Image Slider

Nahdliyin; KH. M. Hasyim Asy’ari dan Literasi

Oleh: Abdul Warits

Potret Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari dan Literasi

Gagasan penting KH M Hasyim Asy’ari yang paling membekas di kalangan Nahdliyin adalah membangun ekonomi kerakyatan, yang ketika itu dimaksudkan dalam rangka menggiring manusia ke jalan yang benar. Selain itu, sikapnya yang paling kontroversial adalah membangun pesantren Tebuireng di tengah-tengah sarang pemabuk, pelacur, dan perampok, yang hal ini menjadi perdebatan alot di kalangan keluarganya sendiri, terutama kakeknya.

Tidak banyak kalangan pesantren yang mengetahui bahwa tulis menulis dalam dunia pesantren di Indonesia pertama kali barangkali digemakan oleh Kiai Hasyim Asy’ari, Tebuireng, Jombang. Rasanya tidak berlebihan jika kiai yang menginisiasi berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) ini dalam perjuangannya di dunia tulis menulis disamakan dengan Pramodya Ananta Toer (Pram) yang menjadikan menulis sebagai jalan perlawanan, memberantas ketidakadilan, dan memberikan nilai-nilai kritik sosial.

Barangkali, perbedaannya hanya dalam persoalan lawan dan waktu. Hadratussyaikh menulis sebagai perlawanan kepada Belanda dan pendidikan umat ketika itu, sementara Pramoedya Ananta Toer menulis sebagai perlawanan terhadap orde baru yang sangat kejam. Dan persamaannya terletak pada sisi kemanusiaannya. Pram menulis karya terbesarnya di penjara, sedangkan Kiai Hasyim Asy’ari menulis karya terbesarnya di penjara suci (baca: pesantren), dari pukul 10.00 pagi hingga menjelang Dzuhur (sebagaimana diceritakan oleh Aguk Irawan dalam novel Biografinya).
KH M Hasyim Asyari menjadikan dunia tulis menulis sebagai bentuk perlawanan terhadap fitnah yang dilancarkan oleh Belanda kepada dirinya dan organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Aguk Irawan dalam novel Penakluk Badai menceritakan, bahwa Kiai Hasyim Asy’ari sangat gemar menulis dalam rangka melawan fitnah yang sedang digencarkan oleh Belanda. Latar belakang beliau memiliki semangat perjuangan dalam menulis disebabkan karena seorang sarjana Belanda yang pada masa itu pernah menulis di koran internasional dan mengkerdilkan agama Islam dan dunia pesantren. Bahkan, gagasan Mbah Hasyim ketika menerapkan belajar bahasa Belanda di Pesantren Tebuireng ditentang oleh ayahnya sendiri, Kiai Asy’ari. Tetapi, Mbah Hasyim tetap kokoh berdiri dengan pandangan keilmuan yang luas, visioner, serta mampu membaca segala kemungkinan masa depan agama dan bangsanya.

Pesantren dan Kesadaran Menulis

Pesantren sudah tentu mengenal dunia tulis menulis dalam kehidupan kesehariannya. Akar historis dunia tulis menulis dalam Islam bisa dilacak dalam sejarah pembukuan Alquran, perpustakaan Baitul Hikmah, dan karya-karya kitab para ulama yang masih dipelajari oleh kalangan santri hingga kini, termasuk kitab yang dikarang oleh KH M Hasyim Asy’ari.

Sebut saja karangannya kitab At-Tanbihat al-Wajibat yang merupakan kitab yang merespon isu sosial kemasyarakatan tentang Maulid Nabi ketika itu. Dengan karangan ini, justru Mbah Hasyim mendapatkan fitnah sebagai orang wahabi karena tidak membolehkan maulid nabi. Padahal, KH M Hasyim Asy’ari bukan mengharamkan tradisi maulid, tetapi tercampurnya kemungkaran di dalam tradisi maulid ketika itu. Sehingga beliau mengkritiknya lewat tulisan untuk mendidik dan berdakwah dengan etika yang baik kepada masyarakat.

KH M Hasyim Asy’ari tidak hanya berdakwah dari pesantren ke pesantren, lintas desa, gerilya, pidato, ataupun mengajar santri. Tetapi juga dimanifestasikan ke dalam bentuk tulisan terang-terangan yang seringkali diterbitkan di Swara Nahdlatoel Oelama. Indikasi ini tentu menunjukkan bahwa kalangan Nahdliyin harus memiliki media publikasi yang dapat menampung gerakan dalam menangkal radikalisme, propaganda, dan lain sebagainya. Agar bisa membendung dan bisa bersaing dalam Ghazwatul Fikr atau perang pemikiran di jagad media hari ini.

Masyarakat pesantren harus mengambil alih media untuk berdakwah dan membela apapun yang dapat menghancurkan agama dan negara. Kalangan nahdliyin harus sadar bahwa kritis dalam merespon isu sosial itu sangat penting dilakukan sebagai bentuk membumikan dakwah secara halus kepada masyarakat.

*) Redaktur NU Online Sumenep, Alumnus PP Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep – Praktisi Ruqyah JRA Sumenep

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga