Image Slider

Nikmati Pesona Dermaga Mahera, Komunitas Literasi di Giliraja Asyik Diskusi Sastra

Giliraja, NU Online Sumenep

Salah satu destinasi wisata Pantai Banmaleng Giliraja yang banyak dikunjungi oleh muda-mudi adalah Dermaga Mahera. Sebuah dermaga yang menjadi pusat pelabuhan tiga jalur utama, menuju Pulau Gilingan, Besuki Situbondo dan Kapedi Bluto.

Dermaga Mahera menyuguhkan ragam panorama yang eksotis. Sejauh mata memandang ke arah selatan, akan tampak samar lukisan alam berupa pegunungan Carron Situbondo. Di sisi barat, ada pulau Gilingan yang dihuni oleh segelintir ratusan warga, dan tiga pulau tidak berpenghuni, yaitu Sek Pote, Gili Pandan dan Pulau Karamat.

Pengunjung Mahera bisa menyaksikan lalu lalang perahu besar dan perahu kecil. Melihat secara langsung bagaimana para nelayan Giliraja berburu ikan dengan beragam alat tangkap, mulai dari jaring, pajang, panceng dan salandheng.

Saat malam tiba, mereka yang mengunjungi Dermaga Mahera kebanyakan lebih memilih untuk memancing, berburu ikan cumi dengan umpan berupa udang palsu (udang mainan) yang dilengkapi perangkap pancing monnel.

Tak kalah memukau pula, pengunjung Dermaga Mahera bisa melihat berjejer rumah ikan berhias lampu, orang Giliraja menyebutnya dengan Pagan. Pagan adalah jenis alat tangkap ikan yang hanya beroperasi di waktu malam.

Khusus di bulan Ramadhan, remaja Giliraja memadati Dermaga Mahera untuk ngabuburit, menunggu detik buka puasa sambil menikmati panorama laut yang memesona.

Seperti sore ini, Rabu (05/05/2021), Komunitas Penggiat Literasi Giliraja menggelar ngabuburit dan Diskusi Sastra yang bertajuk Proses Kreatif Menulis Puisi. Di Dermaga Mahera ini, mereka berbagi ilmu seputar kepenulisan, khususnya tentang menulis puisi.

Moh. Atiqul Anshori, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Jember yang menjadi pembicara utama dalam diskusi sastra ini mengatakan, bahwa kegiatan ngabuburit ini dimaksudkan untuk menanamkan kecintaan pemuda Giliraja terhadap dunia literasi khususnya sastra, serta mengajak mereka agar terbiasa membaca dan menulis.

“Saya bersama teman-teman merasa terpanggil untuk ikut serta membangun Giliraja melalui gerakan literasi. Dengan diskusi Proses Kreatif Menulis Puisi ini, diharapkan mampu memberikan solusi dalam menggugah semangat pemuda atau pelajar Giliraja untuk rajin membaca dan membiasakan menulis. Menulis apa yang dibaca, dan membaca apa yang ditulis,” ujar En. Aang Mz, nama pena Moh. Atiqul Anshori.

Sedangkan menurut Moh. Helmi, Santri alumni Nurul Huda Giliraja yang memandu diskusi sastra mengutarakan tentang potensi putra Giliraja. Ia mengatakan bahwa putra Giliraja punya peluang besar untuk menjadi penulis atau penyair secara alamiah.

“Alam Giliraja ini sungguh indah dan sangat puitis, betapa durhaka jika kita tidak memanfaatkan potensi alam ini, sebagai wujud syukur kepada Tuhan. Di ngabuburit ini kita berbagi pengalaman tentang proses kreatif menjadi penulis,” ucap Helmi sapaan akrabnya.

Kegiatan ini, lanjutnya, juga merupakan ajang latihan membacakan puisi secara bergantian. Semua peserta yang hadir diminta untuk membacakan buku puisi yang dibawa oleh masing-masing peserta.

Editor : Abdul Warits

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga