Puncak Alif Bait
Di puncak alifmu
Aku diam dalam kondisi
Mata meremang dan getar di hati
Mengucap kalimat takbir mengulum sunyi
Untukmu segala luka
Mengabadi dalam tempurung kepala
Merutukimu hingga tersesat
Akibat keakuanmu yang keparat
Di sisimu ada Tuhan
Kanan kiri depan belakang
Duduk berdiri tengkurap selonjoran
Tanpa tabir Dia lekatkan tatapan
Untukmu segala bunga
Segala wangi kembang
Segala yang indah
Segala yang berujung pasrah
Asal kau tak henti tengadah
Dekatkan diri membungkam arah
Sejenak jadikan sayu matamu
Meredam ragam congkak yang meramu
Annuqayah, 2021
Antologi Kenangan
Suatu pagi menjelang siang
Cerita hujan
Mulai singgah di jalan
Bersungut si perempuan
Menahan kesal di dada terdalam
Tiba saatnya berpamitan
Menguluk salam
Tanpa mau tahu ada tidaknya jawaban
Yang terpenting aman
Sampainya puisi di tangan
Bukan tak ingin berbincang panjang
Roda-roda tertahan
Memendam resah sebab tak kunjung berputar
Jauh di seberang
Raut wajah tak tulus memaafkan
Tas hitam menggantung damai
Di punggung si perempuan
Enteng berlalu membelah angan
Mencoba melawan
Dari bising cerita antologi kenangan
Annuqayah, 2021
Pojok Kesaksian
kini aku mulai berani bercerita dengan
sedikit gombal lalu mengatakan wajahmu tampan
mengulang cerita pertengkaran
yang sepertinya mendominasi dari semua percakapan
kini aku mulai sadar
tidak cukup benderang jika hanya menunggu sinar
sebab malam kelampun mampu menebar
sekelumit kisahnya saat bercumbu dengan fajar
yang bergemuruh di dadaku bukan ombak
bukan pula dentuman karang yang koyak
melainkan serupa perjalanan menuju bukit, penuh cadas dan batu
burung-burung rupanya resah menunggumu
Annuqayah, 2021
Rindu yang Tumbang
hari itu hatiku sadar tidak lagi keras
bahuku memikul tas berisikan letih lesu sesak rindu yang mengadu
lalu mendengar sepatah dua patah dari mulut tukang halu
aku lebam dari pukulan-pukulan getir
yang meringkus kewarasanku sebagai manusia
untuk sekadar mencecap pinggir botol asmara
memang waktu berirama berdenting-denting
tapi tidak dengan jarak yang semakin
bersulur sekat takdir
saat kejatuhanku di atas tanahmu
tiada lagi kutitipkan matahari bersinar
di langitmu, tiada pula hujan
bahkan angin menjadi isyarat rindu yang tumbang
Annuqayah, 2021
Mata Malam
sungguh senyap, Kekasih
hanya cumbu gemintang
nampak terang saat beberapa makluk bumi mulai telentang
terlihat pula endapan rindu di dadanya
serupa ampas kopi
tertinggal di meja makan, menuju sepi
Bukan Hujan Bulan Juni
gerimis bulan ini
menyisakan isak Pingkan
di batu-batu di taman-taman
bahkan di ampas kopi yang mengendap sendirian
pagi dengan nyanyian Sarwono
hanya sumbang dan sebatas gelombang
tidak lagi kuat memungut keping ingatan
barangkali sesesak dentum karam di hati Pingkan
lalu sejauh sepatu itu menyapa tanah
Pingkan sadar, melipat jarak adalah cara terpasrah
bagi bentangan sikap dan suara rasa yang seolah sudah
ya, waktu memang begitu
kasih dan kisah-kisah yang remang
benar-benar nyata dan berlakon seolah ceria
namun semua itu sebatas kilatan
lalu fana sejak dalam pikiran
Annuqayah, 2020
Getir
suatu hari nanti aku takut
tanganku berubah batu
kaku sekakukakunya kaku
sulit menggenggam puisi yang berkelana
suatu hari nanti aku takut
curam di teluk bahasamu
menjadi alasan, kau suruh aku diam
sebatas mencabut rumput
menakar nasi dan lauk pauk
suatu hari nanti aku takut
kedap di celah kata
membuat aku malas membaca
raba dan luka hati yang menganga
kapan saja
Annuqayah, 2020
*Santri PP Annuqayah Latee 1. Anggota komunitas sastra Cafe Latte 52. Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah Instika Guluk-Guluk Sumenep Madura.

