Image Slider

Bukan Bendera dan Lagu yang Kuhormati, Tapi Darah Para Pejuang

Belakangan, pernyataan Khalid Basalamah untuk tidak ikut menyanyikan lagu Indonesia Raya saat upacara bendera bagi anak sekolah menjadi perbincangan kontroversial menarik di dunia maya. Rasa nasionalisme semakin tipis karena penghargaan pada simbolnya semakin disoal.

Lagu Kebangsaan Indonesia dan
Bendera Merah Putih itu adalah simbol negara. Sulit negara dikenali, dibedakan, dihormati tanpa ada lagu kebangsaan dan simbol benderanya. Dulu saat peperangan, bendera dan lagu perjuangan digunakan untuk menjadi tanda keberadaan pejuang, menjadi desingan semangat menyatukan para pejuang kemerdekaan. Kini saat merdeka, bendera dan lagu kebangsaan hadir sebagai simbol eksistensi sebuah negara. Menghormati bendera berarti menghormati negara itu sendiri. Menyanyikan lagunya menjadi tanda kecintaan kita pada nilai patriotisme para pejuangnya.

Menghormati bendera adalah cara menyintai negara dan agama. Negara dan agama tak boleh dipisah. Ia berada dalam satu tarikan nafas. Jika menyintai agama maka harus menyintai negaranya pula. Hubbul wathan minal iman. Banyak orang makan dari negara, makan dari bumi Indonesia, tidur, bernafas, berusaha dari buminya, tapi menghormati bendera dan menyanyikan lagunya saja ogah. Dianggapnya itu sebuah kemusyrikan dan penyembahan.

Bagaimana sebenarnya posisi hukum menghormati bendera? Sejak awal hukum menghormati bendera sudah dibahas oleh ulama-ulama sepuh seperti. KH. Hamid Hasbullah kakaknya KH. Wahab Hasbullah (salah satu pendiri NU) ahli fiqih, juga dibahas KH. Bisri Sansuri serta para pendekar bahtsul masail pada zamannya. Beliau-beliau mengatakan bahwa hormat bendera tidak dapat dipahami sebagai bentuk penghormatan kepada fisik benderanya. Menghormati bendera adalah ekspresi rasa cinta dan hormat kepada apa yang terkandung di dalamnya.

Ulama berpendapat, bahwa menghormati bendera bukan menghormati zat bendera itu sendiri, tetapi lebih pada mengenang para pejuang yang telah mengorbankan darah dan air mata untuk kemerdekaan bangsa. Kita tahu kemerdekaan ini bukan hadiah tapi hasil perasan keringat, darah, tangis dan nyawa dari para pahlawan, yang disemangati dari simbol bendera dan heroisme lagu -lagu perjuangan.

Dalam konteks kajian fiqih, bentuk penghormatan kepada bendera sama sekali dinilai berbeda dengan penghormatan dalam arti penyembahan. Penghormatan bendera ini sama persis dengan kita menghormati orang alim, orang saleh, orang tua, dan orang-orang yang ramah. Mengapa menghormati guru boleh, menghormati bendera menjadi terlarang.

Sebuah hadis yang diceritakan Siti Aisyah Radiyallahu ‘Anha, mengatakan, “Aku melihat bagaimana Rasulullah SAW begitu luar biasa menghormati pamannya Sayyidina Abbas”.

Ibnu Hajar al-Atsqalani dalam Kitab Fathul Bari mengatakan bahwa Rasulullah SAW dalam sejumlah peperangan memberikan panji-panji bendera kepada setiap pemimpin kabilah. Di bawah panji itu mereka berperang membela keadilan dan kedaulatan.

Juga dalam banyak bahasan bahtsul masail disampaikan bahwa boleh menghormati bendera sebab disamakan dengan diperbolehkannya mencium peti (tabut) yang diletakkan di atas maqam para wali untuk diambil barokahnya.

Habib Luthfi dalam bahasan nasionalisme sering menyontohkan sebutir nasi diatas piring ada karena ada banyak tangan yang terlibat, maka nasi bukan soal butirannya tapi keringat banyak orang yang terlibat. Begitupun juga menghormati bendera, darah pejuanglah yang kita hormati, bukan selembar bendera merah putih yang berkibar.

Kita mengibarkan bendera bukan hanya saat upacara, bahkan saat pemasangan atap rumah baru, selembar bendera, padi, jagung, kelapa tetap dikibarkan di atas wuwung sebagai wujud rasa syukur kemerdekaan tanah air, simbol kebebasan dari keterbelengguan. Sebab merdeka kita bisa membangun. Bayangkan bangsa yang terjajah atau berkonflik, hari-harinya penuh ketakutan, bom dimana-mana sehingga ketentraman keluarga tidak tercapai. Alangkah indahnya bangsa yang merdeka.

Memahami kecintaan dibalik benda, ada terjemahan syair Arab kuno yang sangat menarik,
“Kususuri rumah-rumah Laila, kuciumi tembok ini dan tembok ini.Bukan suka kepada rumah yang menyenangkan hatiku, namun kecintaan kepada penghuninya (yang membuat hatiku meluapkan cinta).

Menciumi dinding rumah Laila bukanlah pengkultusan pada rumah si cantik Laila, tapi kecintaan pada penghuninya yang siang dan malam terus terbayang di pelupuk mata. Begitupun menghormati bendera atau menyanyikan sebuah lagu, bukan bendera itu yang kita hormati, tapi wajah dan darah para pejuang yang menggelegakkan kecintaan tiada tara.

Oleh : Zubairi El-Karim
Wakil Ketua PCNU Sumenep, Dosen Stidar Ganding dan Pegawai Kantor Kecamatan Pragaan.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga