Image Slider

Katib Syuriah NU Giliraja Ajak Tingkatkan Ketakwaan kepada Allah

Giliraja, NU Online Sumenep

Bulan suci Ramadlan 1442 Hijriyah sudah berlalu. Organisasi kemasyarakatan besar Islam Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah satu suara beserta pemerintah bersepakat bahwa Hari Raya Idul Fitri 1442 H. dilaksanakan pada Kamis (13/05/2021).

Dalam rangka merayakan hari raya Idul Fitri, mushalla dan masjid di Giliraja mengumandangkan takbir kemenangan dan menggelar Shalat Id. Tak ketinggalan juga, pengurus Takmir Masjid Nurul Huda menyelenggarakan hal serupa yang berpusat di Masjid Nurul Huda Dusun Billa Karamat Desa Banbaru Giliraja Sumenep.

Setelah Shalat Id usai, K. Abd. Halim Al-A’la menyampaikan khutbahnya di hadapan jamaah. Dalam kesempatan itu, ia mengajak kepada seluruh jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dan terus berbenah setelah berpuasa selama ramadlan.

“Karena suksesnya puasa akan tampak pada 11 bulan berikutnya. Tentu saja sambil berharap ditakdirkan berjumpa pada ramadlan yang akan datang,” urai Kiai Halim.

Ketua Yayasan Pesantren Nurul Huda Banbaru Giliraja itu mengungkapkan rasa kesedihannya atas berlalunya ramadlan, bulan yang penuh berkah dan kemuliaan yang tidak didapatkan pada bulan lainnya. Kiai Halim mengisahkan tentang langit dan bumi yang menangis saat malam terakhir bulan ramadlan, hal itu ia kutip dari hadits Nabi Muhammad SAW.

“Langit dan bumi saja merasa sedih, menangis dan menganggap berlalunya ramadlan sebagai satu musibah besar bagi umat Nabi Muhammad. Apalagi kita sebagai umatnya, seharusnya melebihi dari kesedihan langit dan bumi. Ramadlan adalah bulan spesial untuk fokus ibadah, beramal baik yang pahalanya dilipatgandakan, dan tidak kita dapatkan pada selain ramadlan. Sedangkan kita selalu lalai, tidak memanfaatkan momentum ramadlan sebaik mungkin. Padahal tidak ada jaminan bahwa kita akan sampai pada ramadlan yang akan datang. Bisa saja ini adalah ramadlan terakhir untuk kita”, ujar Kiai Halim.

Lebih lanjut, Katib Syuriah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Giliraja itu mengulas tentang idul fitri yang semestinya dirayakan penuh kegembiraan oleh seluruh umat Islam. Namun, nyatanya dan itu pasti, banyak saudara muslim yang sakit dan sedang berada dalam keadaan sedih, bahkan dalam situasi mencekam karena suasana perang.

“Kita patut bersyukur bisa merayakan Idul Fitri dengan damai, dalam suasana gembira. Coba perhatikan saudara atau tetangga kita yang sedang sakit, mereka yang sedang di tanah rantau tidak bisa mudik. Lihatlah mereka saudara kita di Palestina, mereka diganggu, diserang saat shalat tarawih, dan bisa saja hari raya Idul Fitri umat Islam di Palestina tetap dalam suasana kepedihan dan berurai air mata,” tambahnya.

Di akhir khutbahnya, Kiai Halim berharap besar, semoga ibadah puasa dan amal baik lainnya selama ramadlan diterima oleh Allah SWT, serta dapat meningkatkan iman dan takwa kepada Allah. Pancaran iman dan taqwa bisa membuat semakin tekun beribadah, lebih bermanfaat kepada umat, mempererat tali persaudaraan dan memperbaiki akhlak dalam tatanan sosial bermasyarakat.

” Semoga kita tergolong orang yang kembali suci dan memperoleh kemenangan, muttaqin yang terbebas dari budak hawa nafsu. Semoga kita merdeka sebagai jati diri manusia dan hanya menghamba pada Allah. Minal Aidin wal Faizin,” ucapnya, memungkasi khutbahnya.

Editor: A. Habiburrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga