Pagi Ini Aku Tidak Ingin Bermimpi
Pagi ini mimpi-mimpiku hangus
terbakar silau matahari di halaman
di antara orang-orang yang sibuk memejamkan mata
aku malah sibuk memainkan cuaca
Dari balik layar kaca seorang gadis cantik bertanya
“kenapa kamu tidak tidur pagi ini?” Ucapnya
lantas aku semakin tertawa
dan mengajak pagi untuk berdiskusi
barangkali perasaan adalah puisi yang tertunda
oleh dirimu yang menjelma kesibukan di otakku.
Maka ketahuilah, lamat-lamat
pagi mengunci diri dalam perasaanku.
Batang-batang, 2021 M.
Kasidah Asmaradana
Maria, sebelum benar-benar aku jatuh
Pada rerimbun pelangi tubuhmu
Adakah sugesti paling pagi untuk kuketahui sepanjang hari
Agar secercah isyarat tak mampu menyesatkanku
pada lentik retina matamu yang kerap kali menjelma
Ribuan gerimis memecah tangis.
Kesetiaan adalah puing-puing harapan
Yang tercipta dari ritmis-ritmis kepercayaan.
Maria, sejenak kulepas segala harap
Yang tak henti-henti menyebut namamu dalam sajakku,
Seketika Rumi menari-nari dalam fikirku
Sementara dirimu datang menjamu mimpi
Diantara ribuan bidadari.
Annuqayah, 2021 M.
Hujan dan Manipulasi Perempuan
Rintik-rintik hujan merinai rindu
Kini, kembali singgah menggerutu
Desau orang-orang sekitar
Memecah rincuh hening malam
Biarkan kecipak air memainkan sunyi
Mencipta sugesti di kedalaman hati.
Di kotaku, halaman serupa dentuman musik
Dari ritme hujan yang bertandang
Memaksa nostalgia tentang sebuah nama
Ia engkau!,
Tunggal sepanjang ingatan.
Ketika tubuh terpasung dingin
Risau perasaan merengek ingin
Merenung peristiwa enam bulan lalu
Memutar manipulasi senyum perempuan manis
Bertalu-talu mengukir di lubuk pikir
Pada malam yang senantiasa mengusir sunyi.
Annuqayah, 2021 M.
Pertemuan I
Terlihat gerbang diam membungkam
Begitu ingin menelan keberanian orang lalu lalang
Getir begitu khawatir saat kupasrah
Seketika suasana begitu angkuh
Menampakkan wajah kelamnya
Debar hatiku , hebatnya getar perasaan
Saat tiba-tiba engkau berdiri mematung
Seakan Tuhan rela, ranah pandangku
Tertuju padamu, kemudian seulas senyum
Terbit dari bibirmu yang paling manis
Entah, mata yang keberapa dan siapa
Sering mengintaiku tiap waktu
Namun, tunggal pandangku selalu menemukanmu
Di antara ribuan wanita
Hanya engkau mampu menghuni mata.
Annuqayah, 2021M.
Tiba-Tiba Aku Rindu
Engkau menjelma pagi pekat sekali
Segala benda-benda yang ada di kamar ini
Adalah kerinduan yang tiba-tiba datang
Kulihat fotomo lagi
Betapa rindu menjelma api
Membakar seluruh kantukku sisa tadi.
Annuqayah, 2020 M.
*Nama pena dari Faiki Hakiki. Santri aktif PP. Annuqayah daerah Lubangsa, dan merupakan Mahasiswa FEBI Instik Annuqayah. Aktif berproses di Komunitas Penyisir Sastra Iksabad (PERSI), Sanggar POAR, Lesehan Pojok Sastra dan Kru LPM Fajar INSTIKA.

