Batuan, NU Online Sumenep
Setelah shalat Jum’at (20/11/2020) di kantor PCNU Sumenep pengurus Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Sumenep dan jajaran Crew NU Online Sumenep menggelar silaturrahim dengan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep KH A Pandji Taufiq.
Dalam arahannya K. Pandji memuji gestur gaya kerja cepat LTN NU sudah melahirkan ragam pemberitaan dan informasi yang sudah bisa dikonsumsi masyarakat, padahal pengurusnya belum dilantik.
“Karakter NU memang yang penting bekerja, bukan seremonialnya”, ujarnya menyatakan gembira karena crew media NU sudah bergerak meski belum dilantik.
Alumni Annuqayah ini menyatakan bahwa pemberitaan kegiatan oleh LTNNU adalah ranah baru di lingkungan PCNU. Jiwa NU itu banyak bekerja, banyak berbuat, tidak usah ngomong.
Bahkan, kata beliau kalau beramal di NU jangan beritahu yang lain agar tidak riya’. Itu tradisi yang menghujam di relung hati terdalam warga NU. NU Sumenep sejalan era digital yang serba cepat kini memasuki gestur pemikiran baru, bahwa sesuatu yang baik perlu dimaklumatka, agar yang satu titik bisa menjadi sepuluh atau seratus titik.
“Berpikir untuk jadi inspirasi menjadi ribuan titik kebaikan itulah maka pada gilirannya kehadiran media online NU menjadi sesuatu yang khusus bahkan sangat penting”, tuturnya makin dalam.
Selain itu beliau katakan bahwa lembaga menjadi mercusuar ilmu dan akhlaq, bahkan warga NU lebih mendahulukan akhlaq daripada ilmu. Ilmu dan akhlaq pada saatnya harus berjalan seiring dan seimbang. Ia berakhlaq karena berilmu, atau berilmu untuk berakhlaq dengan baik.
Media NU, tambahnya menjadi halaman depan untuk memoles wajah rumah NU.
“Media NU adalah telinga, mata, dan lisannya PCNU Sumenep”, kata beliau menambahkan.
Sebagai wajah depannya NU maka beliau ingin agar gestur kalimat, diksi, gaya penyampaian Media NU bukan hanya menjadi tujuan pemberitaan, tapi menjadi ciri khas NU kedepannya.
“Orang membaca media online NU langsung faham dari dikainya bahwa itu media NU, karena ada unsur pembeda yang unik dan menjadi ciri khas media NU”, pintanya dijawab senyum dan anggukan kepala pengurus LTN NU yang hadir.
Tak hanya itu, Ketua NU yang sudah menjabat tiga periode ini menginginkan menu rubrikasi NU lengkap dan beragam, termasuk rubrik humor.
“Rubrik humor itu ciri khas NU,” sargasnya.
Bahkan jajaran ruasa’ sekalipun dulu setiap bertemu selalu ada jok-jok segar yang menginspirasi dan menyikapi hidup dengan santai.
“Ciri khas NU itu santai tapi serius, menyelesaikan masalah dengan humor”, tambahnya.
Konten berita yang beliau inginkan juga bukan berita biasa, melainkan berita yang unik dan menginspirasi banyak orang.
“Di Keles Ambunten ada Kiyai Sakit. Warga NU bergerak bersama membantu penderitaanya. Gerakan yang mengispirasi banyak orang seperti itu di pemberitaaan harus diangkat besar besar”, pintanya.
Beliau juga mengharap agar webnya NU Sumenep menghindari pemberitaan hoax dan tak seimbang. Karenanya maka nara sumber harus beragam.
Selain itu para pendahulu NU yang punya karya lebih di tengah masyarakat agar dapat diorbit profilnya, tentu dengan koordinasi dengan PCNU.
Selain itu, kata beliau ada permintaan PBNU agar ditelusuri sejarahnya pohon Sawu tertua di Sumenep. Yang tertua dan punya nilai sejarah, baik yang tumbuh di pusat pemerintahan maupun di pondok pesantren agar dilacak cerita sejarahnya.
Sawu itu, sambung beliau konon jadi pertanda adanya jaringan perjuangan kemerdekaan Pangeran Diponegoro.
Beliau mengakui bahwa Sumenep memiliki banyak sumber budaya yang perlu terus dilacak jejak sejarahnya agar makin menginspirasi untuk generasi yang akan datang.
Pewarta: Ach Subairi Karim
Editor : Ibnu Abbas

