperkirakan. Sepertinya orang-orang kalap dan berkerumun itu tidak hanya yang ikut nyumbang pembelian kambing demi ritual yang dijanjikan untuk menghadapi wabah coronaini. Ada banyak pendatang baru dan sudah tidak bias dideteksi dari mana saja. Apakah orang-orang asing itu pernah bepergian ke zona merah atau justru di antara mereka sudah ada yang punya gejala, entahlah.

Kulihat wajahmu pucat tidak jelas mengeskpresikan apa. Dari caramu menatapku tahu kamu sedang dilema. Kerumunan yang tidak diinginkan justru pagi ini telah berada tepat di depan matamu bahkan lebih banyak dari yang disangka. Mereka dating tiba-tiba dan telah mengacungkan lengan mereka dengan berbagai benda-benda tajam atau pun tumpul.Meminta ganti rugi dari Matja’i yang telah membawa lari du akambing yang dijanjikan akan disembelih. Di sisi berbeda kamu juga merasa bersalah karena kepergian kakak satu-satunya yang tiba-tiba. Entah karena acara yang diagendakan gagal karenamu atau Karena memang ingin kabur sejak awal. Yang pasti semuanya telah terjadi begitu cepat di depan matamu.

Ada rumor Matja’i berangkat ke Jakarta. Kambing yang dibeli kembali dijual dan dijadikan ongkos pergi. Tapi aku tak bias memastikan apakah kabar itu benar? Masalahnya saat ini tidak hanya sekadar mengganti kambing yang dihilangkan itu. Mungkin itu urusan sepele bagimu. Ini tentang nama baik keluarga besar sebagai keturunan tokoh di desa. Ini pun tentang kerumunan massa yang tidak jelas dari mana saja dan sangat mungkin wabah itu menyebar di saat ini. Ah, tiba-tiba usahamu terasa sia-sia. Tinggal kita tunggu saja tanggal mainnya apakah kota ini akan terus menghijau atau bahkan beranjak memerah.

Sebelum aku pamit pulang, kulihat kamu telentangd engan tatapan kosong kelangit-langit rumah. Entah apa yang sedang berkecamuk dalam benakmu. Aku hanya berdoa semoga kita semua masih diselamatkan dari apa pun yang mengancam entah wabah atau ketercemaran nama baik keluarga kita. Ah…

Gapura, April 2020

*Penulis adalah Pegurus Lesbumi PCNU Sumenep. Mengajar di MA Nasa1 Gapura dan IST Annuqayah. Menulis sejak duduk di bangku MA dan bergabung dengan beberapa komunitas di antaranya Komunitas Kobhung, Lentera, Kaleles, MSP, dan Biru Laut. Tulisannya telah dimuat di media lokal dan Nasional.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga