Image Slider

Masyaikh Annuqayah Tekankan Santri dan Alumni di Pulau Giliraja Ikuti Jejak Guru dan Leluhur

Giliraja, NU Online Sumenep

Setelah dua hari menyelenggarakan kegiatan Gebyar Lomba dan Temu Alumni, Jaringan Santri Annuqayah (JSA) Giliraja menutup rangkaian acara yang dilangsungkan. Acara yang digelar dalam rangka menyambut datangnya bulan suci ramadhan tersebut dikemas dengan pemberian hadiah pemenang lomba dan tausiyah oleh jajaran masyayikh Pondok Pesantren Annuqayah. Acara tersebut terpusat di Yayasan Attaqwa, Desa Jate, Giliraja Sumenep, Senin (12/4/2021) malam.

Sebagai suguhan awal menyambut tamu undangan, lantunan shalawat didendangkan oleh grup shalawat banjari Al-Aqsha dari Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Selatan. Hadir dalam acara ini tokoh masyarakat, semua kepala desa, kepala madrasah, pengasuh mushalla dan pesantren yang tersebar di Giliraja, serta masyarakat sekitar.

Sebelum MC mengawali acara, seorang santri Annuqayah meminta izin untuk membacakan puisi di hadapan para undangan dan masyayikh. Syaifur Rohman membacakan puisi tersebut dengan penuh khidmat, mampu menyihir para undangan. Tamu undangan beserta masyayikh Annuqayah terpukau dan terbawa suasana haru, saat Ipung sapaan akrab Syaifur Rohman mendeklamasikan puisi berjudul “Bermakmum di Belakang Kiai”, karya Abdul Latif Anwar.

Sementara itu, Moh. Maghfiri Rofiqi, ketua panitia Gebyar Lomba, dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Kepala Desa Jate dan Ketua Yayasan Attaqwa yang telah memberikan izin menjadi tuan rumah acara JSA. “Terimakasih pula kepada  masyayikh Annuqayah yang telah berkenan hadir di acara penutupan JSA ini,” ujarnya.

Dirinya mengajak kepada para santri agar melakukan hal positif selama liburan. Yaitu dengan memanfaatkan masa liburan untuk menjalin silaturahim dan mengasah intelektual, serta merapatkan barisan para alumni dan meningkatkan pengabdian kepada kiai dan negeri, sesuai tema yang kami canangkan,” ungkap Fengki, sapaan akrabnya.

Malam penutupan Gebyar Lomba ini dihadiri oleh masyayikh Giliraja, Salah satu dari mereka, K. Abd. Hafidh Yahya, Mustasyar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Giliraja. Ia diminta memimpin istighotsah dan tahlil bersama untuk leluhur dan para guru. Hadir juga pada kesempatan itu, majelis kiai dari Annuqayah, di antaranya; K. Majdi Tsabit, K. Ubaidillah Tsabit dan K. A. Faris Hamdi.

Dalam kesempatan itu, K. Ahmad Faris Hamdi, jajaran masyayikh Annuqayah Lubangsa Selatan, memberikan tausiyah singkat di hadapan masyarakat Giliraja dan para santri. Ia mengajak kepada seluruh masyarakat untuk saling menasihati dan menekankan pentingnya mengikuti jejak para guru serta leluhur.

“Sebagaimana tema yang diusung oleh JSA, “Tafakkur Santri Untuk Kiai dan Negeri”. Begitu pentingnya mengikuti jejak para guru, para leluhur yang bisa menjadi pedoman dalam kehidupan, baik perkataan maupun perbuatan. Guru kita sudah jelas sanadnya, jangan tinggalkan guru yang sudah jelas sanad keilmuannya, jangan tukar mereka dengan ustadz dadakan ala yutubiyah,” ujar kiai muda putra almaghfurlah KH M Hamdi Siradj tersebut.

Lebih tegas lagi, Lora Ayik begitu ia akrab disapa, meminta kepada santri dan masyarakat agar menghormati serta mengayomi para guru ngaji di mushalla sebagai garda terdepan yang mengayomi generasi muda dalam belajar Al-Quran.

“Sebagai santri yang baik, kita tidak boleh lupa jasa guru pertama atau guru alif, khususnya para guru ngaji di desa. Ikuti dan hormati mereka. Yaitu dengan cara memelihara dan meneladani amaliyah, ubudiyah dan harakah yang beliau lakukan. Jika kalian berguru kepada K. Abd. Hafidh, teladani dan ikuti beliau, beliau santri alumni Karang Cempaka. Guluk-Guluk dan Karang Cempaka satu darah, hanya beda tempat saja,”, ungkap Lora Ayik memungkasi tausiyahnya.

 

Pewarta: Kurdianto Allaily

Editor: A. Habiburrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga