Guluk-Guluk, NU Online Sumenep
Bencana alam yang menimpa Aceh pada 26 Desember 2004 silam menyisakan duka mendalam bagi segenap bangsa Indonesia. Tsunami akibat gempa dangkal di laut bermagnitudo 9,3 itu menelan korban jiwa sebanyak 167.000 orang.
Masyarakat Aceh yang wilayahnya masih bernama Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) merasakan betul kepedihan mendalam akibat kehilangan keluarga, kerabat, tetangga dan teman dekat.
Belajar dari pengalaman tersebut, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumenep mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk melakukan antisipasi dini salah satunya dengan meminimalisir resiko bencana yang bisa mengakibatkan terjadinya bencana maupun tsunami.
Hal ini disampaikan Muhammad Faqih, Pengawas Lapangan BMKG Sumenep saat menghadiri acara Bahtsul Masail Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep di Pondok Pesantren Mathla’un Najah Angsanah Bragung Guluk-Guluk pada Ahad, (13/6/2021) kemarin.
“Antisipasi ini berdasarkan pengamatan pada kasus gempa Aceh pada Desember 2004. Sekarang kita belajar dari pengalaman yang sudah terjadi, maka kita harus bisa mempersiapkan diri kalau terjadi gempa dan tsunami,” ujarnya.
Sebelum gempa dan tsunami terjadi, masyarakat diimbau untuk mengenal terlebih dahulu apa yang disebut gempa. Sederhananya, gempa adalah pergeseran atau pergerakan lempeng bumi.
“Kemudian kenali lingkungan tempat dimana kita tinggal. Kita harus tau dimana tempat yang datarannya paling tinggi di sekitar kita. Kita juga harus tau jalan tercepat untuk mencapai lokasi tersebut guna melindungi diri. Ini antisipasi kalau ada gempa atau tsunami,” pintanya.
Pria yang saat ini tinggal di Desa Kacongan Kabupaten Sumenep ini juga meminta agar segala perabot rumah menempel kuat ke dinding dan lantai. Hal itu untuk mengantisipasi ketika terjadi gempa, barang-barang tersebut tidak mudah berjatuhan dan menimbulkan bahaya kepada penghuninya. Seperti lemari, meja, dan sebagainya.
“Menyimpan bahan yang mudah terbakar pada tempat yang tidak mudah pecah agar terhindar dari bahaya kebakara. Selalu mematikan air, listrik dan gas kalau tidak dipakai,” imbuhnya.
Kemudian untuk mencegah keruntuhan material akibat gempa, mantan Pengurus Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) PCNU Sumenep ini meminta untuk selalu mengecek kestabilan barang yang digantung. Seperti lampu, kipas, dan lain-lain. Sebab khawatir ketika ada gempa barang yang digantung itu menimpa yang ada di bawahnya.
Sementara persiapan peralatan yang harus disiapkan kalau terjadi gempa antara lain: obat-obatan, lampu senter, alat komunikasi, makanan suplemen serta air mineral.
Pada saat terjadi gempa, jika berada di area tertutup atau rumah, masyarakat diimbau untuk melindungi kepala dengan cara bersembunyi. Sebisa mungkin segera keluar dari rumah.
“Jika berada di area terbuka kita harus menghindar dari bangunan yang ada disekitarnya. Seperti gedung, pohon, tiang listrik. Takut kejatuhan barang berat tersebut,” pintanya.
Apabila gempa terjadi saat berkendara, baik motor, mobil dan sejenisnya, diharapkan keluar dan turun menjauh dari kendaraan tersebut, kemudian memperhatikan keretakan tanah dan menghindar.
“Jika ada di pantai menjauh dari pantai dan lari ke tempat yang lebih tinggi. Khawatir ada tsunami. Hindari daerah yang mungkin terjadi longsor,” terangnya.
Kemudian setelah terjadi gempa dan masih berada di dalam ruangan, diharapkan keluar dengan hati-hati. Memastikan apakah keluarga atau teman ada yang terluka atau tidak dan periksa lingkungan sekitar apakah terjadi kebakaran, konsleting listrik, dan pipa air pecah atau tidak.
“Jangan masuk bangunan yang sudah terkena dampak gempa sebelum kita yakin bangunan tersebut kokoh. Juga jangan mendekati bangunan yang sudah rusak, karena khawatir terjadi gempa susulan,” harapnya.
Lebih jauh, Faqih meminta agar selalu meng-update informasi soal gempa dan bumi hanya dari pihak BMKG. Atau melalui kanal media sosial yang sudah resmi dan terverifikasi dengan cara download aplikasi di PlayStore ‘WRS-BMKG’ (https://play.google.com/store/apps/details?id=id.bmkg.wrsbmkg).
“Di situ nanti akan muncul deteksi gempa yang setiap saat terjadi dan dipantau oleh BMKG,” pungkasunya.
Pewarta: Ibnu Abbas
Editor: A. Habiburrahman

