Oleh: Firdausi
Seluruh umat Islam, khususnya warga NU menyambut hari raya Idul Fitri dengan beragam tradisi yang menggurita di kalangan masyarakat, seperti menghidangkan beragam makanan, minuman, memakai baju baru, takbir keliling, ziarah kubur ke makam sesepuh, hingga menyumet petasan jelang takbir berkumandang di setiap masjid dan musholla. Tak ketinggalan pula saat bersilaturrahim ke sanak famili, para sesepuh memberikan angpao kepada anak-anak kendati nominalnya sedikit.
Berdasarkan sejarah perkembangan Islam di Nusantara, tradisi ini tidak lepas dari pengaruh budaya Arab dan Tionghoa, sehingga melahirkan akulturasi di tengah-tengah masyarakat dan dilestarikan hingga sampai saat ini.
Tradisi ini di Madura dikenal dengan istilah salam tempel. Amplop yang dibagi-bagikan itu berisi uang dan diberikan kepada cucu dan ponakan terdekat. Sebenarnya makna dari tradisi kuno ini adalah berbagi kebahagiaan. Juga memberikan pelajaran pada anak sejak dini bahwa bersedekah itu bagian dari ajaran yang dikenalkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Saat angpao diterima, suasana gembira lepas seketika ketika. Senyuman dan tawa menghiasai nuansa maaf-maafan di momen lebaran. Di lain sisi, uang yang mereka terima bisa dijadikan bekal bagi anak untuk kembali pulang ke pondok pesantren usai libur panjang selama bulan Ramadhan dan dibelanjakan kue atau mainan. Jadi angpao itu sering diartikan oleh sebagian warga sebagai THR-an.
Setelah diberikan, para sesepuh menyampaikan wejangan atau nasihat kepada cucu dan keponakannya. Biasanya yang lumrah didengar adalah memberikan motivasi dalam menuntut ilmu dan rajin menabung untuk kepentingan masa depan.
Namun tidak semua warga membagikan uang pada anak-anak. Saat ini kebiasaan sedekah angpao hanya marak di daerah pedesaan saja. Ada pula yang membagikan uang pada anak melalui rekening bank atau uang elektronik, khusus di daerah perkotaan.
Ada perbedaan antara angpao lebaran dan imlek. Hal ini tampak pada warnanya. Jika angpao berwarna merah, itu tradisi China saat memperingati hari raya Imlek. Sedangkan yang berwarna hijau, putih, dan warna lainnya, itu angpao yang diberikan saat lebaran. Sejatinya angpao lebaran tidak diharuskan, tapi masyarakat bersikukuh dan meyakini bahwa membahagiakan anak kecil atau kerabat bisa melipatgandakan pahalanya.
*) Ketua Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Sumenep

