Selesai salat Subuh, ketika berkas cahaya pagi samar-samar menerangi kampung Pangabasen, Jumadin lekas berganti baju dan sarung. Lalu dengan telanjang kaki, ia menuju kandang ayam yang terletak sekitar 40 meter di sebelah barat pondoknya, tepat di belakang dapur Nyai Aminah, istri Kiai Hadi.
Sebagai santri yang ditugas merawat ayam sejak enam tahun lalu, ia mesti pagi-pagi sekali datang ke kandang itu untuk membuang kotoran dan memberi pakan. Ketika santri-santri yang lain duduk di serambi masjid mengikuti pengajian kitab, Jumadin malah berjibaku dengan kotoran, pakan atau memasukkan butir-butir telur ke tatakan kayu segiempat yang dibuat penuh cekungan. Ketika santri-santri yang lain tunduk-khusyuk membaca nazaman, lubang telinga Jumadin dirayapi suara ramai puluhan ayam, seolah semua itu menjadi lagu wajib yang rutin mengantar tembang ke dalam jiwanya.
Jumadin kadang sejenak duduk sambil menjejali pertanyaan kepada dirinya.
“Kapan aku bisa mengaji kitab seperti santri lain?”
“Kenapa Kiai memelihara ayam sabung yang setiap minggu selalu bertambah?”
Biasanya, ia kemudian menggelengkan kepala, pertanda tak mengerti. Matanya sedikit lembap. Tangannya pelan mengelus dadanya yang diliputi tulang-tulang kasar.
Di kandang itu, ada sekitar lima puluh ekor ayam dewasa dan anakan. Ayam-ayam itu ditaruh berkelompok pada ruang-ruang yang disekat dengan sirap kayu. Kecuali tiga belas ayam sabung yang ditaruh per ekor di tiap ruang yang berbeda.
Sejak lima bulan terakhir, sepulang dari mengisi pengajian ke desa-desa yang tersebar di Kecamatan Sobluk, Kiai Hadi sering membawa pulang ayam sabung. Ia berpesan agar Jumadin menaruhnya di ruang khusus supaya tidak berkelahi dengan ayam sabung yang lain.
Sejauh ini, selalu terbersit keinginan di hati Jumadin untuk menanyakan tujuan Ki Hadi memelihara ayam sabung itu, tapi Jumadin masih belum berani. Yang jelas, selama ini Kiai belum pernah menyabung seekor ayam pun. Ia juga tidak menjual seekor pun meski banyak penggemar sabung ayam yang datang untuk membeli ayam-ayam itu dengan harga yang sangat mahal. Bahkan salah seorang penggemar ayam sabung itu ada yang rela menukar seekor sapi karapan dengan seekor ayam kiai yang berjuluk si Moyang Ababil. Tapi Ki Hadi tidak mau. Berkali-kali penggemar itu mendatangi Ki Hadi, tapi ia tetap kokoh pada pendiriannya; tidak menukar ayam itu dengan sapi karapan.
“Mohon maaf sebelumnya, Kiai. Jika boleh usul, alangkah baiknya si Moyang Ababil ditukar dengan sapi karapan sebagaimana yang diinginkan penggemar itu. Kiai akan mendapat banyak keuntungan,” tegas Jumadin suatu pagi dengan kepala menunduk takzim.
“Aku tak ingin berbisnis ayam. Aku juga tak ingin menyabungnya. Aku punya maksud lain yang lebih agung daripada semua itu,” jawab Kiai Hadi seraya tersenyum. Keheningan merayap dari gesekan daun-daun salak di halaman pondok. “Tambahlah ruang-ruang itu, sebab masih ada banyak ayam sabung yang mesti harus kupelihara,” lanjut Ki Hadi membuat Jumadin seketika mengangkat wajah karena terkejut mendengar pernyataan itu.
#
Perhelatan sabung ayam hampir setiap hari dilakukan oleh warga Kecamatan Sobluk. Setiap peserta wajib membayar uang pendaftaran 50.000 rupiah per ekor, dan berhak menyabung ayamnya sekaligus berhak menjadi juara dengan hadiah berupa sapi dan motor. Perhelatan sabung ayam menjadi lingkaran hitam yang menyedot beragam praktik haram lainnya; dukun-dukun yang memercayai kekuatan mistis sering menaruh benda-benda di lokasi itu, para pejudi berdatangan untuk taruhan, para blater juga berjubel untuk mendampingi para pesabung dan tak jarang mereka bertengkar hingga babak belur. Warga yang menonton banyak yang tidak salat Asar karena persabungan itu dimulai sejak pukul 13.00 dan biasanya berlangsung hingga petang hari.
Kiai Hadi yang berdakwah melalui kelompok pengajian di daerah tersebut merasa terpanggil untuk menyelesaikan persoalan itu dengan jalan yang baik dan ramah. Ia tidak ingin cara penyelesaian yang dilakukan dirinya bisa menyinggung apalagi menyakiti para penggemar sabung ayam. Ia menghindari cara-cara kasar, sebab cara semacam itu selain tidak menunjukkan Islam yang ramah, juga hanya membuat warga yang hatinya keras akan bertambah keras. Jika hal itu terjadi, maka kemungkinan dakwahnya akan ditentang dan warga akan menajauh dari jalan agama sebagaimana yang ia kehendaki.
Kiai Hadi tidak melarang sabung ayam itu, mula-mula ia hanya mencoba turut menghadiri persabungan itu setiap dua minggu sekali, seolah-olah menjadi penonton. Alasannya, ia ingin tahu proses persabungan. Dengan hadirnya Kiai Hadi ke tempat persabungan, sebagian warga yang hatinya lunak sudah merasa sungkan sehingga tidak menonton persabungan itu lagi, tapi sebagian yang lain malah semakin rajin menghadiri sabung ayam dengan dalih mengikuti jejak Kiai Hadi.
Kiai Hadi mulai menyadari, strategi perjuangan semacam itu kurang berhasil. Perhelatan sabung ayam terus berlangsung. Masyarakat banyak yang gemar menonton sambil bersorak ria dan bertepuk tangan. Orang-orang masih banyak yang taruhan di sekitar lapangan. Melihat semua itu, akhirnya Kiai Hadi melakukan tirakat; setiap dini hari, ia menyempatkan diri salat tahajud di bukit Montorra yang ada di belakang rumahnya. Lima belas malam kemudian, ia bermimpi didatangi ayam-ayam sabung. Ayam-ayam itu mengelilingi tubuhnya sembari terus berkeok-keok dan mengulur leher hingga memanjang, seperti tengah minta tolong. Di saat seperti itu, Kiai Hadi kemudian terjaga dari tidurnya, lantas duduk sambil meraba dadanya yang dipatuk detak jantung yang kencang. Bulan menyendiri di celah dahan nyamplung, seolah menggigil di atas gemerlap daun-daun berkeramas embun.
Berhari-hari lamanya ia berusaha mencari takwil yang benar dari mimpinya itu. Tapi tak kunjung menemukna kesimpulan, hingga di suatu hari ia memutuskan untuk membeli ayam-ayam sabung itu meski dengan patokan harga yang begitu mahal. Harapannya tidak lain supaya perhelatan sabung ayam tak ada lagi.
Selain mengisi pengajian, dengan sabar ia rutin mendatangi pemilik ayam sabung satu per satu. Ia membujuk mereka agar mau menjual ayam-ayam itu kepada dirinya. Harga ayam-ayam sabung yang mahal itu membuat Kiai Hadi harus mengeluarkan banyak uang, bahkan pada suatu hari kemudian ia harus menjual perhiasan Nyai Aminah demi membeli ayam-ayam sabung itu.
“Kanda jangan terus seperti ini, seluruh perhiasanku habis hanya untuk membeli ayam sabung. Sementara ayam-ayam itu hanya dikandangkan begitu saja. Bisa bangkrut kita, Kanda,” tukas Nyai Aminah suatu ketika.
“Sabar, Dinda. Aku melakukan semua ini demi menyelamatkan umat dari perkara keji. Insya Allah tidak akan bangkrut.”
“Menyelamatkan umat?”
“Iya. Aku ingin memutus mata rantai perkembangan ayam sabung agar di Sobluk tak ada lagi perhelatan yang banyak menuai maksiat itu.”
“Tapi kan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Bukan hanya dengan cara seperti ini yang tentu merugikan kita, Kanda.”
Kiai Hadi tersenyum, meletakkan telapak tangan kanannya di bahu istrinya itu dengan lembut “Percayalah! Kita tidak akan rugi,” sepasang matanya yang teduh melayari sepasang mata istrinya yang tampak masih sedikit suram dengan bibir mulai terkatup dan membisu.
#
Semakin hari, kandang ayam Kiai Hadi semakin bertambah. Jumlah ayam sabung di kandang itu sudah melampaui jumlah ayam biasa. Kiai Hadi memerintah satu santrinya lagi untuk menemani Jumadin merawat ayam-ayam tersebut. Para penggemar ayam sabung banyak yang mendatangi Kiai Hadi untuk membeli ayam-ayam pilih tanding itu dengan harga yang sangat mahal, tapi Kiai Hadi menolak tawaran itu dengan lembut. Ia malah memberi semacam wejangan kepada penggemar sabung ayam itu supaya mengalihkan hobinya itu kepada hal lain yang tidak haram. Sebagian mereka mengikuti wejangan itu dan sebagian lainnya menganggap wejangan itu angin lalu.
Jumadin dan seorang temannya semakin sibuk mengurus ayam-ayam itu. Ia semakin asing dengan pengajian kitab. Karena saking lamanya tidak ikut pengajian, ia lupa untuk sekadar menyebut nama kitab yang biasa dipelajari santri di pondok itu. Ia lebih karib dengan ayam. Suara riuh ayam itu serasa suara agung lainnya yang mengajari Jumadin mengeja makna kehidupan. Sementara Nyai Aminah terus protes meski seluruh perhiasannya sudah diganti. Ia ingin Kiai Hadi segera menjual ayam berharga mahal itu supaya keadaan rumahnya tidak selalu gaduh dengan suara ayam sekaligus supaya Jumadin dan seorang temannya itu bisa mengaji secara normal. Tapi Jumadin kini sudah terlanjur jadi santri taat yang percaya bahwa melaksanakan perintah kiai memiliki nilai berkah yang lebih bermakna dari sekadar mengaji.
Setelah—hampir—semua ayam sabung di Kecamatan Sobluk dibeli oleh Kiai Hadi, maka tidak ada lagi perhelatan sabung ayam.
“Sekarang warga sudah tidak menyabung ayam lagi, Kanda. Ayo jual ayam-ayam itu kepada pedagang daging meski dengan harga murah supaya dipotong,” desak Nyai Aminah.
“Aku punya cara lain, Dinda,” tutur Kiai Hadi lembut, membuat istrinya tidak mengeluarkan kata-kata lagi.
Kiai Hadi lalu menguras ayam-ayam itu dari kandangnya dengan cara disembelih dan mengundang para penyabung ayam di Kecamatan Sobluk untuk makan bersama. Lalu Jumadin diutus ke daerah itu untuk menjadi pembimbing warga dan menjadi imam masjid.
“Hidup adalah persabungan, tapi tak perlu digelanggangkan karena menang dan kalah adalah fana,” bisik Kiai Hadi kepada Jumadin supaya disampaikan kepada warga.
Anehnya; Jumadin ternyata bisa membaca kitab kuning sekaligus mahir ilmu agama meski selama di pondok jarang mengaji karena sibuk mengurus ayam.
Kantor PCNU Sumenep, 2021

