Oleh : A. Firman Maulana
Perasaan manusia tidak lepas dari rasa khawatir dan penuh dengan harap. Suatu kondisi dinamis menjadi tendensi yang paling strategis untuk membuat keyakinan setiap insan yang gaduh. Segala kemungkinan terhampar ketika praduga terus bermunculan. Sehingga, terdapat dua pilihan yang harus ditentukan manusia; Optimis ataukah Pesimis?.
Tumbuhnya dua perasaan yang saling berlawanan tersebut bersumber dari segumpal daging yang menjadi penentu bagi sepak terjang manusia ke depan. Nabi Muhammad SAW menyampaikan, “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Kalau ia baik, maka baik pula seluruh anggota tubuh. Dan kalau ia rusak, maka akan rusak pula seluruh anggota tubuh. Itulah hati.” (Muttafaqun ‘Alaih).
Penyampaian Nabi benar sekali. Karena sumber dari gerak-diamnya manusia adalah dari hati. Kita ambil contoh yang paling dekat. Di antara tugas dari ketua kamar (salah satu jabatan strategis yang ada di pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo) adalah menertibkan shaf shalat. Saat penertiban shaf, ujian yang harus dihadapi adalah berhadapan dengan segerombolan santri yang sulit untuk diatur karena berbagai alasan—semisal panas dan tidak mau terpisah dari teman sekamar, dan ia adalah seseorang dengan karakter keras. Sedikit-sedikit marah.
Nah, dalam menghadapi ujian tersebut, Si Ketua Kamar harus menentukan pilihannya; Maju untuk mengingatkan atau mundur membiarkan. Keadaan hati yang demikian bukanlah hal yang sepele. Karena hal tersebut sangat menentukan prinsip seseorang dalam bersikap. Ketua Kamar yang mempunyai karakter tegas dan teguh pendirian, maka jalan yang akan dia pilih adalah meghampiri gerombolan santri tersebut dan memberikan peringatan—tentunya dengan cara yang fleksibel. Namun, ketika ketua kamar tersebut tidak mempunyai karakter tegas dan teguh pendirian, dan memilih untuk membiarkan, maka sebenarnya dia akan dihantui perasaan tidak enak. Dan akan dicap sebagai pribadi yang tidak punya prinsip.
Seseorang yang mudah putus harapan, pada biasanya dihantui oleh perasaan yang tidak menentu. Dan tidak menutup kemungkinan, dia masih belum menentukan sikap atas dirinya sendiri. Oleh karena itu, sangat relevan jika Nabi SAW. bersabda demikian. Hati manusialah yang menentukan, apakah anggota tubuhnya itu tergerak ke jalan yang baik atau malah sebaliknya.
Jalan terbaik untuk diterapkan adalah memilih jalan optimis. Jalan optimis ini selalu membuka peluang bagi setiap orang untuk mencapai target hidupnya. Mengapa sebab? Karena manusia selalu dihadapkan dengan kondisi yang tak menentu. Dan dengan ketidakmenentuan itulah manusia harus mempunyai pegangan yang konsis agar target yang dirancang mampu dicapai.
Seseorang yang berusaha menyuburkan optimisnya adalah orang yang berjuang menuju kesuksesan. Bisa kita bayangkan, jika kegiatan yang sudah dirancang kemudian diintruksikan untuk dibatalkan oleh guru kita. Berbagai perasaan pasti menghantui kita. Dan juga tidak menutup kemungkin, akan hadir perasaan su’udzon terhadap guru kita itu. Nah, jika kita berperasaan yang demikian itu, atau dalam bahasa modernnya, kita negative thinking, tentulah akan berdampak pada karakter kita sebagai seorang murid.
“Murid sejati adalah ia yang mampu menyerap batin gurunya.” Ungkapan demikian disampaikan oleh ulama ahli hadits dari timur tengah, Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani, Rusaifah, Makkah. Seorang murid yang tidak mampu menyerap batin gurunya dikhawatirkan hati murid tersebut akan mudah su’ul adab terhadap gurunya. Selanjutnya, apa relevansinya dengan optimisme? Melalui kalam seorang ulama tersebut, kita bisa memahami bahwa rasa optimis menjadi solusi terbaik agar diri ini menjadi selamat dan mudah untuk dibimbing. Karena secara otomatis, orang yang selalu berprasangka buruk dan mudah pesimis, akan mempersulit hatinya dalam menyerap nasihat dari siapapun. Maka, mulailah dengan berpikir positif dan bersikap optimistis serta lakukan dengan langkah yang taktis. Waallahu A’lam[].
*Penulis merupakan Sekjend. Sub Bagian Olahraga PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo dan Pendiri Forum Literasi Pemuda Desa “Dirgantara”.

