Image Slider

Meraih Fitri di Hari yang Fitri

Oleh: Lukmanul Hakim

Sesungguhnya, hakikat hari raya Idul Fitri adalah perayaan kemenangan iman dan ilmu atas nafsu di medan jihad Ramadlan. Setelah berhasil menundukkan nafsu, setiap individu dapat kembali ke fitrah. Kembali ke fitrah (Idul Fitri) berarti kembali ke asal kejadian. Manusia terlahir tanpa beban kesalahan apa pun. Tiap insan lahir dengan keadaan suci tanpa noda dan dosa.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda dalam sebuah hadits tentang fitrah manusia ini:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّه” مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، وَيُنَصِّرَانِهِ، وَيُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟ ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ: وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ
Artinya: “Dari Abu Hurairah bahwa ia berkata, Rasulullah saw bersabda: Setiap anak lahir (dalam keadaan) fitrah, kedua orang tuanya (memiliki andil dalam) menjadikan anak beragama Yahudi, Nasrani, atau bahkan beragama Majusi, sebagaimana binatang ternak memperanakkan seekor binatang (yang sempurna anggota tubuhnya). Apakah anda mengetahui di antara binatang itu ada yang cacat/putus (telinganya atau anggota tubuhnya yang lain).” (HR. Muslim).

Idul Fitri ini juga populer dengan sebutan lebaran. Lebaran berasal dari akar kata lebar yang maknanya tentu agar di hari raya kita harus berdada lebar (lapang dada). Sifat lapang dada untuk meminta dan sekaligus memberi maaf (al-‘Afwu: menghapus, yakni menghapus kesalahan) kepada sesama.

Sebagai manusia yang memiliki potensi untuk berbuat salah dan khilaf, maka saatnya menyadari kesalahan dan berusaha kembali ke fitrah dengan cara memperbaiki hubungan sesama (human relations) secara baik.

Hari raya Idul Fitri merupakan momentum untuk menyempurnakan hubungan vertikal dengan Allah (hablun min Allah) dan secara horizontal membangun hubungan sosial yang baik (hablun minn annas). Dengan begitu, terbentuklah garis plus tanda positif dari persinggungan antara yang vertikal dan horizontal tadi.

Sementara itu, dalam bahasa Madura, Lebaran/hari raya Idul Fitri disebut telasan. Itu dari akar kata ‘telas’ yang bermakna ‘habis.’ Jadi, telasan artinya ‘habis-habisan’ dalam melebur dosa, kesalahan, dan kekhilafan, baik terhadap Allah SWT maupun manusia sebagai sesama makhluk-Nya.

Makna telasan jangan sampai bergeser, yakni bukan mau habis-habisan melebur dosa dan noda, tetapi malah habis-habisan dalam memborong pakaian dan jajan Lebaran.

Alangkah ruginya jika umat Islam tak memanfaatkan mudik untuk mengonstruksi hablun min annas dengan saksama dan optimal. Selain itu, kita juga bisa memanfaatkan halal bihalal, yang merupakan tradisi khas bangsa, yang telah diwariskan oleh nenek moyang sejak bertahun-tahun. Barangkali lembaga ini bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk wadah silaturahim masyarakat. Dengan catatan tidak mementingkan pesta dan hura-huranya, akan tetapi lebih mengutamakan pendekatan kekeluargaan yang diwarnai kasih sayang di antara sesama insan.

Momentum Idul Fitri wajib dijadikan sarana meminta maaf dan memaafkan orang lain dengan bersilaturahim (menyambung kasih sayang) baik kepada pasangan atau istri, kedua orang tua, anak, keluarga, sanak kerabat, tetangga serta teman dan relasi kita ketika ada kebencian terhadap mereka. Sebab kasih sayang merupakan lawan dari kebencian.

Dalam surah Ali ‘Imran (3) ayat 134 dijelaskan bahwa:
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَا لضَّرَّآءِ وَا لْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَا لْعَا فِيْنَ عَنِ النَّا سِ ۗ وَا للّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ ۚ
Artinya: “Penghuni surga adalah orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun kekal, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah SWT mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran (3): Ayat 134).

Dengan demikian, makna Idul Fitri adalah memaksimalkan silaturahim untuk meminta maaf, memberi maaf dan menjadi seorang pemaaf. Jangan biarkan kedengkian dan kebencian merasuk kembali ke jiwa umat Islam yang telah fitri (suci). 

*) Mahasiswa Semester VIII Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk, Kepala Perpustakaan MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021, dan Sekretaris Lajnah Falakiyah Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga