Kota, NU Online Sumenep
Innalillahi wainna ilaihi raajiun. Kabar duka kembali menyelimuti Nahdliyin. Kali ini, salah seorang kader terbaik Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sumenep, Fawait tutup usia, pada Kamis (15/7/2021) di Puskesmas Giligenting, Sumenep.
Kepergian Wakil Sekretaris PC GP Ansor Sumenep ini membuat pilu rekan seperjuangannya. Lantaran, almarhum sangat dikenal dengan sikapnya yang penyabar. Selain itu juga memiliki loyalitas tinggi dalam mengabdikan dirinya di Nahdlatul Ulama.
Sikap lain yang dikagumi dari sosok pemuda ulet ini adalah kemandiriannya. Bagaimana tidak, ibunya sendiri sudah lama menghadap Allah SWT. Saat menganyam pendidikan di bangku kuliah pun, tepatnya di semester enam, Fawait menjalani hidup dengan biaya sendiri.
M. Muhri, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor Jawa Timur menceritakan, bahwa Fawait ini merupakan sosok pemuda yang ulet dan pekerja keras. Karena memang sejak awal ditinggal oleh orangtuanya.
“Beliau (Fawait) ini ulet ya, pekerja keras juga, karena memang sejak awal sudah ditinggal orangtuanya. Hidupnya di kampus sejak semester enam sudah biaya sendiri. Usaha sendiri. Sampe pulang ke Sumenep,” ungkap pria yang akrab disapa Cak Muhri itu kepada NU Online Sumenep, Jum’at (16/7/2021).
Almarhum merupakan alumni Universitas Islam Jember (UIJ). Selama berstatus sebagai mahasiswa, ia memilih untuk berproses menjadi kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), yang kemudian hal itu menjadi cikal bakal dirinya aktif di PC GP Ansor Sumenep.
Saat Fawait purna dari tugas kesarjanaannya, ia pulang ke Sumenep. Kemudian oleh salah seorang senior PMII Surabaya, Muslim, dititipkan kepada M. Muhri, yang kala itu masih menjabat sebagai Ketua PC GP Ansor Sumenep untuk dikader.
“Oleh Cak Muslim, senior PMII Surabaya asal Ambunten yang tinggal di Jember, almarhum dititipkan ke saya. Alhamdulillah, tanpa mengharapkan apa-apa, almarhum ini bersama-sama dengan kita berproses di Ansor,” tutur Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sumenep itu.
Sebagai pemuda yang berjiwa pekerja keras, lanjut M. Muhri, semakin lama ia semakin bersemangat mengabdi di GP Ansor. Hal itu dilihat saat Turba Kaderisasi ke berbagai daerah baik di daratan maupun kepulauan, selalu menyempatkan hadir. Hingga sebelum beliau wafat, masih dipercaya untuk mengemban amanah sebagai Tim Instruktur PC GP Ansor Sumenep.
“Ia semakin semangat di Ansor, sampai saya ajak kemana-mana motoran berduaan dia pasti mau. Orangnya luar biasa pengabdiannya. Selalu ada waktu untuk Ansor. Setiap kali saja ajak pasti mau dia,” kenangnya.
Selain sikap ulet dan pekerja keras yang melekat pada pribadi Fawait ini, menurut Muhammad Fathollah, Wakil Sekretaris PC GP Ansor Sumenep, juga penyabar. Hal itu terlihat saat almarhum seringkali diledek karena masih menjomlo, alias belum memiliki pasangan hidup, oleh sesama kerabatnya. Terutama di Ansor.
“Dia juga penyabar. Kadang jadi bahan bully-an teman-teman karena hanya dia di Ansor yang masih jomlo, belum berkeluarga. Tapi orangnya tetap sabar meski diledekin ini itu. Gak marah,” ungkap Pria yang saat ini juga menjabat sebagai Pengurus Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Sumenep.
Bicara soal pengabdian dan dedikasi, menurut Fathollah, almarhum sangat hati-hati dalam menjalankan amanah. Bahkan tidak mudab meninggalkan tanggungjawab.
“Orangnya sabar dan berdedikasi dalam tugas. Kalau dipasrahi tugas dia bertanggung jawab,” imbuhnya kepada NU Online Sumenep melalui pesan WhatsApp, Jum’at (16/6/2021).
Fathollah juga menceritakan bahwa sebelum wafat almarhum pernah menyampaikan satu pesan yang masih melekat di hati para sahabatnya.
“Satu hal yang perlu diketuk-tularkan dari semangat dia mengabdi; mompong odik, bileh pole ngabdi ka Ansor dan NU (Selagi masih hidup, kapan lagi mau ngabdi di Ansor dan NU),” pungkasnya.
Semua pihak utamanya rekan sejawat, mengaku sangat merasa kehilangan. Rasa panik dan cemas tidak dapat dibendung saat mendengar kabar kepergiannya. Lantaran, almarhum hanya sakit dalam kurun waktu satu minggu, kemudian meninggal. Meski sebelumnya, dikabarkan almarhum sempat menderita penyakit asma.
Editor: A. Habiburrahman

