Image Slider

Gus Aab Ingatkan Embrio Berdirinya NU untuk Kemajuan Organisasi

Batang-Batang, NU Online Sumenep

KH. Abdullah Syamsul Arifin berkesempatan mengisi tausiyah ke-NU-an pada momentum Halal Bi Halal dan Pelantikan Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Batang-Batang, pada Rabu (26/5/2021).

Kiai yang akrab disapa Gus Aab ini mengawali ceramahnya dengan mengingatkan kepada pengurus NU baik ditingkat Ranting maupun MWC yang baru saja usai dilantik bahwa NU adalah Jam’iyah Diniyah Islamiyah Ijtima’iyah yang selalu mencintai dan mengasih siapapun. Karenanya, keberadaan NU hingga hari ini tetap eksis di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

“Setiap desa, jumlah warganya ini ribuan. Saya yakin semuanya NU. Ya meskipun ada satu dua yang bukan. Tapi itu tidak seberapa pengaruhnya,” ungkap beliau.

Namun demikian, kuat basis NU di tengah-tengah masyarakat itu merupakan realitas sosial yang mengisyaratkan kepada setiap pengurusnya agar mampu dikelola dengan baik. Salah satunya dengan menguatkan solidaritas di internal kepengurusan untuk lebih progresif.

Oleh sebab itu, Kiai yang juga menjabat sebagai Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jember ini berpesan agar menjadikan setiap perbedaan yang ada di internal kepengurusan sebagai satu formasi yang bilamana dipadukan akan menjadi tatanan struktur yang baik.

“Dalam kepengurusan NU sudah biasa yang namanya perbedaan. Karena mereka berasal dari latarbelakang yang berbeda. Keahlian yang berbeda. Juga kompetensi yang berbeda. Maka tugas kita bersama untuk memadukannya dan mencarikan titik temu,” imbuhnya.

Bagi Gus Aab, adalah satu hal yang wajar bilamana dalam dinamika kepengurusan terjadi perbedaan pandangan dan pendapat. Tinggal bagaimana mengelola semua itu dengan baik sehingga menjadi satu aransemen irama kepengurusan yang indah.

Beliau mengambil satu contoh, yakni musik. Nada indah tercipta dari alat musik yang berbeda. Tidak mungkin alat musik dengan jenis yang sama akan menghasilkan aransemen irama atau nada yang indah. Sebab kepemimpinan di NU memang diwujudkan dalam bentuk kepemimpinan kolektif.

“Anasir yang berbeda adalah Rahmat dari Allah. Maklumi kekurangannya, maafkan kesalahannya, harga apa yang menjadi kontribusinya, sekecil apapun,” tegasnya.

Dengan begitu, menurut Gus Aab, sebuah tatanan kepengurusan NU baik di tingkat MWC maupun Ranting akan lebih kuat dan berintegritas.

Tidak hanya itu, Gus Aab juga menyampaikan bahwa menjadi pengurus NU harus memiliki sikap saling mencintai dan mengasihi antar sesama. Baik dengan internal kepengurusan maupun dengan masyarakat.

Jika sikap saling mencintai dan mengasihi itu mampu diterpakan maka, menurut beliau, dengan sendirinya akan tumbuh cara pandang yang selalu mengapresiasi, mensyukuri kelebihan, memaklumi kekurangan dan memaafkan kesalahan orang lain.

“Tidak mungkin acara besar yang dihadiri ribuan orang ini dapat terlaksana dengan baik tanpa dan kontribusi dan gotong royong antar sesama. Karenanya sekecil apapun kontribusi seseorang, harus dihargai,” tegasnya.

Sikap tersebut akan menjadi cikal bakal kuatnya ikatan persaudaraan dan persahabatan yang pada tahap berikutnya akan mampu mendorong kemajuan organisasi, khususnya di NU.

Lebih jauh, Gus Aab juga mengingatkan tentang embrio berdirinya NU yang harus direfleksikan dan diterapkan dalam kehidupan saat ini. Termasuk mewujudkan kemandirian ekonomi warga NU.

Hal itu menjadi sangat penting karena bilamana sektor ekonomi tidak kuat maka akan berpotensi terjerumus pada kekufuran. Mengutip dari Sabda Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Na’im:

كَادَ اْلفَقْرُ أَنْ يَكُوْنَ كُفْرًا

Artinya: “Kemiskinan itu dekat kepada kekufuran.”

“Ayo program nyata untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat untuk memperkuat aqidah kita tingkatkan. Utamanya dibidang ekonomi. Sebab hal ini menjadi pertaruhan bagi kita semua,” pintanya.

NU bukan hanya hadir dalam urusan-urusan amaliyah keagamaan saja. Seperti tahlilan, manakiban, shalawatan dan sebagainya. Tetapi juga harus hadir dalam setiap persoalan riil yang dihadapi masyarakat. Utamanya dalam bidang ekonomi.

“Jangan lupa, NU itu Jam’iyah Diniyah Islamiyah Ijtima’iyah. Jadi juga harus hadir di setiap persoalan kerakyatan,” pintanya.

Ada tiga embrio yang menjadi penyangga berdirinya NU. Pertama, Taswirul Afkar, sebuah organisasi yang berorientasi pada intelektual. Kedua, Nahdlatul Wathan, sebuah perkumpulan yang didirikan untuk menanamkan semangat patriotisme dan nasionalisme. Dan ketiga, Nahdlatul Tujjar yang bergerak di bidang penguatan ekonomi.

Tiga organisasi tersebut menjadi cikal bakal berdirinya NU. Dalam arti, keberadaan NU sejatinya mencakup tiga aspek, yakni dibidang keagamaan, nasionalisme dan penguatan ekonomi.

“Kuat agamanya, kuat nasionalismenya tapi kalau tidak ditopang dengan kekuatan ekonomi maka akan rapuh,” tandasnya.

Urusan keagamaan dan nasionalisme, menurut Gus Aab sudah selesai. Tinggal bagaimana kedua aspek itu dipadukan untuk menguatkan kemandirian ekonomi warga NU. Dengan begitu, eksistensi NU akan jauh lebih kuat.

“Basis NU di masyarakat sangat kuat. Jika hal itu diproyeksikan untuk menguatkan kemandirian ekonomi, manfaatnya tentu akan lebih besar,” imbuhnya.

Kegiatan-kegiatan di basis ranting seperti halnya Lailatul Ijtima’, selain diisi dengan ajian kitab, tawassul dan penyampaian keputusan hasil Bahtsul Masail, juga harus membahas tentang strategi pengembangan ekonomi.

Editor: A. Habiburrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga