Image Slider

BMKG Angkat Bicara Soal Potensi Gempa dan Tsunami di Sumenep, Ini Penjelasannya

Guluk-Guluk, NU Online Sumenep

Sebagaimana di kabarkan sebelumnya bahwa Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep meimnta klarifikasi langsung kepada pihak Stasiun Meteorologi Kelas III Kalianget Sumenep soal potensi gempa dan tsunami khususnya di Kabupaten Sumenep.

Dari hal itu, pada acara Bahtsul Masail Bulanan PCNU Sumenep di Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Guluk-Guluk tepatnya di Pondok Pesantren Mathla’un Najah Angsanah Bragung, Ahad (13/6/2021), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumenep berkesempatan untuk memberikan penjelasan mengenai potensi bencana alam yang meresahkan masyarakat itu.

Muhammad Faqih, Pengawas Lapangan BMKG Sumenep menuturkan berdasarkan hasil analisis lapangan sejak tahun 2009 sampai 2021, Kabupaten Sumenep sendiri pernah terjadi gempa sebanyak 107 kali, dengan rincian 95 kali tidak dirasakan dan 12 kali dirasakan. Sehingga potensi gempa dan tsunami di Kabupaten Sumenep benar adanya.

“Pada 2 April 2021 kemarin pimpinan pusat BMKG Dwikorita Karnawati mengadakan kunjungan ke Kalianget untuk memantau kesiapan pemerintah daerah kabupaten dalam menghadapi bencana tsunami,” ungkapnya.

Mantan Pengurus Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) PCNU Sumenep ini menambahkan bahwakunjungan BMKG Pusat ke Kalianget karena dalam perjalanan sejarah, di daerah tersebut pernah mengalami dua kali tsunami, tepatnya di pesisir selatan Sumenep. Pertama terjadi pada tahun 1843 dan yang kedua terjadi pada tahun 1889.

“Setelah pernyataan itu kami sampaikan, banyak media yang menghubungi kami menanyakan soal kejadian tersebut. Baik melalui telpon, WA (WhatsApp). Bahkan banyak yang tidak percaya,” imbuhnya.

Sehingga dari hal itu BMKG mengadakan pemodelan tentang gempa dengan kekuatan magnitude sekitar 7 SR. Jika kemudian terjadi gempa dengan kekuatan mendekati angkat & SR di sekitar perairan selatan Kalianget itu berpotensi terjadi tsunami setinggi tiga meter.

Sampai saat ini belum ada teknologi dari negara manapun di dunia yang bisa memperkirakan kapan akan terjadi gempa. Oleh sebab itu, Pria yang akrab disapa Faqih ini meminta kepada masyarakat pada umumnya dan warga NU pada khususnya untuk berupaya bagaiamana meminimalisir resiko bencana baik yang meyebabkan terjadinya gempa maupun tsunami.

“Sebagai langkah antisipatif kita perlu melakukan beberapa hal sebagai upaya meminimalisir resiko bencana yang bisa menyebabkan terjadinya gempa dan tsunami,” ujarnya.

Menaggapi hal itu, PCNU Sumenep telah melakukan koordinasi dengan berbagai struktur NU di tingkat bawah guna melakukan antisipasi dini bencana alam tersebut. Salah satunya dengan meminta kepada Majleis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) untuk menfungsikan Lembaga Penanggungalan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) dan menjadikan masjid sebagai pusat informasi kepada masyarakat.

Pewarta: Ibnu Abbas
Editor: A. Warits Rovi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga